Connect with us

Budaya / Seni

Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang WS Rendra

Published

on

rindu rendra, megatruh, satu dekade, mengenang ws rendra, nusantaranews

Poster Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang WS Rendra. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Acara Rindu WS Rendra tahun 2019 bertajuk Megatruh, dalam rangka satu dekade mengenang berpulangnya Rendra. Ini merupakan manifestasi cinta dan rindu terhadap suara akal sehat tentang kebenaran dari seorang pujangga, WS Rendra. Singkatnya, Megatruh sendiri dinukil dari pidato Rendra saat menerima gelar Doctor Honoris Causa, Megatruh Kambuh Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu.

Secara harfiah bermakna megat yakni menceraikan, bercerai dan ruh adalah ruh, nyawa; jadi Megatruh dapat berarti nyawa yang tercerai. Tetapi dalam artian yang lebih luas ketika manusia kehilangan moral dan akal sehatnya.

Penyair atau pujangga adalah penjaga moral dan akal sehat masyarakatnya. Rendra secara sadar menempatkan diri sebagai pujangga dengan segenap pemikiran cerdasnya, gagasan bernasnya, dan daya ungkapnya yang lugas dalam tulisan-tulisannya, konsisten hadir untuk sekuat tenaga menjaga moral dan akal sehat masyarakat.

Rendra bukan pujangga yang bersajak tentang ‘anggur dan rembulan’, bahkan menolak menjadi penyair salon. Ia memilih menjadi penyair yang menulis sajak sosial dalam bentuk pamphlet, karena pamplet bukan hal tabu bagi penyair, yang dengan tajam menghunuskan kata-katanya ke jantung kekuasaan, yang dengan jernih menguraikan sekian persoalan bangsa dan negara, serta dengan lugas pula menawarkan jalan keluar bagi beragam persoalan bangsa yang diuraikan.

Baca juga: Komunitas Burung Merak Rendra Gelar Lomba Video Baca Puisi Rendra Berhadiah Jutaan Rupiah

Perihal Megatruh, dalam pidatonya waktu itu, Rendra menukil paparan penyair besar Ronggowarsito pada pertengahan abad 19, menggambarkan zaman pancaroba sebagai Kalatida dan Kalabendu. Kalatida adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal sehat. Kekuasaan korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di lapisan atas dan bawah.

Kalabendu adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alat stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan. Ulama-ulama mengkhianati kitab suci. Penguasa lalim tak bisa ditegur. Korupsi dilindungi. Kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum miskin dan tertindas. Penjahat dipahlawankan, orang jujur ditertawakan dan disingkirkan.

Baca Juga:  Tren Milenial Semakin Menguat dalam Peta Politik Nasional

Ringkasnya, Rendra menyatakan, Kalatida adalah zaman edan karena akal sehat diremehkan dan Kalabendu adalah zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan tata kebenaran dijungkir-balikkan secara merata. Lalu, menurut Ronggowarsito, kata Rendra, dengan sendirinya, setelah Kalatida dan Kalabendu pasti akan muncul zaman Kalasuba, yaitu zaman stabilitas dan kemakmuran.

Apa yang dianjurkan oleh Ronggowarsito agar orang bisa selamat di masa Kalatida adalah selalu sadar dan waspada, tidak ikut dalam permainan gila. Sedangkan di masa Kalabendu harus berani prihatin, sabar, tawakal dan selalu berada di jalan Allah sebagaimana tercantum di dalam kitab suciNya. Maka nanti akan datang secara tiba-tiba masa Kalasuba yang ditegakkan oleh Ratu Adil.

Bagi Rendra, usaha setiap manusia dalam kehidupan bermasyarakat senantiasa bertumpu pada mesin budaya, yaitu aturan-aturan yang mengikat dan menimbulkan akibat. Etika umum, aturan politik, aturan ekonomi, dan aturan hukum adalah aturan-aturan yang tak bisa dilanggar begitu saja tanpa ada akibat. Semua usaha manusia dalam mengelola keinginan dan keperluannya akan berurusan dengan aturan-aturan itu. Mesin budaya yang berdaulat rakyat, adil, berperikemanusiaan, dan menghargai dinamika kehidupan, adalah mesin budaya yang mampu mendorong daya hidup dan daya cipta anggota masyarakat dalam negara. Tetapi mesin budaya yang berdaulat penguasa, yang menindas dan menjajah, yang elitis dan tidak populis, sangat berbahaya untuk daya hidup daya cipta bangsa.

Ketika itu, tahun 2008, Rendra menyatakan bahwa, tata hukum dan tata negara yang berlaku di Indonesia, barangkali masih hingga sekarang, masih meneruskan semangat undang-undang dan ketatanegaraan penjajah Hindia Belanda, yang sama-sama menerapkan keunggulan daulat pemerintah di atas daulat rakyat, dan juga sama-sama menerapkan aturan politik ketatanegaraan yang memusat, dan sama-sama pula memperteguh aturan berdasarkan kekuasaan dan keperkasaan dan tidak kepada etika, dengan sendirinya tak akan bisa berdaya mencegah krisis etika bangsa, bahkan malah mendorong para kuasa dan para perkasa untuk mengumbar nafsu jahat mereka, tanpa ada kontrol yang memadai.

