Connect with us

Puisi

Rintihan Bunda Pertiwi untuk Gadis Pemuja Senja – Puisi Tedy Ndarung

Published

on

Lukisan "Ibu Pertiwi Menghimbau" (2008), 210 x 307 cm, acrylic and charcoal on canvas, Karya Laksmi Shitaresmi (Yoyakarta)
Lukisan "Ibu Pertiwi Menghimbau" (2008), 210 x 307 cm, acrylic and charcoal on canvas, Karya Laksmi Shitaresmi (Yoyakarta)

Rintihan Bunda Pertiwi

Tuan, di bumi aku bagai angin
lembut sejuk sujudku terkejud
keras batu di kepala mereka

Aku tak menginginkan retak
karena darahku mengalir lelehan baja
meskipun bau mulut penguasa mematikan bahasa

Aku tak menginginkan hujatan
karena suaraku mampu memulang hujan
meskipun Tuhan menjadi alat pada semua gerak
termasuk politisi yang kehabisan kata

Tuan, suara serak kekuranganku
gemuruh ombak kelemahanku
caci maki kepercayaan kerapuhanku

Seribu pedang ke arahMU Tuan
menikam cinta di atas ayat-ayat suci
memisahkan debu sasaran beribu dosa

Tuan, ke mana lagikah aku?
sejumput Api membakar baju dan celanaku
Aku ini orang asing
tak ada seorang pun yang memberiku sehelai kain

Tuan, sebongkah salju menguburkan ruang dan waktuku
apakah aku masih pantas berdiri di sana, tempat lahir beta, ‘Indonesia’?

Itulah luka dan kerinduanku pada negeri kaya namun miskin ini
lemparkan aku pada jawabMU
hingga kuakhiri puisi ini

2017

Kepada Gadis Pemuja Senja

Tentang kau yang sudah kutahu
yang mendayung lembut dalam muara ingatanku
namun yang kudapat hanya nama
yang konsonan dan vokalnya tak berjumlah ganjil

kuterima, kutanam lalu kusiram detiknya
hingga tumbuh subur di setiap langkah
tetapi tentang kau si Gadis pemuja senja
belum sedekah aku miliki
ingin sekali aku menyapu kabut di pipimu
karena mengalami kekaguman terpendam
berbeda jauh dengan merasakan kemesraan yang nyata
namun mentari yang selalu kau puja menjemput
mengiring dan mengurungmu dalam kamar
O Gadis pemuja senja, aku ini pemuja gelap
berlindung di balik kabut
tak ada niat menelanjangi kulit tipismu dalam gelap
aku hanya menawarkan mawar
belajar bersama mengenal malam
karena cahaya bintang bagi kita adalah gumpalan doa
yang menciptakan kolam gersang di antara ranjang- ranjang tempat orang mabuk
sampai senja yang kau puja bertekuk lutut
kita sudah berenang dan basah bersama

Baca Juga:  Kusuap Sepi, Kucari Jalan Pulang

Maumere, 2017

Tedy Ndarung

Tedy Ndarung

 

Tedy Ndarung, lahir pada tanggal 27 september 1996, di Lambur-Manggarai Barat.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email:

redaksi@nusantaranews.co

atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler