Connect with us

Budaya / Seni

Riwayat Kuldi – Puisi Tjahjono Widarmanto

Published

on

Adam & Eve by Laura Barbosa | ebsqart.com

Adam & Eve by Laura Barbosa | ebsqart.com

RIWAYAT KULDI

 

sebab perempuan selalu terpikat rahasia maka selalu disadapnya bunyi-bunyi langit

seekor ular itu pun meliuk-liuk menjulurkan lidahnya yang bercabang-cabang

 

perempuan itu terpana pada warna kulit ular yang kembang-kembang

tiba-tiba ia melamunkan, jika lakinya bercelana kembang-kembang: alangkah seksinya

 

semenjak itulah diam-diam perempuan itu menyelinap keluar kamarnya

seperti bayang-bayang yang gelisah ia telanjang menduga-duga

di mana gerangan lobang tempat ular itu mendekam dan mendengkur pelan

 

suatu senja, mendekati remang. perempuan itu menjumpai ular kembang-kembang itu

membelit sebatang pohon berdaun emas dengan buah yang aneh berbentuk lonjong

dengan warna merah candikala, bertanduk tiga dan berbau kenanga

 

Simak:
Sepatu Kerja Pemuja Sajak
Delapan Esai: Percakapan tentang Puisi
Aku, Sedadu Menunggu Giliran, Di Hadapan Maut
Bercakap-Cakap Tentang Hasrat

 

jantung perempuan itu berdegup-degup saat mata ular itu berkedip mendesis merayu

ketakutanmu yang gelisah mengaburkan matamu tentang yang abadi!”

 

tubuh telanjang itu pun berkilau saat menjilat buah yang lonjong bertanduk aneh itu

 

pintu yang menjaga segala rahasia itupun menganga.suara-suara entah dari mana

memanggil-manggil tak putus-putus seperti goyang laut menyerahkan ombaknya

 

perempuan itu terlambat menoleh saat kegelapan menelikungnya.akar membelit

tubuh telanjang dirajam duri-duri. pekat itu memilihmu! maka engkau tak lagi tamu!

 

jadilah: lakinya kini bercelana kembang-kembang dan ia rasakan kakinya menebal

maka: teringatlah mereka segala pengetahuan yang pernah dibisikan di telinganya

kemudian: mereka gemetar merasakan gairah memabukkan itu,

 

:inikah yang selama ini

mereka rahasiakan nikmat yang disingitkan

 

tubuh mereka bersimpuh sesujud-sujudnya.ternyata sorga hanyalah sebuah amsal.

merekapun terlepas-bebas, merdeka melayang-layang seperti planton

Baca Juga:  Ritus Para Demonstran

 

: buah aneh itulah membuatku memilih bukan sekedar mengabdi!

 Tuan, bolehkah aku mencicipi ranjang itu?

 

sepasang kekasih itu pun melupakan jalan pulang: Tuan kami tidak kesasar, sebab sengaja mencari sorga lain yang di dalamnya tidak mengalir sungai-sungai susu

namun cukup dialiri harapan dan pilihan. Ijinkan, Tuan!

 

(ngawi, 2016)

 

Tjahjono Widarmanto

Tjahjono Widarmanto

*Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan saat ini melanjutkan studi di program doctoral di Pascasarjana Unesa. Bukunya yang  telah terbit antara lain Mata Air di Karang Rindu (buku puisi, 2013), Masa Depan Sastra: Mozaik telaah dan Pengajaran Sastra (2013), Nasionalisme Sastra (bunga rampai esai, 2011),   Drama: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), Umayi (buku puisi, 2012), Kidung Buat Tanah Tercinta (buku puisi, 2011), Mata Ibu (buku puisi, 2011), Di Pusat Pusaran Angin (buku puisi, 1997), Kubur Penyair (buku puisi: 2002), Kitab Kelahiran (buku puisi, 2003). Penulis pernah menerima Anugerah Penghargaan Seniman dan Budayawan dari Pemprov Jatim (2003), beberapa kali memenangkan sayembara menulis tk. Nasional dan suntuk menghadiri berbagai pertemuan sastra ditingkat nasional dan internasional. Penulis kini menjadi Pembantu Ketua I, Dosen di STKIP PGRI Ngawi dan guru SMA 2 Ngawi. Beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler