Connect with us

Puisi

Rindu dan Ibadah Sunyi

Published

on

cerpen husnul khatimah, husnul khatimah, ayah dan dzikir, cerpen indonesia, cerpen nusantara, cerpenis indonesia, cerpenis nusantara, nusantaranews

Dzikir. (Foto: IST)

Rindu dan Ibadah Sunyi

Sajak-sajak BJ Akid

 

Rindu

Tak ada malu
Ketika rindu jatuh
Di kursi tua yang rapuh

Tak ada airmata
Di atas kelopak bunga
Jika rindu di kutuk suasan

Tak ada cahaya
Di langit-langit bayangan
Bila rindu jadi kenangan

Rindu hanyalah tunggu
Yang selalu menghasilkan bisu

Lubtara, 2019

 

Ibadah Sunyi

Kesepian yang aku lantunkan ke padamu
Merupakan keterasingan rindu bagi waktu
Tumbuh di dukuh-dukuh tak berhujan
Menjelang kepergian lelah dalam ingatan

Doa-doa mati di dadaku
Tumbang pada garis tangan sembilu
Dengan kembimbangan yang menjadi debu

Hanya kepada sunyi
Aku dapat mengenal arti
Arti dari sebuah kepastian
Ketika seluruh bayang sudah menghilang

Lubtara, 2019

 

Di Matamu

Sejak malam sering gaduh di matamu
Kusaksikan rindu dari beribu kata yang abadi
Orang-orang tak berani melafatkan kelicikan
Sebab engkau terlalu pasrah mengenal kepercayaan

Lalu dengan iringan sinar rembulan
Cinta mulai di bekukan, bersua lewat tatapan
Dalam derayan hujan yang memanjang

Adapun kesejatian kata
Tak lagi merabat makna
Jatuh bersama airmata
Di suatu jalan menuju luka.

Lubtara, 2019

 

Kepada Najwa

Najwa. Kepada hujan yang menerpa selirmu
Telah aku hitung lewat peristiwa rindu
Rupanya langkah-langkahmu tak meninggalkan jejak
Berbahasa lewat sajak, sebagaimana ketumbangan
Wajahmu yang mendadak.

Najwa. Di hatimu aku belajar menanam keyakinan
Keyakinan yang telah lama kita sepakati
Bagaimana hujan dan sunyi harus sama-sama
Kita teduhi, seperti makna puisi
Menrabanya saja harus menggunakan banyak hati.

Lubtara, 2019

 

Wasiat Luka

Bulan terusir di ujung daun musim hujan
Ketika malam rekah dalam tatapan,
Kata-kata terasa lebih bersua dalam nafasmu
Tumpah di sungai-sungai penuh kerikil
Sesudah perjalanan debu di kenang oleh tafsir

Baca Juga:  Hasil Survei IDM: 94 Persen ASN Menolak Ibukota Negara dan Pusat Pemerintahan Pindah

Aku hayati segala yang mengalir
Tanpa tau suara cintamu berhenti memanggil
Entah dari mana semua berasal
Akupun junga lupa untuk merekam

Seperti mengingat mimpi
Sunyi dalam tidurku sangatlah abadi
Barangkali pada ketabahan waktu
Aku akan pelik untuk kau rayu.

Lubtara, 2019

 

Di Malammu

Tak dapat aku haturkan
Tentang riak percikan hujan
Di langit-langit matamu
Sebab tuhanmasih lebih tau
Bahwa lagit adalah bisu

Tak dapat aku pahami
Lingkaran sunyi yang memebelah hati
Tumbuh di tubuhmu
Sebagai isyarat menulak rindu

Di malammu aku hanya mengenal purnama
Yang kaku menyinari ingatan
Dari berbagai bayang di luar dugaan

Matikan suaramu,
Kutuklah jadi waktu
Agar semua harap dapat dilestarikan
Di atas luka kita sama-sama berjalan.

Lubtara, 2019

 

Setelah Datang

Barangkali benar
Setiap kepulangan adalah biang
Biang dari segala kerinduan
Yang tanpa terasa telah mengekal

Dari bukit-bukit hijau
Kusaksikan daun-daun berlambayan
Menghantarkan kilau-kilau luka
Dari seluruh embun yang merawat dusta

Matahari menkabarkan harum kasturi
Bercahaya lewat pucuk rasa
Dalam kepekatan mendung di luar cerita

Lubtara, 2019

 

BJ Akid, lahir di Pasongsongan Sumenep, Madura. Ia menulis puisi dan cerpen. Saat ini masih tercatat sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah. Dan menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena PPA Lubtara, sekaligus Pengamat Literasi di Kumunitas Surau Bambu dan SMK Annuqayah.

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler