Connect with us

Politik

Saling Ejek di Medsos, Jokowi: Masyarakat Malas Verifikasi Informasi yang Beredar

Published

on

Presiden Joko Widodo (tengah) sasat menghadiri Munas VIII LDII di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/11)/Foto: dok. Humas LDII
Presiden Joko Widodo (tengah) sasat menghadiri Munas VIII LDII di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/11)/Foto: dok. Humas LDII

NUSANTARANEWS.CO – Etika masyarakat Indonesia dalam menggunakan media sosial (medsos) semakin luntur. Bahkan, selama ini masyarakat tidak menyadari ada selipan isu tertentu yang diduga memiliki tujuan menimbulkan konflik horizontal.

Demikian pandangan Presiden Joko Widodo terhadap fenomena terkini yang terjadi di medsos, khususnya terkait demo 4 November dan isu turunannya. Hal ini disampaikan kepada para peserta Musyawarah Nasional VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/11).

“Coba lihat, sekarang saling menghujat, saling mengejek, saling memaki, dan saling menjelekkan. Fenomena itu terjadi karena masyarakat malas memverifikasi informasi yang beredar di media sosial,” kata Jokowi.

Menurut klaim Jokowi, kecenderungan seperti itu sudah ia lihat sejak setahun yang lalu. Dimana waktui itu, pihaknya meminta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membuat pedoman etik untuk pengguna internet. “Hal yang berkaitan dengan media sosial ini juga masalah sumber daya manusia,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Guna meningkatkan kecerdasan masyarakan dalam mengunakan medsos, Jokowi mengajak seluruh elemen masyarakat meniru cara cerdas berinternet yang diaplikasikan LDII. Lembaga dakwah itu baru saja meluncurkan laman pikub.com, sebuah situs perdagangan berbasis transaksi elektronik syariah pertama di Indonesia.

Seperti diketahui, medos seringkali menjadi ajang diskusi bahkan rujukan sejumlah masyarakat terhadap sebuah isu. Contohnya, jelang unjuk rasa menentang dugaan penodaan agama, Jumat pekan lalu misalnya, berbagai tagar muncul di media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Terkait hal tersebut, ternyata Kepolisian Daerah Metro Jaya mengklaim menemukan puluhan akun di media sosial bernada provokatif. Pernyataan atau gambar yang diunggah mengandung ujaran kebencian dan SARA. (kiana/red-02)

Loading...

Terpopuler