Rusia Mulai Tebar Isu untuk Serang Amerika Serikat

NUSANTARANEWS.CO – Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Alexander Emelyanov menuduh sistem pertahanan rudal Amerika Serikat memprovokasi negara-negara lain untuk membangun kemampuan rudal mereka sehingga terjadinya perlombaan pembuatan senjata baru.

“Rusia yakin bahwa penyebaran sistem pertahanan rudal AS yang tidak terbatas merupakan tantangan besar bagi keamanan global, sebuah dorongan untuk perlombaan senjata dan ancaman bagi kemanusiaan,” kata Emelyanov alam briefing gabungan Rusia-China mengenai isu-isu pertahanan rudal yang diadakan di sela-sela Komite Pertama Majelis Umum PBB seperti dikutip Sputnik, Jumat (13/10/2017).

Seperti diwartakan, sistem pertahanan rudal AS yang dikenal dengan THAAD dikerahkan ke perbatasan Korea menyusul seringnya Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik yang ditembakkan ke arah Samudera Pasifik.

Emelyanov menuding, pengerahan THAAD di negara-negara sekutu AS membawa risiko signifikan terhadap kedaulatan dan keamanan negara-negara tersebut serta masa depan ekologis mereka sehingga membuat warga negara menjadi sandera Pentagon.

Juru bicara tersebut percaya bahwa sistem pertahanan rudal AS merupakan ancaman bagi potensi penangkalan Rusia karena jumlah hulu ledak yang dikerahkan oleh Amerika Serikat melampaui jumlah yang bisa diandalkan potensi nuklir Rusia.

“Menurut perkiraan kami, pada tahun 2022 jumlah sistem pertahanan rudal AS akan mencapai lebih dari 1.000, dan pada akhirnya akan melampaui jumlah hulu ledak yang ditempatkan di rudal antarbenua Rusia. Sejumlah rudal semacam itu memiliki bahaya terhadap potensi penangkal Rusia, terutama mengingat kerja konstan dalam meningkatkan sistem rudal hulu ledak rudal,” kata Emelyanov.

Baca Juga:  AS Resah dengan Kemajuan Persenjataan Rusia

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia menekankan bahwa stasiun radar AS mencakup hampir seluruh wilayah Rusia dan memblokir hampir semua lintasan penerbangan untuk rudal balistik Rusia menuju Amerika Serikat. Emelyanov menambahkan bahwa stasiun radar ini mampu melacak penerbangan blok tempur rudal balistik antar benua dan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, serta menyediakan stasiun radar sistem anti-rudal dengan informasi mengenai target.

Selain itu, dia mencatat bahwa sistem Standard Missile 3 (SM-3) yang dimodernisasi AS akan mampu untuk mencegat rudal balistik pada lintasan awal.

“Para ahli Rusia telah menyimpulkan bahwa sistem rudal ‘Standar-3’ dari modifikasi 2A, yang diharapkan akan digunakan pada tahun 2018, akan dapat mencegat rudal balistik strategis tidak hanya pada pertengah dan akhir, tetapi juga pada tahap awal lintasan, yang akan memungkinkan untuk menghancurkan rudal balistik sampai dikeluarkannya blok tempur,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia tersebut.

“Penyebaran sistem pertahanan rudal global secara bertahap menghancurkan sistem keamanan internasional yang ada dengan memperluas kemampuan pertahanan rudalnya, Amerika Serikat bertujuan memperoleh keuntungan strategis dengan cara menciptakan kondisi untuk penggunaan senjata nuklir dengan biaya minimal. konsekuensi yang sangat serius di bidang keamanan,” tambahnya.

Kritik dan tuduhan Emelyanov terhadap sistem pertahanan udara AS tampaknya tidak mengaca pada perkembangan sistem pertahanan udara Rusia sendiri. Sebab, militer Rusia kini juga diketahui telah meluncurkan dan menjual sistem pertahanan udara terpadu terintegrasi jenis S-400 yang diminati sejumlah negara. Terhitung China, India, Turki dan Arab Saudi telah menjadi pembeli sistem pertahanan udara S-400 milik Rusia.

Tak hanya itu, Rusia juga telah menampatkan S-400 di Suriah dalam upaya mereka membantu Bashar Al Assad memerangi ISIS dan kelompok oposisi. Terbaru, Rusia juga telah menampatkan S-400 di Siberia.

Baca Juga:  Rusia Segera Produksi Masal Pesawat Tempur Siluman Su-57

Artinya, Rusia dan China kini secara tidak sengaja mulai menyebarkan isu untuk menyerang AS sehingga isu tersebut mendapat dukungan global di tengah meningkatnya emosi Donald Trump terhadap pengembangan rudal balistik dan senjata nuklir Korea Utara, pun juga demikian halnya rudal balistik dan nuklir Iran. (almeiji)

(Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews)