Risiko Kehamilan Bermasalah Pada Bayi

Nama Perempuan Terpoper di Dunia (Ilustrasi seorang bayi perempuan). Foto: Dok. istock/ NusantaraNews
Ilustrasi seorang bayi perempuan. Foto: Dok. istock/ NusantaraNews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Selain berisiko pada ibu ketika hamil atau melahirkan, perkawinan usia anak juga berisiko pada janin atau anak yang dilahirkan seperti kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan bayi rendah dan stunting (tubuh kecil dan pendek serta ukuran otak kecil).

“Masa kehamilan adalah masa pertumbuhan badan bagi ibu. Pada tahap ini, terjadi persaingan nutrisi antara janin dan ibu. Hal ini dapat mengakibatkan defisiensi nutrisi. Akibatnya berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, terkena anemia. Sedangkan pada janin, berisiko lahir dengan berat lahir yang rendah. Anak yang lahir prematur, di masa depannya akan berisiko terkena komplikasi sindroma metabolik (obesitas, diabetes mellitus, hipertensi dan lain-lain),” ujar dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan OMNI Hospitals Alam Sutera dr. Handojo Tjandra, MD., Mmed O&G (M’Sia), Sp.OG..

Risiko lainnya menurut dr Handojo adalah dapat terjadi kematian pada janin. “Karena anatomi panggul remaja perempuan masih dalam pertumbuhan sehingga proses persalinan dapat menjadi lama. Akibatnya bayi mengalami kekurangan oksigen, dapat tercemar air ketuban, terinfeksi bakteri, dan ritme jantung melemah. Hal ini rentan menyebabkan kematian pada bayi,” jelas dr Handojo.

Baca juga: Cegah Risiko Kesehatan Pada Perkawinan Usia Anak

Ia juga mengatakan bahwa kematian pada bayi juga dapat terjadi jika pada persalinan ibu dalam keadaan depresi, karena tekanan darah meningkat sehingga rentan terjadi kejang sesaat setelah melahirkan (eklamsi).

Mempersiapkan diri dari risiko penyakit dan kerugian finansial

Keterbatasan finansial, mobilitas serta berpendapat seringkali membuat perempuan pada saat hamil tidak mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Padahal pemeriksaan kehamilan secara berkala (asuhan antenatal) untuk mengetahui keadan ibu dan janin harus dilakukan untuk mengurangi terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan. Akibat tidak dilakukannya tahap ini, dapat berisiko terjadi komplikasi maternal seperti tekanan darah tinggi, kehamilan ektopik, pendarahan, dan lain-lain serta kematian (mortalitas)

Baca Juga:  Penertiban Asrama TNI-AD di Wilayah Garnizun Kota Banda Aceh Diharapkan Berjalan Kondusif

Editor: Novi Hildani