Connect with us

Politik

Saling Hina Antar Demokrat dan Gerindra Buruk Bagi Pendidikan Politik Masyarakat

Published

on

almisbat, saling hina, demokrat, gerindra, andi arief, arief poyuono, cawapres prabowo, jenderal kardus, jenderal baper, sandiaga uno, kubu oposisi, koalisi demokrat-gerindra, nusantaranews

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat) Teddy Wibisana. (Foto: Eddy Santry/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat) Teddy Wibisana sangat menyayangkan tudingan dan saling hina antara petinggi Partai Demokrat dengan Partai Gerindra. Teddy menilai, tak seharusnya kekerasan verbal dilakukan apalagi dipertontonkan di depan umum.

Sebagaimana diketahui, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menuding Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menerima sejumlah uang mahar dari Sandiaga Uno agar kedua Partai tersebut mengusung Sandi sebagai cawapres mendampingi Prabowo.

Dugaan adanya mahar dari Sandiaga tersebut menurut Andi adalah salah satu penyebab kandasnya koalisi Gerindra-Demokrat yang tengah dibangun. Sedangkan dalam koalisi tersebut Demokrat menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai pendamping Prabowo. Sehingga apabila Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno karena adanya mahar Sandiaga ke PAN dan PKS hal itu adalah pengingkaran terhadap kesepakatan koalisi.

Melalui akun Twitter pribadinya, Andi meluapkan kemarahanya dan kekesalanya tersebut. Dalam kicauanya, Andi bahkan mengatakan bahwa Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bukan sebagai strong leader melainkan sebagai chiken. Bahkan mantan Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) tersebut memanggil Prabowo dengan sebutan Jenderal Kardus.

“Untuk kepentingan publik, saya berharap mereka menghentikan kekerasan verbal, saling memaki dengan panggilan-panggilan Jenderal Kardus, Jenderal Baper atau Boncel karena itu bentuk pendidikan yang buruk bagi masyarakat,” ujar Teddy, Rabu (8/8).

Teddy justru mempertanyakan konsistensi dari para oposisi yang belakangan ini keras melontarkan kecaman dan tudingan kepada Jokowi seolah-olah menganjurkan kekerasan dalam pidatonya di depan relawan pada 4 Agustus 2018 lalu di Sentul.

Menurut Teddy, ketika sebuah pihak mengeluarkan kecaman atas perbuatan dan perkataan yang dilakukan pihak lain, maka menurut Teddy, pihak yang mengecam harus konsisten dengan sikapnya. Dan karena oposisi mengecam Jokowi karena menganggap ucapan Jokowi sebagai bagian ajakan kekerasan, seharusnya, menurut Teddy, Andi Arief dan para oposan lainya harus mampu menjauhi sikap dan ucapan yang bernuansa kekerasan.

“Dengan menghilangkan konteks serta memenggalnya, mereka memelintir pidato Jokowi, seolah pidato Jokowi menganjurkan kekerasan. Kini mereka justru saling mengeluarkan kekerasan verbal dan saling menghina di hadapan publik,” katanya.

Pewarta: Eddy Santry
Editor: Banyu Asqalani

Terpopuler