Berita UtamaEkonomiFeatured

Rontoknya Bisnis Toko Ritel, Jalan Keluarnya Inovasi Canggih

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Fenomena toko ritel yang mulai berguguran di Indonesia harus menjadi sebuah babak baru bagi industri ritel tanah air. Inovasi perlu dilakukan agar masyarakat kembali tertarik pergi belanja ke mal. Setelah Lotus, Mitra Adi Perkasa kembali menutup gerai lainnya yakni Debenhams. Sebelumnya Matahari di Pasaraya Manggarai dan Blok M juga harus gulung tikar.

Majalah Forbes memberi pemahaman tentang ‘Digital Transformation’ yang ditulis Daniel Newman, memaparkan beberapa hal canggih yang harus dilakukan retail dalam bertransformasi. Hal ini semata-mata untuk menggaet masyarakat agar merasakan suasana baru jika berpergian ke department store.

Sebagaimana dikutip Nusantaranews, artikel di Majalah Forbes itu menjelaskan, konsumen masa kini lebih efisien, super sibuk, dan sangat menyukai apa yang instan. Apa yang mereka inginkan sekarang, harus terwujud sekarang juga. Termasuk ketika membeli sebuah barang dari meja kerjanya atau dari rumah melalui handphone atau laptopnya. Maunya, dengan membayar melalui beberapa payment system atau gerbang pembayaran non tunai, tak lama barang tersebut datang sendiri.

Namun jika di Indonesia, menurut Ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri, memang tak dipungkiri bahwa banyak mal yang drop penjualannya karena peralihan transaksi masyarakat menjadi online. Namun fenomena jual-beli online hanya terjadi pada 30 persen masyarakat Indonesia yang mempunyai akses ke bank.

“Sebanyak 64 persen orang Indonesia belum terakses bank. Sedangkan untuk beli online harus pakai bank,” ucap Chatib. Sejauh ini, ia tidak melihat daya beli masyarakat Indonesia menurun, daya beli masyarakat masih tinggi. Namun telah terjadi pergeseran transaksi tersebut.

Chatib menuturkan perkembangan teknologi dan ekonomi digital begitu cepat di Indonesia. Tapi sumber daya manusia (SDM) nya tidak siap, infastrukturnya, birokrasinya juga belum siap.

Baca Juga:  Berkunjung ke PLTU Awar-Awar Tuban, Pangdam V/Brawijaya Pastikan Sistem Keamanan Objek Vital Nasional

Transformasi digital yang terjadi sekarang ini akan menggerus 5,1 juta lapangan kerja di seluruh dunia. Banyak jenis pekerjaan yang akan hilang di dunia karena bisa dikerjakan secara digital. Nantinya, karena tenaga kerja semakin berkurang, yang akan diuntungkan besar hanya penyedia aplikasi.

“Bahkan profesi akuntan saja sudah bisa digantikan dengan mesin. Akuntan yang sekarang hanya tinggal memeriksa hasil akhir atau evaluasi saja. Banyak pekerjaan yang sudah bisa dikerjakan oleh teknologi. Dan ini harus diantisipasi dengan training pekerjaan lain.”
Inovasi yang Bagaimana?

Kembali ke artikel tulisan Daniel Newman yang pernah bergelut di dunia peritelan itu, coba lupakan sejenak, mengenai kondisi eksternal jalanan seperti kemacetan dan cuaca yang tidak mendukung masyarakat berpergian ke mall langsung. Sebab, ini bukan perkara industri ritel siap atau tidak, industri ritel mau tak mau harus melakukan inovasi.

Retailer harus bisa menciptakan demand yang tinggi atau ketertarikan yang tinggi untuk masyarakat agar mau merasakan pengalaman baru berbelanja di gerai ritelnya. Para pengelola harus menjual experience atau pengalaman ketika berbelanja sesuatu yang baru. “Kita tak bisa menutup digitalisasi, walaupun itu adalah sebuah ritel. Meskipun hal kecil yang ada di ritel. Kalau tidak semua gerai akan tutup dan terancam,” jelasnya.

Gambarannya begini, ketika seseorang pergi ke mal atau department store di masa depan (atau mungkin dalam waktu dekat) maka dia hanya berbekal sebuah ponsel pintar. Tak perlu luas gerai yang besar, namun hanya perlu layar digital dan gudang untuk menyimpan secara khusus barangnya.

Baca Juga:  Iran Siap Bangun Kerja Sama Komprehensif Jangka Panjang dengan Suriah

Inovasi pertama yakni dengan menggunakan personalized touch-screen displays. Ketika konsumen masuk sebuah gerai ritel, ia akan menemukan layar sentuh canggih yang memberikan gambaran secara rinci dan kepuasan untuk memilih bentuk dan ragam barang yang diinginkannya. Kemudian, setelah konsumen memilih di layar digital tersebut, maka Bim Salabim! Barang langsung bisa dicoba langsung di samping Layar Canggih tersebut.

Inovasi kedua lainnya, yakni dengan menggunakan smart digital price tags. Di mana barang yang telah dicoba konsumen tadi telah menggunakan label harga digital yang tinggal di-scan ke ponsel si konsumen untuk proses pembayaran.

Proses pembayaranpun tinggal menggunakan payment system atau sistem pembayaran langsung yang terkoneksi dengan ponsel dan rekening si konsumen. Masukkan PIN (Personal Identification Number) untuk transaksi untuk kemudian menunjukkannya ke kasir untuk ambil barangnya. Semudah itu, namun pengalaman menarik yang dirasakan konsumen akan membawanya kembali datang ke ritel.

Debenhams, padahal baru saja diumumkan telah ditutup justru membuka ritel canggihnya di Melbourne, Australia. Debenhams resmi dibuka pada 24 Oktober 2017 di gerai seluas 3.600 m2 di Basement St Collins Lane Mall di Jalan Collins, Melbourne. Ini adalah pertama kalinya Debenhams dipantau khusus oleh Kantor Pusatnya di Inggris.

“Ini bukan departement store biasa,” ucap sang manager di Melbourne.

Menurutnya, staf akan membawa perangkat mobile point-of-sale sehingga penjualan dapat diselesaikan di manapun di toko dan pelanggan tidak lagi dipaksa untuk menunggu dalam antrean untuk melakukan transaksi.

Baca Juga:  Tepat di Hari 18 Tahun Tsunami Aceh, Arif Idris Raih Gelar Doktor

Contoh lain, gerai Samsung di Singapura menyediakan pengalaman ritel atau berbelanja yang menarik. Misalnya, konsumen bisa menggerakan tangannya di depan dinding video untuk diproyeksikan dan diberikan efek. Kemudian memilih ponsel, sampai memilih kopi yang diinginkannya untuk kemudian diambil ketika sudah selesai.

Inovasi membutuhkan investasi. Namun pengalaman bagi para konsumen merupakan hal berharga untuk melangkah kepada sebuah ketertarikan baru. Industri ritel pun masuk ke dalam distrupsi digital yang saat ini bagaikan sebuah virus yang tersebar ke berbagai industri

Namun, demi mendukung inovasi tersebut infrastruktur pendukung juga harus diupayakan lebih jauh. Smart parking misalnya, yang di mana konsumen sebelum hadir di toko atau gerai sudah melakukan transaksi sendiri untuk parkir. Dengan smart parking nantinya sebelum tiba di lokasi, konsumen sudah mengetahui kendaraannya akan diparkir di mana tanpa harus ambil tiket dan antre. Semua menggunakan aplikasi di ponselnya.

Industri Ritel Indonesia perlu Redifinisi

Berdasarkan analisis Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) lambatnya pertumbuhan industri ritel antara lain disebabkan: usia produktivitas masyarakat yang lebih cepat, berubahnya pola belanja ke online, adanya sikap menahan belanja karena situasi politik yang tidak kondusif, lebih gemar berplesiran, serta memiliki deposito berjangka (time deposit).

Ketua Aprindo Roy Mandey mengatakan, tutupnya sejumlah gerai ritel di Indonesia belakangan ini sebagai dampak dari kinerja industri yang stagnan. Menurutnya, ritel perlu melakukan redefinisi pasar. Caranya dengan memperbesar maupun mengganti format dagang, atau bisa pindah ke lokasi yang lebih prospektif.

Pewarta: Richard Andika
Editor: Ach. Sulaiman

Related Posts

No Content Available