Connect with us

Budaya / Seni

Riwayat Luka, Martabat Kepergian, dan Surat Angan – Puisi BJ. Akid

Published

on

senja sebuah luka, cerpen, cerpenis indonesia, cerpen indonesia, nusantaranews, bentar wirayudha, cerpen bentar wirayudha

Perempuan Penikmat Kesedihan. (Foto: Dok. Photoshop Creative)

Riwayat Luka

 

Demi kehormatan luka

Aku selalu pandai menahan airmata

Maski angin dari daksina

Loading...

Membuat keheningan semakin terasa

Maka kepada angan tempatku menyiksa

 

Bila mana hujan datang

Merindukan suluk perantau

Tubuhku basah,

Tak perna tau berceri tantang pasrah,

 

Dan apabila awan bergurau

Membalingkan hayal jadi kenyataan

Tubuhku tak pernah lelalah

Mengulurkan janji dan sumpah.

 

Mungkin, hanya kepada sunyi

Luka ini semaki menyeri

Seperti kenyerian langkahmu

Yang menhapus keabadian rindu.

 

Geddung kona, 2018

 

Martabat Kepergian

 

Sebelum keberkianmu menjejak dalam hatiku

Telah kupatahkan segala sesuatu yang mengenai rindu

Seperti rauyuan angin di pemetang itu

Kau dan aku hayalah yang tau

 

Jangan sekali-kali kau sisakan jejak

Kalau kau ingin beranjak

Dan jangan sekali-kali kau sisakan sunyi

Bila kau ingin pergi

Sebab puisi sesekali bertindak

Membawa hidup semakin tak berarti

 

Pulanglah saja kau dengan bekas airmata

Bila nanti ketiadaanku membuat engkau merasa

Kenapa harus harus perasangka

Yang memilih tabahnya cinta

 

Andai engkau tau: Aggia

Kekasih dan puisi itu sama saja

Adalah tempat persembunyian rasa,

Maka pergilah engkau bersama mimpi

Dan ikhlaskan aku bersama puisi.

 

Geddung kona, 2018

 

Surat Angan

 

Dari tawamu yang gelap dalam bayangan

Membimbangkan para batualang

Selepas bulan dan bintang

Berkilau pada lamunan

 

Masih harum juga aroma senyummu

Menyamar ketumbangan sayap burung malam

Yang gagal menghafalkan aroma siang

 

Seperti dirayu kesunyian

Gerimis dan angin mengigilkan perasaan

Selepas bening dari matamu mulai mengkusam

Dari pucuk keseganan yang terdiam

Baca Juga:  Ibu Pertiwi

 

Adapun kesuraman yang kukekalkan

Adalah rindu dari beribu alasan

Mengapa hidup indah, harus berakhir sesal

 

Mataku basah diterpa embun luka

Sebab kesejatian tak pernah engkau sapa

Pada ketabahan angan yang berkelana.

 

Padang sunyi,2018

BJ. AKID, Lahir Di Pasongsongan Sumenep, Madura, Ia Menulis Puisi Beserta Cerpen. Saat Ini Masih Tercatat Sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah. Dan Menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena PPA Lubtara, Sekaligus Pengamat Litrasi Di Kumunitas Surau Bambu Dan SMK Annuqayah.

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co

Baca: 10 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Kirim Tulisan ke Nusantaranews.co

Loading...

Terpopuler