Connect with us

Puisi

Sajak-sajak Gany Fitriani

Published

on

mengambil hati, malamku dingin, puisi, puisi nida aisya, kumpulan puisi, puisi indonesia, puisi nusantara, nusantara news, nusantaranews

Mengambil Hati, Malamku Dingin. (Foto: Ilustrasi/Shutterstock)

Sajak-sajak Gany Fitriani

 

Bahasa Cinta

Lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari dikali delapan belas
Pelita darimu mengarahkanku pada puluh macam sinaran mentari
Kejernihan hati yang dimiliki untuk merasakan sejuknya angin buaian
Serta lisan untuk berucap

Di antara ribuan ucap yang tersebar di seantero negeri
Mengerucut menjadi lingkar darat di tengah laut
Terombang ambing dibuai angin barat dan timur
Yang lisannya beda, namun bunyinya hampir sama

Di sini tetaplah di sini
Tak berubah, meski kancah mulai merambah
Merubah keaslian daerah,
Meski budaya metropolitan mulai menjamah

Bahasa cinta ini senantiasa terpatri
Dalam hati pribumi kota mendoan ini
Yang tak ingin menutupi
Kenyataan dengan bahasa puisi

Purwokerto, 13 November 2018

Kenang Pahlawan

Lengang kurasa, ketika memasuki ruangan itu
Pijakan kaki terdengar jelas dalam hati
Menggetarkan jiwa yang terbius
Pada jerit angan masa kecil

Perlahan aku menaiki tangga, untuk
Menyaksikan sepenggal potret juang
Seorang jenderal yang sedang berperang

Pikirku melayang pada cerita sang guru
Tentang manusia yang tak ragu menyerukan kebebasan
Pribumi yang pikirnya teracuni
Akibat kekuasaan koloni

Terimakasih pada Sang Sutradara yang
Menciptakan peran pada tokoh sang pengabdi bumi
Yang tak tertawan pada keegoisan diri
Yang pahat rupanya dapat kukenang
Di museum ini

Purwokerto, 13 November 2018

Tajin

Sebelum beras menjadi nasi
Aromanya selalu menggugah seleraku
Kala pulang, kaulah yang pertama kali kutuju
Tak ada yang lebih indah selain menikmatimu
Tak ada waktu yang sia-sia, saat kita dapat berjumpa

Kau yang diperkenalkan padaku saat
Pagi mulai menjumpai
Mengenalkanku pada kesederhanaan dalam cita rasamu
Meski tak semanis susu
Kaulah yang menggambarkan sosok Ibu
Kala jarak mulai memburu

Baca Juga:  KPI DKI Jakarta Kampanyekan Penonton Cerdas, Siaran Berkualitas

Purwokerto, 23 November 2018

 

Yang Mulai Mengering

Sekarang kau tak nampak seperti langitku yang dulu
Meski angin berdesir menerbangkan sayap-sayap cinta
Kasih ini mulai meninggalkannya, terbang
Bersama burung-burung di angkasa
Menyisakan cerita dalam selembar daun kering
Yang mulai tersapu angin

Terombang ambing di tengah udara
Kemudian jatuh dalam pelukan bumi
Membenamkan wajahnya dalam tanah yang tandus
Berkerikil tajam
Terinjak perlahan oleh
Alas kaki manusia
Dan mulai melupakan kenangan

Kau yang terbias dalam jendela percintaan
Yang kukenang dalam puisi hujan
Kunanti dalam peluk awan
Menunggu mentari kembali bersinar
Dalam naungan langit biru

Kini
Apa kabar rindu
Yang mulai terkikis, sebab
Mata tak lagi saling beradu
Sapa tak akan mampu mematahkan
Kebisuan yang tercipta, meski
Waktu senantiasa mempertemukan kita
Seperti kuas yang takkan terpisah
Dari kanvasnya

