Saleh SE: Jadikan Idul Fitri Sebagai Momen Mempererat Keharmonisan di Perbatasan

Saleh SE: Jadikan Idul Fitri sebagai momen mempererat keharmonisan di perbatasan
Saleh SE: Jadikan Idul Fitri sebagai momen mempererat keharmonisan di perbatasan/Foto Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nunukan, Saleh, SE.

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah sudah diambang mata. Semua umat islam di seluruh pelosok dunia serasa tidak sabar menantikan hari Kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Idul Fitri, merupakan moment celebration bagi manusia, merupakan hari kemenangan atas nafsu. Idul Fitri adalah awal refleksi dari proses panjang pensucian diri (tazkiyatunnafs), dalam durasi satu bulan penuh.

“Namun hendaknya Idul Fitri jangan hanya menjadi ritual tahunan yang apabila bulan Syawal telah berlalu, kita justru kembali pada perilaku sebelumnya,” tutur Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nunukan, Saleh, SE kepada awak media, Kamis (28/4).

Menurut Saleh, Idul Fitri adalah sarana muhasabah dan instropeksi sehingga sikap dan tingkah laku dapat semakin baik.

“Lebaran itu bukan sekedar kumpul dan makan-makan. Tetapi bagaimana mulai mengimpelementasikan ibadah puasa selama Ramadhan,” ujar Saleh.

Lebih lanjut, Saleh menuturkan bahwa ungkapan ‘mohon maaf lahir batin’ merupakan sebuah kata-kata yang sangat besar nilainya. Ia menghawatirkan apabila hal tersebut tak dijalankan sesuasi ungkapan, maka sedikit demi sedikit maksud Idul Fitri sebagai awal kesucian akan sirna.

Karena memohon maaf lahir batin adalah menghilangkan segala dendam, dengki, swasangka, dan segala kebencian di hati.

“Ketika kita sudah berani meminta maaf, kita juga harus mampu mengaktualisasikanya. Dengan kata lain, saat kita sudah saling memaafkan, maka sudah tidak ada lagi kebencian. Karena yang ada adalah rasa saling menyayangi, saling mengasihi dan tidak ada lagi kesombongan karena kita sama-sama merasa bersalah,” tandas Perwira dengan tanda pangkat 2 Melati yang terkenal akrab dengan masyarakat tersebut.

Selain itu, apabila Idul Fitri diisi dengan hal negatif, hal tersebut sama saja dengan menghinakan sebuah waktu yang sangat disucikan dalam ajaran islam. Untuk itu ia mengajak masyarakat agar memaknai secara benar tentang Idul Fitri sehingga nilai spiritualnya akan merasuk dalam tingkah laku sehari-hari yang sudah pasti demi kebaikan bersama.

Saleh mengingatkan, merayakan Kemenangan bukan berarti bebas melakukan hal yang dilarang selama Ramadhan. Sebab jika hal itu yang menajadi acuan, maka tak ubahnya bagai seorang tahahanan atau yang lebih miris lagi, menurutnya, manusia yang menganggap Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah nafsu dikekang selama Ramadhan dan saat lebaran dianggap boleh melaukan apa saja, maka dalam fase tersebut sikapnya tak lebih baik dari seekor hewan peliharaan yang tak tahu kenapa ia dikekang kemudian dilepaskan.

Lebih penting lagi, ungkap Saleh, Nunukan adalah daerah yang masyarakatnya terdiri dari multi etnis dan multi agama. Untuk itu Saleh menyerukan kepada semua umat islam di Kabupaten Nunukan agar dapat menjadikan Idul Fitri sebagai hikmah untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

“Tidak sekedar berharap, tapi saya mengajak agar kita semu dapat menjadikan momen Idul Fitri untuk memperkokoh relasi kemanusiaan dan terbangun kesadaran kolektif, bahwa kebinekaan yang bertebaran di Nunukan yang multietnis, multibudaya, multi agama, dan berbagai kepercayaan lokal lainnya,” tandasnya.

Saleh mengungkapkan bahwa dalam takbir yang menyambut Idul Fitri mengandung prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah fundamental dan aktivitas manusia. Serta, mengandung berbagai makna kesatuan.

Pertama, kesatuan wujud, yaitu semua makhluk termasuk manusia kendati berbeda-beda diciptakan di bawah kendali Allah SWT. Kedua, kesatuan kemanusiaan, di mana manusia berasal dari tanah dan dari adam sehingga semua harus saling menghormati.

“Jika ada manusia yang menebar teror dan menempuh bukan jalan kedamaian maka kemanusiaan harus mencegahnya,” ungkapnya.

Ketiga, lanjutnya, kesatuan bangsa kendali beda suku, politik. Oleh karena itu, sudah seharusnya tidak ada istilah mayoritas dan minoritas sebab semua sama dalam konteks negara.

Politisi Partai Demokrat itu juga mengingatkan bahwa kendati saat ini kasus covid -19 di Kabupaten Nunukan relatif menurun, namun ia mewanti -wanti kepada masyarakat agar tidak mengbaikan protokol kesehatan saat merayakan Lebaran.

“Terahir, atas nama pribadi dan lembaga, saya mengucapakan Selamat Merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriyah, sebagai manusia tentu saya tak lepas dari dosa, alpa dan khilaf. Untuk itu, kepada semua mayarakat Nunukan, dengan segala ketulusan hati, saya mohon agar dapat memaafkan segala salah dan khilaf saya,” pungkasnya. (Red)

Pewarta: Eddy Santry