Apel Hari Santri Nasional 2017 oleh PBNU di Tugu Proklamasi, Jakarta, 22 Oktober 2017. Foto: Dok. Tempo
Apel Hari Santri Nasional 2017 oleh PBNU di Tugu Proklamasi, Jakarta, 22 Oktober 2017. Foto: Dok. Tempo

NusantaraNews.co – Gemuruh peringatan hari santri tahun 2017 menggema diseluruh pelosok nusantara pada tanggal 22 Oktober kemarin. Berbagai kegiatan dilakukan sebagai ungkapan kebahagiaan, sukacita dan show of identity seperti upacara, pawai, perlombaan, doa bersama, dan lain sebaginya. Jutaan peserta yang terdiri dari masyarakat pesantren, madrasah formal, madrasah diniyah, Taman pendidikan Alquran, majelis taklim dan sebagainya. Di hari inilah, kaum santri merayakan “lebaran”, mengenang momentum bersejarah bagi bangsa, dimana KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad bahwa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia merupakan kewajiban setiap umat Islam di Indonesia. Resolusi tersebut meneguhkan sepirit juang bagi kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Tulisan ini bermaksud mengulas peran santri dimasa lampau pra-kemerdekaan, pasca merdeka hingga saat ini serta tantangan di era mendatang.

Hakikat Santri

Kata santri merupakan istilah baru dalam khazanah bahasa Indonesia, sehingga para ahli memiliki pendapat beragam. Ada yang berpendapat bahwa santri berasal dari Bahasa Sanskerta ‘sastri” bermakna ilmuwan yang pandai menulis. Dhofier (1982) mengungkap kata santri dari Bahasa Tamil, artinya guru mengaji, serta pendapat lain bahwa kata santri asalnya dari Bahasa Jawa Kawi, cantrik yang maksudnya orang yang selalu mengikuti guru. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh sungguh, orang shaleh, dan orang yang mendalami pengajian dalam agama islam dengan berguru ketempat jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Secara Istilah,dijelaskan oleh Mulkhan (1992) bahwa santri memiliki dua makna, pertama merujuk pada sekelompok orang yang berada di lembaga pesantren. Kedua, merujuk pada kelompok penganut Islam yang taat, baik yang ada di pesantren maupun bukan. Secara filosofis, KH syaifudin Zuhri (1974) menjabarkan hakikat santri sesungguhnya ialah sebagai anak anak rakyat, amat paham tentang arti kata rakyat, paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang kesenianya, agamanya, jalan pikirnya, cara hidupnya, semangat dan cita citanya, suka dukanya, tentang nasibnya, dan segala lika liku hidupnya. Sehingga, secara umum dapat difahami bahwa santri merupakan kelompok masyarakat muslim yang menjalankan ajaran agamanya secara totalitas, dengan berpedoman pada ilmu yang didapatkan dari belajar di pesantren atau ulama pesantren.

Peran santri era kolonial

Berdasarkan realitas historis, santri memiliki peran utama bagi bangsa Indonesia. Rangkaian sejarah perjalanan pembentukan bangsa Indonesia merupakan sejarah kaum santri, sehingga tak salah jika ada anggapan bahwa kaum santrilah yang memiliki saham terbesar di Republik ini. Santri memiliki peran yang sangat vital bagi bangsa dari era kolonial, masa kemerdekaan hingga saat ini dan masa depan. Peranan tersebut meliputi hampir semua aspek kehidupan, yakni sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Kehadiran bangsa eropa di nusantara sebagai penjajah dari awal abad kelima belas selama hamper empat abad menjadikan seluruh rakyat tunduk patuh meskipun dengan penderitaan lahir batin. Sepanjang kurun waktu itu pulalah perjuangan kaum santri dilakukan. Semangat God, Glory dan Gospel yang diusung bangsa kolonial menumbuhkan sentiment antipati dikalangan pribumi. dengan spirit jihad fi sabilillah para tokoh santri menghimpun kekuatan untuk melakukan perlawanan sesuai dengan kapasitas masing masing. Setidaknya ada empat bidang perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan oleh kaum santri, yakni; pendidikan, ekonomi, politik, dan perlawanan fisik (senjata).