Purwokerto, 29 November 2018

Bel

Aku malas ketika kau mulai memperdengarkan suaramu yang
Memekakkan telinga, memaksa mataku untuk terbuka
Pukul delapan selepas Isya adalah
Waktu yang tepat untuk memejam mata

Namun kau tak terima
Hingga meneriakkannya lebih nyaring lagi
Membuatku tak bisa bermain dalam dunia mimpi
Membangkitkan tubuh yang mulai ringkih
Meminta mata untuk mengantarnya lagi
Dalam gerbang imaji

Untuk ketiga kalinya kau berteriak sangat nyaring
Hingga mataku benar-benar terbuka
Hatiku kecut dan jantung mulai bekerja lebih cepat
Saat itu ingatan pun melayang kembali

Awal perjumpaan kita di pondok ini
Bukan hanya sekedar tempat tinggal untuk berdiam diri
Bukan pula tempat bersembunyi dari sengatan matahari
Kemudian membalasnya dengan rasa malas
Kemudian memori menunjukkan data
Memperlihatkanku ketika pertama berjumpa Kyai

Sekali lagi kudengar suaramu
Aku benar-benar sadar
Bergegas wudhu dan mengambil kitab
Memenuhi tanggung jawab
Untuk mengaji

Baca Juga:  Ny Tutik Herman Hidayat Salurkan bantuan Ketua Umum Persit KCK

Purwokerto, 29 November 2018

Tentang Kitab Salahudin

Empat belas hari aku menyelesaikan kisahmu
Dalam lembar limaratus
Ditemani melodi dari kekasih hati yang
Bernada lembut, menghanyutkanku dalam
Mengeja kalimat demi kalimat yang mendikteku pada sejarah

Perjalanan sekian abad yang lalu memperkenalkanku pada sultan yang gagah berani
Merebut kembali kota suci yang dibumbui intrik cinta yang menarik
Tentang permaisuri sultan yang kemudian patah hati ditinggal selir cantik
Kemudian melenyapkannya karena hatinya dikoyak, hingga darah memenuhi rongga kasihnya, dan hatipun mulai membatu

Kisah perebutan kota itu menyisakan hujan dalam sudut mataku, yang
Perlahan kueja kata demi kata yang menuntunku terhanyut dalam masa lalu
al-Kadisya nama kota suci yang tersebut dalam kitab sejarah itu
Bukan kota biasa
Ia diperlakukan tak senonoh oleh orang-orang Franj
Yang menyingkirkan kebenaran dan
Menghinakan yang tak sepaham

Dalam memperjuangkan kembalinya al-Kadisya
Dengan jalan peperangan yang menguji keimanan para emir
Ketika kekuatan mulai melemah
Sultan tetap gigih, meski ia dilanda letih

Ia letakkan kepercayaannya pada emir kesayangannya
Yang berhubungan darah melalui adiknya
Untuk memenangkan pertempuran
Dan, ketika peperangan hampir berakhir
Usai pulai hidup emir Taki al-Din
Kemenakan sultan yang sangat dipercayanya
Yang digadang-gadang untuk menjadi Sultan berikutnya, namun
Emir yang pemberani itu harus
Menyisakan pilu dalam hati sang paman
Menyisakan pula awan mendung dalam sudut mata
Sang penikmat sejarah ini

Hingga sampai waktu telah mencerahkan kemenangan sultan
Dengan kembalinya al-Kadisya pada kaum semestinya
Berakhir pula kisah hidup pemimpin yang arif
Dalam keinginannya mengunjungi Mekkah yang
Tak sempat ditunaikannya
Dan lebih dulu menghadap
Pada Sang Pemilik Hidup

Purwokerto, 29 November 2018

 

Baca Juga:  Dipimpin Gubernur Terpilih Khofifah, Demokrat Jatim Kawal Program Nawa Bakti Satya

Gany Fitriani, lahir di Banyumas, 31 Desember 1999. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Purwokerto. Ia bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto.

Loading...

Terpopuler