Connect with us

Politik

Rocky Gerung: Kekonyolan Itu Terjadi Karena Kekurangan Pengetahuan

Published

on

Rocky Gerung (Foto Dok. Nusantaranews/Adhon)

Rocky Gerung (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO/Adhon)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pakar filsafat politik Rocky Gerung pada kesempatan diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk Yang Terjerat UU ITE: Buni Yani, Ahmad Dhani, Siapa Lagi?, Selasa malam, (5/2/2019), memberikan klarifikasinya soal polemik pelaporan terhadapnya mengenai ‘Kitab Suci Fiksi’. Hal itu dinilai konyol. Di kesempatan itu, Rocky memberikan kesimpulan bahwa kekonyolan itu terjadi karena kekurangan pengetahuan.

“Anda bisa lihat misalnya, kalau saya katakan fiksi, saya sebut dari awal, supaya imajinasinya dibangkitkan,” kata Rocky.

Dirinya kemudian berceletuk, “Kalau Anda sedikit suka sastra, Anda baca novel Divina Commedia. Itu Anda akan dapat sensasi tentang satire yang mengolok-olok teologi abad pertengahan yang ditulis dengan lengkap oleh Dante Alighairi dalam upaya mengolok-olok semua teologi. Itu memerlukan pengetahuan, memerlukan kecerdasan,” ujarnya.

Jadi, lanjut Rocky, kalau hendak melapor, coba baca literatur dimana orang yang hidup dengan ketegangan, tapi dalam rangka satire. “Kalau misalnya ditanya, neraka itu apa? Kalau saya jawab, neraka itu tambang batu bara. Karena panas. Imajinasi saya begitu,” jelasnya.

Ribuan tahun silam, orang tidak tahu apa itu batu bara. “Maka imajinasinya lain,” kata Rocky. “Kalau saya tanya sama milenial 10 tahun ke depan, ketika batu bara habis, dia tidak bisa berimajinasi tentang batu bara, neraka itu listrik korslet, dia berhak berimajinasi.”

Dirinya pun kemudian berceletuk, “Kalau ada yang bilang, neraka itu semacam gorong-gorong, ya mungkin itu buruk, tapi baik buat mereka yang suka selfie di gorong-gorong. Biasa saja!” ujarnya disambut tawa penonton.

“Jadi, kita dibiasakan untuk memakai satire untuk menggambarkan keadaan. Itu yang saya maksud!” tegasnya.

Loading...

Rocky kemudian memberikan contoh, kalau orang belajar sedikit tentang ilmu fisika, maka ia akan berimajinasi kapan katastrofi yang disebut dengan kiamat itu tiba.

“Bukankah alam semesta masih berkembang, masih mengembang? Itu yang ditemukan pada tahun 1927 oleh Edwin Habbel yang kemudian namanya dibuat teleskop, seorang astronomer dari California-Pasadenna.”

Jadi, lanjut Rocky, kalau kita bilang alam semesta berkembang, berarti Tuhan masih mencipta, atau kekuatan-kekuatan adikodrati masih bekerja. Berarti belum finish. “Maka, saya bayangkan misalnya, surga-neraka itu adalah akhir dari alam semesta. Bisa dihitung tidak? Secara matematika bisa dihitung. Kapan berakhirnya? Ada rumus bahwa distance (jarak) dikali waktu. Selesai!” ujarnya.

Tetapi kata Rocky, seseorang tidak mungkin menghitung itu dengan peralatan hari ini. “Anda menghitung jalan tol saja tidak cukup. Pakai mister ukur.”

Jadi, kita mesti imajinasikan, jarak itu terhingga. Waktu, itu terhingga atau tak terhingga? Di situ kita imajinasikan tentang eskatologi. Harapan itu ada dalam kalkulasi matematika juga dalam kalkulasi fiksional.

“Jadi ngapain? Kemarin saya, sama Haris, menjawab pertanyaan polisi, saya jawab konsep-konsepnya itu,” jelasnya.

Nah, kata Rocky, polisi harus mencari kamus tesaurus atau ensiklopedia lengkap, “karena saya uraikan lengkap itu sebagai ukuran-ukuran akademis. Dan saya terangkan di sini, saya buka logic-nya itu,” ujar dia.

Dirinya sebetulnya mengaku jengkel, karena ia melihat dewasa ini ada upaya untuk menutupi literasi. “Kalian menutup literasi itu. Menghalangi orang berabstraksi, menghalangi orang berimajinasi. Membatalkan fungsi fiksi. Nanti anak-anak gak boleh baca fiksi lagi,” kata Rocky.

“Jadi, kekonyolan itu terjadi karena kekurangan pengetahuan,” tandasnya.

Editor: Romandhon

Terpopuler