Hukum  

Salahkah Polisi yang Menangkap Teroris?

NUSANTARANEWS.CO – Salah satu peristiwa penting di penghujung tahun 2016 adalah keberhasilan kepolisian membekuk dan menangkap terorisme di Bekasi dan Solo. Kendati tindakan kepolisian ini oleh sebagian pihak dinilai pengalihan isu kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama, namun aksi Polri patut diapresiasi. Sebab, dengan demikian Polri sudah melakukan tindakan pengamanan sejak dini dan antisipatif.

Namun begitu, sebagian kalangan bersikeras kalau tindakan Polri ini tak lain merupakan upaya pengalihan isu itu sendiri karena peristiwa penangkapan para teroris sungguh mendadak, tepat usai Basuki mulai menjalani prosesi persidangan setelah didemo ribuan umat Islam yang merasa terusik keyakinannya akibat keseleo lidah Basuki tempo hari.

“Ironis memang polisi yang berhasil menangkap pelaku terorisme menjadi ‘bulan-bulanan’. Padahal pemikiran ekstrem para pelaku terorisme adalah mati di medan laga (dengan menjadi pengantin), ini kan sesat dan radikal. Tentu tidak adil jika teroris yang sengaja ‘bunuh diri’ demi meraih ‘surga’ yang mereka yakini, namun polisi yang harus menanggungnya,” jelas pengamat intelijen Susaningtyas ketika dimintai pendapatnya terkait maraknya aksi penangkapan terorisme belakangan ini.

Menurut dia, perdebatan semacam ini sebenarnya tidak perlu karena hanya menguras energi dan kontra-produktif. Karena hal yang paling penting adalah keamanan, ketenangan dan ketenteraman masyarakat dari aksi-aksi teror yang bisa saja datang secara tiba-tiba dan tak terduga. Untuk itu diperlukan tindakan sejak dini.

“Kita justru tergiring terlalu jauh, melenceng dari substansi persoalan sebenarnya. Diskursus ini seakan justru menjadi bunker perlindungan bagi para teroris. Jangankan sampai ke akar-akarnya, baru sampai ranting saja orang telah ribut. Inilah yang justru menyebabkan gelora terorisme tak kunjung padam,” papar dia.

Sekadar informasi, Minggu (18/12) Densus 88 Antiteror kembali menangkap dua orang terduga teroris di Solo dengan inisial TS dan YS. Keduanya ditangkap di lokasi berbeda, begitu pula waktunya. Menurut informasi, keduanya merupakan jaringan Bahrunnaim yang kini diketahui tengah berada di Suriah dan bergabung dengan militan ISIS. (Sego/Er)

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Tidak Ada akar Dalam Islam tentang Terorisme