Connect with us

Budaya / Seni

Roti PastiEnak – Cerpen Setiyo Bardono

Published

on

Primrose Bakery London, UK/Foto: globalrxarticles.com
Primrose Bakery London, UK/Foto: globalrxarticles.com

NUSANTARANEWS.CO – Panji bersandar di dinding kaca Swalayan Belanja Bahagia atau sering disebut Belagia. Matanya tak henti mengawasi Gerai Roti PastiEnak, di depan pintu swalayan. Jam digital yang terpasang di gerai menunjukkan pukul 19.15 WIB. Masih cukup banyak waktu untuk bersiap diri sebelum membeli roti merek terkenal yang lezat dengan harga murah.

Panji membaca tulisan di spanduk untuk memastikan penantiannya tak sia-sia. Tepat pukul delapan malam, semua jenis roti di Gerai Roti PastiEnak akan dijual dua ribu rupiah saja. Di luar jam itu, pembeli harus merogoh kocek minimal lima ribu rupiah untuk sepotong roti.

Panji tersenyum menatap uang recehan di kantong plastik. Jumlahnya enam belas ribu rupiah. Berarti, ia bisa membawa pulang delapan Roti PastiEnak dalam berbagai pilihan bentuk dan rasa. Pasti Intan adiknya akan senang. Begitu juga ibunya yang sedang terbaring sakit.

Panji menatap gambar roti beraneka bentuk dan rasa yang menggoda selera. Perut Panji langsung keroncongan. Air liurnya yang hendak menetes di sela mulut disekanya dengan ujung lengan kaos. Taburan keju itu pasti akan meleleh di lidah. Belum lagi roti isi daging asap, strawberry, blueberry, atau sosis. Ah! Seperti namanya, semua roti itu pasti enak rasanya.

Panji lekas menyimpan uang recehan itu di kantong kiri celana pendeknya. Kantong kanan celananya sudah disesaki satu botol plastik bekas susu kemasan berisi segenggam beras. Dengan peralatan sederhana itu, Panji berhasil mengumpulkan uang.

Loading...

Selepas sholat magrib berjamaah, Panji bergegas meninggalkan musholla As Syukur. Setelah meletakkan sarung di tali jemuran belakang rumah, ia berlari menuju jalan raya Sawangan. Berbekal suara pas-pasan, Panji mencoba mengais belas pada penumpang angkot.

“Selamat malam, kakak, tuan dan nyonya! Maaf saya mau numpang ngamen untuk sekedar cari makan,” kata Panji terbata-bata.

Penumpang yang ada di angkot nampak terkantuk, mungkin lelah selepas bekerja seharian, jauh di ibu kota dan sekitarnya. Sebagian lagi asyik dengan telepon genggamnya, tak menghiraukan kehadiran seorang bocah yang bergelantungan di pintu angkot. Panji mengawasi penumpang, berharap tak ada tetangga yang kebetulan naik angkot.

Beras dalam botol susu pun bergoyang menjadi musik pengiring nyanyian kebangsaan dan kebanggaan para pengamen jalanan. Panji tak tahu siapa yang menciptakan lagu itu. Menurut temannya, Fatur, semua pengamen harus hafal lagu itu. Fatur memang suka mengamen di angkot jika ingin main game online atau rental playstation.

“Kalau kami kurang sopan mohon kami dimaafkan, karna kami kurang pendidikan Kalau kami ganggu Anda yang berpendidikan, mohon kami dimaafkan. Salam kami pengamen jalanan.”

Baca Juga:  Tukang Cukur Rambut – Cerpen Kurnia Gusti Sawiji

Dari setiap angkot, hanya satu dua yang memberinya uang. Dua ribu, seribu atau lima ratus perak. Kadang sama sekali tidak ada. Mungkin sebelumnya sudah ada pengamen lain yang jual suara. Bisa juga penumpang takut pada larangan walikota untuk tidak memberi uang kepada pengamen dan pengemis.

Tak hanya walikota, ibu pasti akan marah jika melihat Panji mengamen. Beberapa kali ibu menasehatinya, “Kita memang miskin Nak, tapi jangan pernah meminta-minta.”

— oOo —

Panji menatap orang yang berlalu lalang di Telaga Trade Center. Beberapa kali kereta Thomas melintas membawa keriangan wajah anak-anak mengelilingi pusat perbelanjaan yang ada di dekat gerbang perumahan elit, Hunian Telaga Indah. Walau rumahnya berada di perkampungan tak jauh dari pagar Telaga Trade Center, Panji belum pernah sekalipun naik kereta Thomas itu.