Baca Juga:  Ketika Tragedi Terjadi: Palu Berduka Menjemput Luka

Menurut Rendra, hukum, perundang-undangan dan ketatanegaraan yang menghargai daulat manusia, daulat rakyat, daulat akal sehat, dan daulat etika akan menjadi mesin budaya yang mampu merangsang dan mengakomodasi daya cipta dan daya hidup bangsa, sehingga daya tahan dan daya juang bangsa menjadi tinggi.

Sementara itu, tata hukum, tata kenegaraan dan tata pembangunan yang sableng-lah yang mendorong lahirnya Kalatida dan Kalabendu di Indonesia. Menurut penyair Ranggawarsita kita harus bersikap waspada, tidak mengkompromikan akal sehat. Dan juga harus sabar tawakal. Adapun Kalasuba pasti datang bersama dengan ratu adil.

Dalam hal ini Rendra cukup berbeda sikap dengan Ronggowarsita dalam mengantisipasi datangnya Kalasuba. Pertama, Kalasuba pasti akan tiba karena dalam setiap chaos secara built-in ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan. Tetapi kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk emansipasi kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani, intelektual dan budaya. Dalam sejarah kita mengenal kenyataan, bahwa setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon yang bersifat diktator. Tentu masih banyak lagi contoh semacam itu di tempat lain dan di saat lain.

Kedua, harus ada usaha kita yang lain, tidak sekedar sabar dan tawakal. Tetapi toh kita tidak menghendaki Kalasuba yang dikuasai oleh diktator. Oleh karena itu kita harus aktif memperkembangkan usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa. Dan ketiga, situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil, tetapi tergantung pada hukum yang adil, mandiri dan terkawal.

Akhirnya, bangsa yang tanpa moral akan menjadi bar-bar. Harapan menuju bangsa beradab dan maju pun menjadi angan-angan belaka yang muncul dalam setiap pidato-pidato para politisi di podium yang disiarkan secara besar-besaran di media. hukum yang adil hanya akan menjadi bayang-bayang buram

Ketika Rendra menulis, menyairkan dan membacakan pamplet-pampletnya, sejak saat itulah penyair berjuluk Si Burung Merak tidak pernah lelah mengingatkan kita semua untuk memelihara akal sehat dan moral. Bahkan, Rendra juga sudah mengingatkan, mewanti-wanti, dalam salah satu puisinya berjudul Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia, untuk tidak menunggu Ratu Adil. Bagi Rendra, Ratu Adil itu tidak ada, Ratu Adil itu tipu daya.

Baca Juga:  Jelang Pilwali Surabaya, Masyarakat Kota Pahlawan Diklaim Inginkan Pemimpin Milenial

Berikut kutipan bait lengkapnya:

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Pandangan Rendra dalam pidatonya tersebut menjadi bahan pembahasan dalam diskusi publik rangkaian acara Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang Rendra dengan narasumber Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Rizal Ramli dan Adhie M Massardi.

Gagasan-gagasan Rendra dan pembelaannya terhadap kemanusiaan yang tersurat maupun yang tersirat dalam puisi akan disuarakan melalui acara pembacaan puisi karya Rendra oleh sejumlah tokoh bangsa dan beberapa Penyair Indonesia.

Komunitas Burung Merak Rendra juga memberikan ruang apresiasi terhadap para pengagum dan pecinta sosok dan karya Rendra yang telah menulis puisi untuk Rendra. Puisi-puisi yang ditulis oleh para pecinta dari berbagai kalangan tersebut, dibukukan dengan judul Antologi Puisi untuk Rendra: Rindu Rendra. Antologo puisi ini diluncurkan pada Rabu 6 November 2019 malam.

Ada pula acara Pameran Foto dan Poster tentang perjanalan Rendra di jalan kesenian dan kebudayaan. Serta pemutaran film yang pernah dibintangi oleh Rendra.

Lomba Video Baca Puisi Rendra Tingkat Nasional yang berlangsung sejak 5 September 2019-20 Oktober 2019. Video lomba ini diunggah di Channel YouTube Komunitas Burung Merak Rendra sejak 21 Oktober 2019 dengan jumlah peserta 850 yang berasar dari 180 Kabupaten/Kota yang tersebar di 30 Provinsi. Sepuluh Video terpilih akan diputar pada malam pengumuman pemenang yang akan disampaikan pada tanggal 7 November 2019.

Terakhir, panitia mengucapkan terima kasih kepada Telkom Indonesia yang telah memberikan dukungan terlaksananya acara Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang WS Rendra. Begitu juga Sinematik Indonesia dan Nusantara News serta partisipasi pihak lainnya. (eda/ach/sld)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler