Connect with us

Traveling

Romantisme Masa Kecil di Museum Layang-Layang Indonesia

Published

on

Romantisme masa kecil di museum layang-layang Indonesia

Romantisme masa kecil di museum layang-layang Indonesia/Ilustrasi Ist.

NUSANTARANEWS.CO – Romantisme masa kecil di museum layang-layang Indonesia. Siapa tak kenal layang-layang. Benda satu ini, tak hanya sekedar permainan, tapi di beberapa daerah dijadikan sebagai alat untuk ritual.Jika Anda tertarik untuk melihat lebih dekat tentang layang-layang. Maka datang saja ke museum layang-layang di Jalan Kamang, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Di museum tersebut, tak kurang dari 600 layang-layang dari berbagai jenis dan asal muasalnya tersimpan rapi di museum milik Endang Ernawati ini. Koleksi layang-layang dari berbagai negara, contohnya Tiongkok, Jepang, Belanda, Vietnam dan beberapa negara lainnya. Dari segi ukuran, mulai dari layang-layang miniatur yang berukuran 2 sentimeter, hingga yang berukuran raksasa terbesar di tanah air seperti “Megaray” yang memiliki ukuran 9 x 26 meter.

Menariknya, di museum ini juga tersimpan layang-layang dari Kalimantan Selatan. Jika terbang, layangan ini harus sepasang dan digantungi alat-alat musik mirip suling, sehingga ketika diterbangkan akan mengeluarkan suara-suara musik.

Ada juga layangan pengantin, yang diterbangkan ketika upacara adat pernikahan, sehingga penduduk sekitar bisa mengetahui bahwa ada acara pernikahan di desa tetangga ketika melihat pasangan layang-layang itu terbang di udara

Pemilik museum, Endang Ernawati menceritakan, pada tahun 1970-an ia pertama kalinya membeli layang layang dari Amerika Serikat. Mulai saat itu ia jatuh hati pada permainan tersebut, dan ingin mengoleksinya.

Seiring dengan hobinya yang makin berkembang, maka pada tahun 1988 beliau mendirikan Merindo Kites & Gallery. Tujuannya untuk membentuk wadah para pelayang yang sering mengadakan festival layang-layang baik di tingkat nasional maupun skala internasional.

Walaupun sudah mendirikan wadah bagi para pelayang, Endang masih merasa perlu mengembangkan hobinya itu agar layang layang sebagai permainan tradisional tidak hilang dari kebudayaan Indonesia, maka ia membeli sebidang tanah dekat rumahnya untuk dijadikan museum layang layang. Kemudian pada tanggal 21 Maret 2003 berdirilah Museum Layang Layang Indonesia yang berada di Pondok Labu tersebut.

Baca Juga:  Kadin Nunukan Maklumi Adanya Kekhawatiran Barter Trade Nunukan-Sabah-Filipina

Museum buka setiap hari, kecuali hari libur nasional. Adapun jam operasional 09:00 – 16:00 WIB dengan harga tiket masuk Rp. 15.000,-. (Ach/Alya)

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler