Budaya / SeniCerpen

Sayap-Sayap Layangan – Cerpen Frida Dewi Febiyanti

Sayap-Sayap Layangan. (ILUSTRASI: NNC)
Sayap-Sayap Layangan. (ILUSTRASI: NNC)

Cerpen: Frida Dewi Febiyanti*

“Kau ingin menyerah?” Tak ada jawaban dari mulutnya. Bibirnya tetap diam, bahkan aku tidak yakin ia menanggapi kehadiran dan celotehanku sejak 20 menit lalu. Tak masalah sebenarnya, mau ia menganggapku ada ataupun tidak. Yang aku khawatirkan adalah kondisinya yang bagaikan raga tanpa jiwa, dan tubuhnya yang makin kurus saja. Mungkin aku bisa sedikit maklum dengan kondisinya, bagaimanapun juga ia baru saja ditinggal mati oleh salah satu anggota keluarganya. Dan tak pantas rasanya bagiku untuk mengatakan “Aku tau bagaimana perasaanmu”, Karena akubelum pernah mengalami apa yang sedang dia alami. Namun sebagai temannya, bukankah wajar jika aku ingin ia kembali seperti dulu? mengembalikan semangatnya lagi, mengembalikan binar pada matanya, mengembalikan gairahnya untuk terus melangkahkan kaki mesti tanpa kehadiran orang terkasih.

“Nah, apa kau mau mendengarkan sebuah cerita dariku?” Masih tidak ada tanggapan darinya, tapi aku akan tetap bercerita. Karena meskipun dia menolak, telinganya akan tetap mendengarkan. Sejenak kualihkan pandanganku darinya, melihat dunia luar dari balik jendela kaca diseberang tempatnya terbaring. Hari yang cerah, warna langit yang sama dengan hari itu, hari dimana kisah yang akan aku ceritakan bermula.

***

Siang itu cukup terik, dengan beirsiknya kelakar para bocah di seberang lapangan tanpa rumput hijau yang menghiasinya. Di sisi lainnya, seorang bocah laki-laki bertubuh gempal sedang duduk pada sebuah bongkahan kayu besar. Dia melihat teman-temannya bermain. Sesekali bocah itu tersenyum, lalu terbahak tanpa henti. Namun ada sesuatu yang terselip pada tawanya yang lepas. Pada wajah bulatnya, ia seperti mengoreskan seberkas rasa iri yang berusaha ia sembunyikan. Matanya mengerjap sambil terus mengayunkan kakinya, kemudian bocah itu pergi.

Tujuan bocah itu adalah pondok kecil dengan atap jerami di pinggiran sawah, tempat anduangnya berada setiap harinyaketika berjaga di sawah. Anduangadalah paggilan pada kakek dalam adat minangkabau. Bocah itu meringkuk di sebelah kaki anduang. Ketika anduang bertanya, dia hanya diam meringkuk, membenamkan wajahnya pada sarung kumuh milik anduang yang menjadi alas duduk. Hening. Bocah itu mengangkat wajahnya menghadap anduang yang sedang sibuk pada sebilah bambu di tangan.

“Sedang apa Anduang?” Bocah itu duduk, menyenderkan kepalanya pada pundak anduangnya. Menyimak lebih seksama apa yang sedang kakek tuanya lakukan. Anduang tersenyum.

***

Bocah itu menerima layangannya dengan hati sumringah. Mengingat itu adalah layangan pertamanya, ia bertekat akan membawanya bermain.

Bocah laki-laki itu berdiri terdiam menghadap hamparan tanah lapang di depannya. Kakinya yang telanjang ia usap-usapkan pada tanah basah nan becek di bawah. Dia menatap lurus tiang yang mulai berkarat di ujung lapangan tempat teman-temannya berkumpul. Pada tangannya terdapat sehelai benang kusut yang ia tautkan pada layangan yang tergeletak di tanah. Ia berhitung “satu, dua, tiga…” lalu melesat, berlari mengangkat tangannya tinggi –menerbangkan layangannya.

Tawa bocah itu meledak saat bertemu dengan kawan-kawannya. Mereka berlari memutari lapangan sebelum keluar lintasan menuju jalan setapak berkrikil di samping lapangan. Jalan setapak itu berada di antara perkebunan jeruk nipis, agak licin dengan rumput liar yang mulai meninggi di pinggirannya. Bocah itu tetap berlari meskipun nafasnya sudah menderu kencang. Dan yang terjadi, layangannya terarak menyusuri jalan yang dilewati pemiliknya. Beberapa krikil menembus sayap-sayap layangan itu. Moncongnya terus saja terpantul ke tanah membuat tali ikatannya hampir terlepas. Bocah itu berhenti tertawa saat mengetahui apa yang terjadi pada layangan kesayangannya. Ia berhenti untuk mengambil layangannya yang sudah rusak kemudian memeluknya sambil menangis. Dia berteriak kencang sembari menghentak-hentakan kakinya pada tanah berkrikil di jalanan itu sebelum berguling membuat seluruh bajunya kotor terkena lupur.

***

“kau tau, meskipun bocah itu menangis sekeras yang dia bisa, meskipun dia berguling sampai ke rumahnya, dia tidak akan bisa mengembalikan saat dia masih memiliki layangan pertamanya atau memperbaiki layangannya. Dengan dia menangis sejadinya, berguling selama apapun, dia tidak akan mengulang apa yang sudah terjadi. Itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Tidak mengembalikan apapun” kataku, padangannya menyiratkan tanya pada raut wajah yang ia tunjukan.

“bagaimana kau bisa sedetail itu menceritakannya padaku?” akhirnya ia membuka mulut besinya itu. Aku hanya tersenyum.

Jika mengingat masa itu, aku sangat menyesal. Aku merasa sedih sekaligus bersalah karena tidak bisa menjaga dengan baik barang pemberian aduang. Terlebih lagi itu adalah layangan pertamaku. Seharusnya aku terlebih dahulu belajar sebelum benar-benar memainkannya. Namun bukankah yang sudah terjadi memang di takdirkan untuk terjadi. Penyesalan tidak akan mengembalikan sesuatu, termasuk layangan itu. Satu-satunya hal yang ditimbulkan rasa sesal adalah kerugian bagi diri sendiri.

Baca Juga:

Simak di sini: Puisi Indonesia

Frida Dewi Febiyanti, lahir di Banjarnegara pada 2 Februari 2000. Anak pertama dari dua bersaudara. Alamat rumah di Desa Tribuana RT 03/01 Kec. Punggelan Kab. Banjarnegara. Sedang menembuh jenjang S1 di IAIN Purwokerto bidang study Bimbingan Konseling Islam. Alamat rumah di desa Tribuana, kecamatan Punggelan, kabupaten Banjarnegara. Tergabung dalam forum Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) di IAIN Purwokerto.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Related Posts

1 of 514