Gerai Roti PastiEnak terlihat sepi. Hanya sesekali ada orang datang membeli satu dua potong roti. Mungkin karena harganya yang cukup mahal. Atau jangan-jangan para pembeli juga menunggu waktu menunjukkan pukul delapan malam. Pandangan Panji menyapu ke segala penjuru. Sepertinya tidak ada hal yang mencurigakan.

Dua puluh menit menjelang pukul delapan malam, beberapa orang mulai melakukan aktivitas di dekat Gerai Roti PastiEnak. Seorang ibu cantik berpakaian modis dengan tenang memilih aneka roti dan mengumpulkannya di nampan. Setelah terisi puluhan roti, ibu itu tak langsung menuju kasir. Ibu itu malah asyik memainkan telepon genggam sebesar setengah talenan.

Seorang lelaki memarkirkan troli penuh barang belanjaan. Perempuan tinggi semampai menyerahkan anak kecil dalam gendongannya kepada lelaki itu. Perempuan itu berjalan menuju Gerai Roti PastiEnak. Satu persatu roti berpindah dari etalase ke nampan. Nampan penuh roti dibawanya mendekati meja kasir. Namun ia tak lekas membayar.

Tiga orang ibu muda berbisik-bisik, dengan tangan sibuk memilih roti.  Pengunjung lain satu persatu merapat ke dekat Gerai Roti PastiEnak. Ada dua orang lelaki berseragam swalayan Belagia. Ada beberapa orang yang Panji kenali sebagai pelayan toko juga datang. Pengunjung yang baru keluar berbelanja dari Swalayan Belagia juga ikut merubung Gerai Roti PastiEnak.

Panji mulai curiga. Mengapa mereka memilih roti namun tak juga membayarnya? Apakah menunggu pukul delapan malam? Seketika Panji tersadar. Nampaknya mereka sudah tahu strategi untuk mendapatkan Roti PastiEnak dengan harga diskon tanpa harus berebutan. Ternyata, bukan hanya ia sendiri yang mengincar obral Roti PastiEnak.

Menjelang pukul delapan malam, kumpulan orang itu bergerak mendekati kasir. Masing-masing membawa nampan penuh roti. Ternyata benar dugaan Panji. Mereka memilih roti terlebih dahulu sambil menunggu jam delapan malam.

Panji menjadi was-was. Apalagi setelah melihat orang-orang yang baru datang merangsek memenuhi gerai Roti PastiEnak. Ia pun bergegas mendekati kerumunan. Jika tidak ikut ambil bagian, ia bisa kehabisan roti. Seorang bocah berumur sebelas tahun pasti akan kalah jika harus berebut roti dengan orang dewasa.

Baca Juga:  Yance Anak Skouw Memetik Cahaya

Panji mencoba menyibak tubuh-tubuh orang dewasa yang sibuk mengambil roti. Matanya menatap beberapa roti yang masih tersisa. Ketika tangannya hendak menggapai sepotong roti, sebuah dorongan menyebabkan tubuhnya hilang keseimbangan. Panji terjatuh. Tubuhnya menubruk seorang ibu yang sedang mengantri di kasir. Nampan besi di tangan ibu itu terjatuh.

Kumprang! Roti PastiEnak berhamburan di lantai pusat perbelanjaan.

— oOo —

Panji menyibak gorden kamar ibu. Di bawah temaram cahaya, ibu terbaring lemah di ranjang kayu. Panji meletakkan segelas teh manis dan satu Roti PastiEnak di atas meja kecil di samping ranjang.

Sudah dua hari Ibu terbaring sakit. Panji sudah mengajak ibu untuk periksa kesehatan ke Puskesmas. Namun, ibu menolaknya, “Ibu hanya kelelahan Nak. Kalau sudah istirahat Pasti ibu sembuh kembali.”

Memang sejak ayah meninggal dua tahun lalu, ibu menjadi tulang punggung keluarga. Ibu harus bekerja keras demi menghidupi dan membayar biaya sekolah Panji serta Intan. Di pagi hingga siang hari, ibu membantu mencuci dan menyetrika baju keluarga Pak Bramantyo. Sore harinya, ibu mengikuti jejak beberapa penduduk kampung, mencari rongsokan di tempat pembuangan sampah di belakang Telaga Trade Center.

Tak hanya kardus, kertas, botol air mineral, atau barang bekas lain yang berhasil ibu kumpulkan. Kadang Ibu membawa pulang sayuran atau buah-buahan yang masih lumayan segar. Memang ada beberapa bagian busuk atau menghitam yang harus dibuang. Sepertinya, sayuran dan buah-buahan itu dari Swalayan Belagia yang sudah tak laku atau kadaluarsa.

Jika di akhir pekan ruang pertemuan Telaga Trade Center disewa oleh orang untuk hajatan, Ibu kadang membawa pulang sisa-sisa makanan seperti roti, kue, jeruk, pisang, bahkan kadang daging ayam.

Sebenarnya, Panji ingin sekali membantu, namun ibu selalu menolaknya. “Kamu belajar saja di rumah. Tempat sampah tak baik buat anak-anak,” katanya.

Saat Panji duduk di tepi ranjang, ibu membuka mata. Dua lembar koyo cabe menempel di pelipis ibu. “Kamu dari mana saja Panji?” kata Ibu sambil mengusap lengan Panji.

“Habis nonton tipi di tempatnya Fahmi. Ini ada Roti PastiEnak pemberian Pak Bramantyo. Makan ya Bu, biar cepat sembuh,” kata Panji. Kalau ia berkata jujur pasti ibunya akan marah.

— oOo —

Panji mendekati Intan yang sedang mengerjakan tugas sekolah di bale bambu di beranda rumah. Ia menyodorkan Roti PastiEnak pada adiknya.

Baca Juga:  Padang Suci : Sebuah Kisah Daripada Po A

“Ini Roti PastiEnak-nya, Dik! Ambillah sebelum Kakak berubah pikiran,” katanya sambil mengacak rambut Intan.

“Cuma dapat satu Kak?” tanya Intan dengan raut wajah kecewa. Informasi mengenai adanya diskon Roti PastiEnak memang berasal dari Intan. Kalau ibu tidak sakit, mungkin Panji tidak akan peduli. Biasanya, makanan selalu tersaji di meja makan. Panji pun menyusun rencana untuk mengamen agar bisa membeli roti buat ibu dan adiknya.

“Dapat dua roti, tapi yang satu buat ibu. Ternyata harus rebutan ya,” kata Panji.

Peristiwa jatuhnya nampan penuh roti itu pun terngiang kembali. Ibu itu sempat mengomel dan memarahi Panji. Dengan perasaan bersalah, Panji pun membantu memunguti puluhan roti yang berceceran. Saat itu sebuah pikiran berkelebat. Panji diam-diam mengambil dua roti milik ibu itu.

Karena panjangnya antrian, ibu itu tak sadar dan menganggap roti di tangan Panji bukan dari roti yang tercecer. Saat mengantri di kasir, jantung Panji berdegup kencang. Malam ini, ia telah berbuat curang dengan mengambil roti milik orang lain.

“Ah, Kak Panji payah. Masak berebut roti aja nggak bisa. Besok malam Intan ikut ya Kak, biar bisa beli roti lebih banyak.”

Intan mengamati dan membuka Roti PastiEnak. Intan mencium roti bulat penuh taburan abon. “Wow, aromanya begitu menggoda,” kata Intan. Persis seperti iklan Roti PastiEnak di televisi. Panji hanya garuk-garuk kepala melihat tingkah adiknya.

Ternyata Intan tak lekas menikmati Roti PastiEnak. Tangan kecilnya membagi roti menjadi dua bagian. Setelah memilih separuh bagian yang dirasa lebih besar, Intan menyodorkan bagian lainnya pada kakaknya. Panji kembali tersenyum melihat tingkah adiknya.

Panji dan Intan duduk menikmati kelezatan Roti PastiEnak di atas tumpukan karung berisi barang rongsokan. Di langit, bulan separuh mengintip di sela-sela kabel sutet. Intan mengangkat separuh roti di tangannya, menyamakan bentuknya dengan wajah bulan.

Panji berharap bulan separuh tidak tersangkut jalinan kabel, agar esok malam ia bisa melihat kembali sinar bulan yang lebih bulat dan benderang. Angin malam berhembus kencang membawa aroma beragam sampah dari belakang gedung pusat perbelanjaan.

Depok, 7 Oktober 2015

*Setiyo Bardono, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014). Kini tinggal di Dopek. HP: 0812 9384 1145 / Email: setiakata@yahoo.com

Loading...

Terpopuler