Connect with us

Budaya / Seni

Sampah dan Pasir Pantai Logending

Published

on

Perempuan yang menikmati Pantai Logending. Foto: Dok. indah (IG)/ Istimewa

Sampah dan Pasir Pantai Logending, Puisi Irna Novia Damayanti

Pantai Logending

seorang penyair sibuk menyimpan perahu layar
ke dalam puisinya yang
semakin mengecil menuju tengah laut
sekecil harapan ketika berbagai peristiwa
datang mengantarkan airmata
menjauhkan pada rancangan mimpi

mungkin deburan ombaklah yang
paling lihai menawarkan ketentraman
mengerti bagaimana melarutkan lelah setelah
kata-kata bersengketa
ketika luka kembali turun tangan
memerangi pikiran

langit biru, pasir putih dan pecahan kerang yang
menggelikan kaki telanjang
ikut memberi hibur kecil pada mata

Loading...

siang itu pantai menjadi susunan kata dan rasa yang
tidak pernah hilang dalam kenang

Purbalingga, Januari 2017

Pasir

pasir dalam tangan cinta
semakin digenggam semakin berjatuhan
entah kemana
menjadi luka-luka yang
berceceran dalam relung jiwa
empunya

Rajawana, Juli 2016

Sampah

sampah-sampah berserakan di pinggir sungai
hanyut bersama arusnya
menyisakan resah pada waktu pejalan
tatap mata aku dan kamu hanya
mengantar kata-kata penghardikan

gelisah mulai merangkak pada rumah-rumah terdekat
setelah tanah berkali-kali dikikis
setiap hujan turun dan menambah volume airnya

mungkin kata-kata aku dan kamu
sudah menjadi sampah
berserakan dalam ingatan
dan membebani kata-kata itu sendiri
dengan airmata

akh, betapa sampah menyita banyak waktu
dimana kita harus mengisi diam dengan
ribuan pertanyaan yang harus di jawab sendiri

dan kesendirian berkali berpulang
kepada kesadaran
kepada muasal kesalahan
yang pada akhirnya hanya berujung pada penyesalan

tapi sampah tetap saja berserakan
seperti doa-doa pada sujud
di tanah airku

Purwanegara, 24 Januari 2017

Irna Novia Damayanti

Irna Novia Damayanti

Irna Novia Damayanti. Lahir di Purbalingga, 14 September 1992. Seorang Mahasiswa Pascasarjana IAIN Purwokerto Jurusan Ilmu Pendidikan Dasar Islam.  Aktif di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena dan Gubuk Kecil. Seorang Santri Di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

Baca Juga:  Kepada yang Kalah, Biarlah dalam Diri Aku Berdiam - Puisi Sabaruddin Firdaus

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler