Connect with us

Artikel

Sandal Jepit dan Kaos Oblong Jokowi, Serta Mega Proyek Rp 3,2 T GBK

Published

on

Presiden Jokowi langsung menjajal kereta Bandara, usai peresmian di Stasiun KA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/1) pagi. Foto: JAY/Humas/Setkab

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Presiden yang sederhana. Begitulah image yang selalu disematkan kepada Joko Widodo selama ini. Hal tersebut dibuktikan dengan hobinya memakai kaos oblong dan sandal jepit serta cukup memberikan sepeda kepada rakyatnya saat blusukan.

Namun, ada yang kontras dalam diri Jokowi, citra yang selama ini dia tunjukan kepada rakyat jelata soal kesederhanaan berbeda 180 derajat dengan ambisinya terkait proyek-proyek besar selama ia menjabat. Begitu ambisius, megah dan mewah bahkan terkesan boros. Contohnya, dalam mega proyek yang hingga saat ini masih berjalan yakni renovasi Stadion Gelora Bung Karno.

Jokowi, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) dalam kurun waktu tiga tahun 2016, 2017, dan 2018 menjalankan mega proyek renovasi stadion Gelora Bung Karno (GBK). Adapun yang bertanggung jawab sebagai penyedia adalah satuan kerja pengembangan penataan bangunan dan lingkungan strategis.

Berikut kami rincikan 27 proyek terkait renovasi Stadion GBK: Tahun anggaran 2016 terdapat 9 proyek yang dilaksanakan. Dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp 50.509.170.000. Anggaran yang dihabiskan sebesar Rp 44.088.589.875.

Proyek yang dijalankan dalam 2 tahun anggaran 2016 dan 2017 sebanyak 7 proyek. dari anggaran yang disiapkan sebesar Rp 1.964.451.420.070 dihabiskan sebesar Rp 1.731.631.982.199.

Proyek yang dijalankan di tahun anggaran 2017 sejumlah 5 proyek dengan anggaran sebesar Rp 701.832.150.000 dan yang dihabiskan mencapai Rp 579.159.240.100.

Proyek yang dilaksanakan dua tahun anggaran 2017 dan 2018 ada 2 proyek dengan anggaran sebesar Rp 249.400.000.000 dan anggaran yang didihabiskan sebesar Rp 248.048.690.000.

Hingga saat ini, total proyek yang sudah dijalankan terkait Renovasi Gelora Bung Karno sebanyak 23 proyek, dari total anggaran yang disiapkan pemerintah sebesar Rp 2.966.192.740.070 Anggaran yang dihabiskan mencapai Rp2.602.928.502.174.

Di tahun 2018 sendiri masih terdapat 4 proyek yang ditargetkan selesai sebelum pagelaran Asian Games dengan anggaran sebesar Rp 320 miliar. Secara keseluruhan anggaran yang disiapkan pemerintah melalui Kemen PUPR untuk renovasi GBK sebesar Rp 3.286.192.740.070 dan diperkirakan anggaran yang dihabiskan mencapai Rp 2.9 triliun lebih.

Terkait proyek renovasi GBK, Center for Budget Analysis (CBA) memiliki beberapa catatan:
Pertama dari 23 proyek yang sudah dijalankan dilaksanakan oleh 19 perusahaan. Adapun perusahaan yang paling besar mendapatkan jatah proyek adalah PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. Perusahaan pelat merah ini menjalankan 3 proyek besar dengan nilai kontrak mencapai Rp 1.155.706.290.100. Kemudian PT. Waskita Karya (Persero)Tbk menjalankan 2 proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp 597.683.242.000 serta PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk menjalankan 2 proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp 340.567.588.999. Sisanya dilaksanakan oleh oleh 16 perusahaan masing-masing 1 proyek.

Kedua, dari 23 proyek yang sudah dijalankan CBA menemukan potensi kebocoran sebesar Rp20.044.399.000. Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa proyek dengan nilai kontrak yang terlalu mahal. Contohnya untuk proyek Renovasi Stadion Madya, Lapangan Softball, Lapangan Baseball dan Gedung Basket yang dilaksanakan oleh PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Anggaran yang dihabiskan sebesar Rp 212 miliar lebih terlalu mahal, padahal ada tawaran yang lebih ekonomis dari beberapa perusahaan lainnya namun digugurkan Kemen PUPR.

Terakhir, CBA menilai proyek renovasi GBK selain megah dan mewah ternyata berpotensi bocor. Tidak tanggung-tanggung nilainya mencapai Rp20 miliar lebih, melihat angka ini sandal jepit dan kaos oblong serta sepeda-nya Jokowi rasanya bak buih di lautan. Potensi kebocoran tersebut juga harus menjadi perhatian KPK, agar lebih ketat mengawasi jalannya proyek renovasi GBK.

Oleh: Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA)

Advertisement

Terpopuler