Puisi

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov

rasul gamzatov, sajak-sajak rasul, sajak rasul gamzativ, bahasa rusia, ladinata jabarti, nusantaranews
Rasul Gamzatovich Gamzatov. (Foto: adebiportal.kz)

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov
Penerjemah dari Bahasa Rusia: Ladinata Jabarti

Burung-burung Bangau

Kadang kala terasa bagiku, bahwa serdadu-serdadu,
Yang tidak pernah kembali dari ladang-ladang pertempuran berdarah,
Entah pada suatu kapan bukan dibaringkan ke dalam bumi,
Tetapi mereka berubah menjadi kawanan burung bangau berwarna putih.

Burung-burung bangau tersebut sampai waktu kini sejak masa yang jauh itu
Berterbangan dan menyampaikan suaranya kepada kita.
Bukan lantaran itu-kah begitu kerap dan lara
Kita terdiam, seraya memandang-mandang langit?

Pada hari ini, di kala senja mengejar malam,
Aku melihat, bagaimana burung-burung bangau di tengah kabut
Terbang dengan susun-banjar yang pasti,
Bagaimana mereka mengembara seperti galibnya manusia di ladang-ladang.

Burung-burung bangau itu terbang dan menempuh perjalanan yang jauh
Dan mereka memanggil-manggil nama seseorang.
Bukan karena itu-kah bahasa Avar semenjak berabad-abad yang lalu
Serupa dengan teriakan burung-burung bangau?

Terbang, terbang melintas langit sebarisan baji yang kelelahan –
Terbang di tengah kabut pada penghujung hari,
Dan di dalam susun-banjar itu ada ruang kecil –
Bolehlah jadi, itu adalah tempat bagiku!

Bakal datang hari dan dengan kawanan burung-burung bangau itu
Aku akan berlayar di dalam kabut kelabu serupa,
Dan dari balik langit dengan bahasa para burung, aku memanggil-manggil
Kalian semua, yang telah aku tinggalkan di atas permukaan bumi.

 

Kau – Sajak Pertamaku

Kepadamu aku kembali jatuh hati dan terpaku…
Yang demikian itu tidak bakalan terjadi – demikiankah yang kau ujarkan?
Tetapi pada setiap kedatanganku, tampak bagiku
Paris itu penuh misteri, magis dan selalu baru.

Begitulah yang terjadi. Kau hidup, kau hidup di dalam keberkahan sinar.
Musim semi sedang terjadi – dan seakan buat pertama kalinya
Kau merasakan, betapa belianya angin
Dan kisah tidak konsisten dari butiran salju yang meleleh merupakan sesuatu yang baru.

Buat pertama kalinya aku menuliskan sajak-sajak –
Meski aku menulis sajak sudah sedemikian lama.
Biarkanlah begitu banyak kegembiraan yang meriangkan,
Tetapi aku mengingat hanya sajak terakhir – satu sajak saja.

Begitulah yang terjadi…Tidak ada yang surut, atau pun yang membusuk
Yang dikenal oleh gairah, yang dilahirkan lagi dan lagi.
Kau – sajak pertamaku
Dan cinta pertama, dan cinta yang tidak bakal pernah mati.

Tidak Ada yang Lebih Indah

Hidup itu tidak dapat dikira. Kita semua ada di dalam kekuasaannya.
Kita bersungut kepada kehidupan dan menyerapahinya.
Semakin rumit hidup, semakin berbahaya –
Semakin jadi putus asa kita mencintainya.

Baca Juga:  Inilah Sejarah Yang Tidak Boleh Dilupakan Oleh Kita Semua

Aku melangkah di jalan yang tidaklah mudah,
Lubang-lubang, kubangan-kubangan – hanya, aku, bertahanlah!
Tetapi tidak ada seorang pun yang memikirkan, sesungguhnya,
Mengenai sesuatu pun, yang lebih indah, dibandingkan kehidupan.

