Connect with us

Budaya / Seni

Rumah Api – Cerpen Bayu Pratama

Published

on

Aku Melihat Kamu Dalam Dia/Ilustrasi SelArt /Nusantaranews/ adaptasi dari berbagai sumber

NUSANTARANEWS.CO I once had a girl, or should I say…

The Beatles dengan ‘Norwegian Wood’ mengalun pelan dari pemutar musik di pojok ruangan. Aroma telur dadar terhirup. Wangi dan suara yang khas setiap kali aku memasukkan sesuatu ke minyak goreng panas. Ruangan ini muram, berwarna coklat. Murung, dengan suasana abu-abu. Terasa agak panas, karena aku berdiri di depan kompor hanya mengenakan singlet.

she once had me…

Terasa keringat mengalir di dadaku. Dari jendela depan aku dapat melihat danau yang tenang, dan dalam. Wanita itu? Sepertinya dia masih tidur di kamar.

She showed me her room…

Aku bisa mendengar jantungku sendiri berdetak dalam suasana seperti ini. Lebih dari itu, jantungku akan bercerita. Atau telur yang kumasak berbunyi “cess…cess…cess…” Seperti hitungan – satu, dua, tiga, tidurlah – dari seorang ahli hipnotis. Bukankah wanita itu yang dulu mabuk di hadapanku? Atau bukan dia. Tapi, jelas mereka mirip.

Setelah meneguk beberapa seloki wiski, dia lupa segalanya dan mulai menelanjangi diri. Kali ini, dia akan masuk surga seperti seharusnya. Aku ingat hanya berusaha menjadi laki-laki baik.

Isn’t it good, Norwegian wood?

Dimana tempat yang hilang dicari? Ini semacam kata-kata yang sudah ada di ujung lidah tapi tetap tak bisa diucapkan. Bukankah mereka mirip? Dan aku benci mencari ingatan yang bisa memastikan bahwa mereka benar-benar mirip.

Kami menggeliat: Kami berkeringat. Bahkan malam yang menemani kami ikut berkeringat. Hangat. Sangat hangat. Kemudian berubah, Panas! Kami menggeliat. Dan …She asked me to stay

…and she told me to sit anywhere. So I looked around…

Meja coklat ini masih berantakan. Aku agak malas rasanya untuk merapikannya. Telur dadar yang kumasak aku letakkan saja di antara sisa makanan. Pintu kamar terlihat terbuka. Wanita itu masih berada tepat di tempat sebelumnya. Tubuhnya tertutup selimut putih. Tapi aku tahu dengan pasti, dia tertidur pulas tanpa busana.

and noticed there wasn’t chair…
I sit on a rug biding my time… 

Bukankah itu bukan mauku? Acara di televisi juga membuatku ingin menghancurkan televisi itu. Para pelawak berusaha melucu. Tapi mereka tidak lucu sama sekali! Bagaimana jika hantam saja televisi itu dengan tongkat baseball atau linggis? Aku tidak perlu pusing lagi. Suasana akan lebih tenang jika televisi itu mati. Ketenangan yang membuatku bisa mendengar suara jantungku lagi.

Baca Juga:  Ruang Yang Gelap

…drinking her wine.

Wanita itu melenguh, dan mendesah. Aku hanya diam. Dia mulai menggigit telingaku. Menjilatinya. Aku hanya diam. Kenyataan dan khayalan menjadi satu, dan kesemuanya itu sama-sama terasa dingin. Kemana kenangan bersembunyi?