 

Cinta, yang Datang Kepadaku Pada Musim Semi Itu

Tahun-tahun berlaluan, dengan mengambil dan memberi,
Kadang – melalui hati secara terang-terangan, kadang dengan jalan memutar,
Dan jangan menutup lembaran-lembaran kalender dan
Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

Segalanya berubah – kadang mimpi, kadang waktu.
Segalanya berubah – kampungku dan bumi raya.
Segalanya berubah. Hanya satu yang tidak berubah
Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

Ke manakah badai telah membawa kalian, kawan-kawanku?
Masih belum begitu lama juga kalian mengadakan pesta denganku.
Kini aku melihat satu-satunya kawan –
Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

Baiklah, aku akan tunduk kepada tahun-tahun yang mendatang,
Akan aku berikan segalanya kepada mereka – kemilaunya siang dan sinarnya malam.
Hanyalah satu– biarkan orang-orang tidak memintanya! – yang tidak bakal aku berikan:
Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Dagestan

Manakala aku, yang berpergian ke banyak negara,
Dan kelelahan, kembali dari jalan, pulang ke rumah,
Dagestan bertanya, seraya membungkuk di atasku:
“Tidak adakah pelosok jauh, yang membuatmu jatuh hati?”

Aku pun menaiki gunung dan dari ketinggian itu,
Setelah menghela nafas dalam-dalam, kepadanya aku jawab:
“Tidaklah sedikit pelosok yang aku lihat, tetapi kau
Sebagaimana dulu memang tempat yang paling dicintai di muka bumi.”

Aku, bisa jadi, memang jarang bersumpah kepadamu dalam soal cinta,
Mencintai bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bersumpah juga bukan sesuatu yang baru,
Aku mencintai dengan diam-diam, lantaran aku waswas:
Kata-kata yang diulang ratusan kali bakalan memudar.

Dan jika kepadamu, setiap anak laki-laki dari tempat ini
Seraya berteriak, seperti seorang bentara, akan bersumpah dalam soal cinta,
Maka batu-batu karang milikmu akan merasa jemu
Baik mendengar, maupun menjawab gema di dalam kejauhan.

Ketika kau tenggelam di dalam airmata dan darah,
Anak-anak lelakimu, yang sedikit berujar,
Pergi ke kematian, dan dengan sumpah diabdikannya perasaan cinta.
Terdengar tembang hebat dari bilah-bilah pisau belati.

Baca Juga:  Inilah Sejarah Yang Tidak Boleh Dilupakan Oleh Kita Semua

Dan setelahnya, ketika pertempuran mereda,
Kepadamu, wahai Dagestan, di dalam cinta sejati
Anak-anakmu yang tidak banyak bicara bersumpah
Dengan beliung yang dipukul-pukul dan sabit yang mendencing.

Selama berabad-abad kau mengajarkan semua orang dan aku
Untuk bekerja dan hidup tidak dengan berisik, tetapi berani,
Kau mengajarkan, bahwasanya kata-kata lebih berharga dibandingkan kuda,
Dan orang-orang gunung tidak akan memasangkan pelana tanpa urusan.

Dan bagaimanapun juga, setelah kembali kepadamu dari tempat-tempat yang asing,
Dari kota-kota yang jauh, baik yang riuh bicara maupun yang penuh akal,
Aku masih saja kesulitan untuk berdiam, manakala mendengarkan suara-suara
Dari ricikanmu yang menembang dan suara gunung-gunungmu yang bermartabat.

 

Santa Clara

Sampai pagi hari di boulevard aku berjalan-jalan,
Aku masih belum semuanya melihat Santa Clara
Barangkali, Santa Clara dari dongengan kuno –
Kota dengan penamaan yang demikian halus?

Semuanya aku ulangi dengan lembut: Santa Clara.
Dan aku memanggil dengan segala harap: Santa Clara.
Dan aku melirih dengan lara: Santa Clara.
Dan aku berdiri di dalam diam: Santa Clara.

Siapatah yang mendirikan sebagai kehormatan bagi perempuan kecintaannya
Kota indah yang tak tertiru ini?
Siapatah yang memberikan hadiah kepada pengantin perempuannya
Kota ini – sebagai satu dongengan, kota ini – sebagai satu tembang?

Aku mendengar, di kejauhan terdengar suara gitar.
Kepadamu aku akui, Santa Clara:
Hidupku ini indah dan kaya
Dengan nama-nama, yang sakral bagi hati.

Itu adalah bunda – kau dengar, Santa Clara
Itu adalah anak perempuan – o, lebih tenanglah, Santa Clara
Dan saudara perempuanku di kampung tua.
Dan istriku, ah, Santa Clara!

Kalau saja aku mampu membikin keajaiban –
Aku bakal dirikan kota-kota di mana pun
Kota-kota di seberang sungai, di balik gunung-gunung
Dan aku menamainya dengan nama-nama yang indah.

Kalau saja setiap kota ditahbiskan
Dengan nama-nama perempuan yang sangat luar biasa,
Orang-orang akan dapat tidur dengan tenang
Dan perseteruan dan perang akan menghilang.

Semua orang akan mengulang pada tiap jamnya
Nama-nama kawan perempuan yang indah –
Serupa, seperti di dalam kesunyian boulevard-mu
Dan sampai pagi hari aku ulang-ulang: Santa Clara…

 

 

Rasul Gamzatovich Gamzatov (1923-2003) dilahirkan di desa Tsada, distrik Khunzakhsky, Dagestan, di dalam keluarga sastrawan Gamzat Tsadasa. Ayahnya tersebut merupakan seorang guru dan mentor pertamanya di dalam seni sajak. Sajak pertama Rasul Gamzatov ditulis ketika dia berumur sebelas tahun.Setelah lulus dari sekolah setempat, Rasul Gamzatov masuk ke sekolah pedagogi. Kemudian dia menjadi seorang guru, tetapi tidak begitu lama dan beberapa kali dia mengubah profesi: pernah menjadi asisten sutradara di teater keliling Avar, koresponden di surat kabar Bolshevik Mountains, dan bekerja di radio. Pada tahun 1943 Gamzatov mempublikasikan kumpulan puisi pertamanya di dalam bahasa Avar, Fiery Love dan Burning Hate. Pada tahun 1945-1950 Gamzatov belajar di The Maxim Gorky Literature Institute. Setelah menamatkan pendidikannya, Rasul Gamzatov pada tahun 1951 menjadi Chairman of the Union of Writers of Dagestan, tempat dia mengabdi sampai akhir hayatnya pada tahun 2003. Karya-karya ternama Gamzatov, antara lain The Older Brother (1952), Dagestani Spring (1955), Miner (1958), My Heart is in The Hills (1959), Two Shawls, Letters (1963), novel liris My Dagestan (1967-1971), Rosary of Years (1968), By The Hearth (1978), Island of Women (1983), dan Wheel of Life (1987).

Baca Juga:  Inilah Sejarah Yang Tidak Boleh Dilupakan Oleh Kita Semua

Pada tahun 1952 Gamzatov dihadiahi the State Stalin Prize untuk karya kumpulan puisinya The Year of My Birth, tahun 1963 – The Lenin Prize untuk karyanya High Star, dan tahun 1981 – The International Botev Prize, suatu penghargaan yang didasarkan kepada nama sastrawan ternama Bulgaria dan juga seorang tokoh Revolusioner: Hristo Botev. Monumen Gamzatov, sebagai suatu penghargaan yang tinggi dari pemerintah Rusia dan orang-orang Dagestan, diresmikan pada 5 Juli 2013 di Yauzsky Boulevard, Moskow. Monumen tersebut didirikan untuk merayakan 90 tahun kelahiran Rasul Gamzatov. Sangatlah mungkin, Rasul Gamzatov merupakan satu-satunya sastrawan yang paling dikenal, yang menulis di dalam bahasa Avar atau Avarik, yakni bahasa yang digunakan, terutamanya, di bagian barat dan selatan Republik Kaukasus-Rusia di Dagestan, daerah Balaken, Zaqatala di barat laut Azerbaijan. Penutur bahasa ini diperkirakan hanya sekitar 762.000 orang dan UNESCO mengklasifikasikan bahasa Avar ini sebagai bahasa yang rentan terhadap kepunahan. Sumber: http://galeribukujakarta.com

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3,049