Wanita itu masih terus menggigit dan menjilati telingaku. Dari sana dia dapatkan kenangan. Sebuah kenangan beracun, yang membuat wanita itu terkapar. Badannya mulai membiru. Secepat itu? wanita itu membusuk. Kali ini dia mati dan akan masuk surga seperti seharusnya. Surga? Secepat itu? segampang itu? aku mengambil tongkat baseball, atau linggis, atau apa saja yang bisa aku gunakan menghancurkan televisi. Aku hantamkan ke wanita itu. Tepat di kepalanya. Aku tertawa. Aku melakukannya sebanyak tujuh kali. Aku tertawa! Pukulan pertama untuk membunuhnya, pukulan kedua untuk memastikan dia sudah mati, pukulan ketiga untuk memastikan kalau dia benar-benar sudah mati, dan pukulan keempat sampai ketujuh aku lakukan hanya untuk memastikan diriku puas, karena setelah ini, aku tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.

Aku tertawa terbahak-bahak!

Aku tertawa. Darah di mana-mana. Aku lihat kepala wanita itu hancur. Aku sangat mengenalnya sekarang, karena aku sendiri yang menyusun wajahnya. Aku puas. Sangat puas!

Aku sobek pakaian wanita itu. Aku harus melakukannya untuk yang terakhir kali. Karena setelah ini, tidak akan bisa lagi.

Aku menggeliat. Wanita itu diam. Aku berkeringat. Wanita itu diam. Darah di mana-mana. Jam berbunyi. Angin berhembus. Desir daun. Ada suara burung hantu. Aku melenguh. Wanita itu diam. Sambil berteriak sekeras-kerasnya – karena dia hanya diam – aku melempar wanita itu keluar jendela. Aku diam.

Dia terlempar jauh, sampai ke danau. Wanita itu kemudian berenang, jauh ke tengah. Air menjadi merah. Dan dengan cara-cara yang aneh, dia terlihat lebih cantik ketimbang saat masih suka menggigit dan menjilati telingaku. Anjing! Wanita itu menghilang, ditelan gelap dan dalamnya danau di malam hari. Aku duduk diam, berlumuran darah. Televisi terus menghadirkan acara lawak, orang-orang tertawa. Aku diam, memegang tongkat baseball di tanganku. Dan…

We talked until two and then she said…

Aku mengambil satu botol vodka. Aku merasa harus mabuk.

Baca Juga:  Pelacur Negeri (Bagian 2: I) - Novelet Yan Zavin Aundjand*

It’s time for bed

Aku mengunyah telur dadarku dengan malas. Entah sejak kapan makanan terasa seperti angin. Wanita itu menggeliat. Aku memperhatikan detail gerakannya: Pertama dia berbalik ke arah kiri, membuat selimutnya tersingkap, aku dapat melihat setiap lekuk, detail tubuhnya. Dia merenggangkan badan. Perlahan dia menutup wajahnya dengan tangan kanan. Menggosok rambutnya. Aku mengunyah telur dadarku dengan malas.

She told me she worked in the morning…

Bukankah mereka mirip?

Wanita itu terbangun. Dia menggosok-gosok matanya sejenak. Kemudian dia menatapku. Mata kami saling menusuk. Atau tidak? Tapi aku merasa matanya menusuk ke mataku.

“Terlambat bangun?”

“Sepertinya sudah terlambat.”

“Aku memasak.”

“Haha. Terimakasih”

“Apa kau suka musik ini?”

Norwegian Wood?

“Iya. Norwegian Wood. The Beatles.”

“Aku tidak terlalu merasakannya. Tapi, suka. Apa ada yang menarik tentang musik ini?”

“Ada, sebuah rencana.”

“Haha. Laki-laki yang pandai memasak, menyukai sebuah musik, dan punya sebuah rencana. Manis sekali.” Matanya tajam. Aku merasa tertusuk. Bukankah mereka mirip? Rambutnya masih acak karena baru bangun. Wajah kusut. Tangannya menopang dagu dengan sangat manis. Dengan senyuman itu, aku merasa terancam oleh ingatan tentang masa lalu.

“Baiklah. Manis seperti itu,” kataku menumpulkan ketajaman suasana.

“Bukankah kau terlambat?”

Dia bangun dari duduk dan lamunannya. Aku melihat wanita itu masuk ke kamar mandi. Botol vodkaku sudah kosong. Dan tidak ada stok botol yang lain. Aku belum cukup mabuk rasanya. Jantungku masih terus berdetak, dan bercerita.

and started to laugh.

Bagaimana jika tenggelam? Tubuhnya akan mengembung, dan itu sangat indah. Atau dibakar? Dipotong? Digantung? Dibuat sesak dan mati lemas kehilangan napas? Sangat indah. Sangat indah!

Aku pernah tahu, mati itu akan terasa seperti tubuhku ditarik melalui lubang jarum. Seharusnya itu berarti, dengan cara apa saja, rasa sakitnya akan sama. Tapi kali ini harus sempurna. Dia harus mati dengan memuaskan. Karena setelah itu, tugasnya selesai.

Aku lupa sudah berapa tahun kami habiskan untuk bersama. Tapi dalam masa-masa itu, aku selalu merasa ditipu. Karena itu, aku selalu membawa pisau kemana-mana. Untuk berjaga-jaga. Pisau itu selalu ada di kantong sebelah kanan jaketku. Dengan pisau itu, nantinya aku akan menusuk kepalanya tepat di ubun-ubun. Itu pasti akan menjadi hal yang sangat lucu. Dia akan berlari dengan pisau yang menancap di ubun-ubunnya. Dari situ darah mencurat dan mengalir kemana-mana. Aku tertawa. Seandainya semua pelawak yang aku lihat di televisi juga mau menancapkan pisau di ubun-ubunnya kemudian berlari. Menurutku, pasti akan sangat lucu. Sangat lucu! Aku tertawa terbahak-bahak. Semakin keras. Terbahak-bahak. Terbahak-bah…

Baca Juga:  3 Buah Cerita Bohong Dari Penulis Autobiografi (Bag. I)

“Ada apa?” wanita itu bertanya.

“Tidak ada. Hanya tertawa.”

“Laki-laki…” Sebuah senyuman aneh menyungging di bibirnya. Senyuman yang menggiringku ke masa lalu tempat aku pernah melihat senyuman seperti itu. Bukankah mereka mirip? Aku benci harus mencari ingatan yang memastikan mereka benar-benar mirip. Dia menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Di kamar, aku dapat melihatnya mengganti pakaian – wanita yang sangat malas menutup pintu. Mataku merekam setiap lekuk tubuhnya. Aku merasa agak mual dan ingin muntah.

I told her I didn’t and crawled off…

Bukankah tubuh adalah rumah bagi api yang sama? Pertanyaan yang sama. Sial! Mereka sama. Bukankah semua orang memang sama saja? Mereka tetap akan melakukan hal yang sama.

to sleep in the bath…

“Matikan musik itu,” teriaknya dari dalam kamar.

And when…

“Matikan? Bagaimana dengan sebuah permainan.” Aku mengambil pemukul baseball.

I awoke…

“Hentikan!”

I was alone. This bird had flown…

“Hahaha…HAHAHA.” Aku mahir bermain baseball.

So I lit a fire..

“Hahaha…” Sangat pandai memukul.

Isn’t it good,

“HA! Haha…”

Lihat, apa yang dapat dilakukan setangki bensin dan sebatang korek api?

Norwegian wood?

Api menyala-nyala. Aku keluar, berjalan ke danau. Aku melihat bayangan rumah yang menyala itu di permukaan danau, cermin yang sempurna untuk melihat masa lalu. Aku mendengar suara gemeretak kayu yang terbakar, dan bagian musik terakhir ‘Norwegian Wood’. Bukankah mereka mirip? Aku menghisap rokokku.

Muhajirin, 2015

*Bayu Pratama, lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram. Cerpen-cerpennya terbit di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Solo Pos, Banjarmasin Pos, Batam Pos, Suara NTB, Fajar Sumatra. HP : 087865489548

_______________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

Loading...

Terpopuler