Melalui bidang pendidikan, kaum santri berkeyakinan dapat meninggikan derajat kemanusiaan, menghilangkan kebodohan dan dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia hingga hingga akherat, serta menyadarkan rasa nasionalisme sebagai bangsa yang harus merdeka. Sehingga kaum santri melalui para ulamanya menyelenggarakan program pendidikan dengan mendirikan pesantren dan madrasah. Berangkat dari pendidikan ini,kaum santri melakukan perjuangan kemerdekaan dari kaum penjajah yang memang menghendaki masyarakan Indonesia selalu dalam kondisi bodoh tanpa pendidikan. Penjajah hanya mendidik sebagian kecil rakyat hanya dengan tujuan mendapatkan tenaga kerja yang murah. Jejak perjuangan kaum santri dapat dilihat dan dirasakan hingga saat ini, diantaranya adalah pesantren dan madrasah. Dua lembaga pendidikan sekaligus alat perjuangan kaum santri yang hingga kini tetap eksis dan berkembang, menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan nasional.

Meskipun awalnya hanya bertujuan niaga, kaum penjajah akhirnya mengatur segala perekonomian nusantara. Eksploitasi kekayaan oleh penjajah, menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat. Kaum santri yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat mendapatkan dampak sangat serius. Kala itu pencaharian utama kaum santri adalah petani, pekebun, peternak dan pedagang kecil. Berangkat dari kesadaran untuk bangkit dari penderitaan ekonomi, kaum santri bangkit dan melawan dalam bidang ekonomi dengan membuat persatuan atau serikat profesi, sebagaimana yang dilakukan Serikat Dagang Islam (SDI), serta masih banyak lagi lembaga lain yang senafas dan tujuan.
Kaum santri melakukan perlawanan secara politik dari awal masa penjajahan hingga era kemerdekaan. Santri meyakini, bahwa penjajah tidak berhak mengatur dan menjadi pemimpin di bumi pertiwi. Perlawanan dalam bidang politik pada awal mulanya dilakukan oleh para raja dan sultan di masing masing wilayah kekuasaanya. Akan tetapi perjuangan politik mereka kandas sehingga hampir seluruh wilayah Indonesia berada dalam kekuasaan pemerintahan penjajah. Meski demikian, api perjuangan politik tak langsung padam. Gelora kemerdekaan kaum santri ada yang dilakukan secara pribadi, ada pula termanifestokan melalui berbagai organisasi yang didirikan oleh para kaum santri, baik yang langsung berbentuk partai maupun organisasi sosial keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Budi utomo, Masyumi, kepanduan, dan sebagainya. Kemerdekaan merupakan titik klimaks perjuangan politik kaum santri. Peran kaum santri nampak dominan dalam proses menuju proklamasi dan upaya pertahanan kemerdekaan RI.

Perlawanan terbuka kaum santri kepada bangsa penjajah dilakukan dengan perang fisik menggunakan senjata. Sejarah menulis fakta bahwa peperangan antara rakyat Indonesia melawan kaum penjajah mayoritas dipimpin dan digerakan oleh kaum santri. Dengan semangat jihad fi sabilillah, perjuangan mengusir penjajjah terjadi sejak era kesultanan Demak hingga pertempuran menghadapi agresi militer pasca proklamasi. Jutaan santri mengangkat senjata mempertaruhkan darah dan nyawa disepanjang waktu ratusan tahun tersebut. Jihad kaum santri di Aceh terjadi sejak era kerajaan Malaka dan Pasai takpernah padam hingga era Teuku Umar serta penerusnya. Di Sumatra barat perlawanan terhadap penjajah dipimpin Tuanku Imam Bonjol beserta muridnya.

Sultan Badarudin memimpin jihad santri di Sumatra Selatan. Sultan Ageng Tirtayasa memimpin santri di wilayah banten, Fatahillah beserta santrinya tiada henti mengusir penjajah di Batavia, Sultan Agung dan pangeran Diponegoro beserta para santri menjadi pemimpin perang melawan penjajah di Djogja dan Jawa Tengah. Fatwa jihad KH. Hasyim As’ary menjadi spirit tempur rakyat Jawa Timur dalam peristiwa Nopember di Surabaya. Pangeran Antasari memimpin kaum santri berjihad diwilayah Kalimantan,dan Sultan Hasanudin menjadi imam santri yang melegenda dalam berjihad di wilayah Sulawesi. Tearakhir sebagai contoh, Panglima Besar Sudirman merupakan santri tulen yang sukses memimpin perang gerilya tentara nasional di era awal kemerdekaan. Sederet nama tersebut hanya sebagian kecil nama kaum santri yang terdokumentasi oleh sejarah dalam berperang fisik melawan kaum penjajah, dan tentu masih sangat banyak tokoh santri yang belum tertulis.

Peluang dan tantangan santri Pasca Merdeka

Khidmad kaum santri terus berlanjut sejak berdirinya republik hingga saat ini. Di era awal merdeka, segenap umat Islam berjuang mempertahankan kemerdekaan yang akan direbut kembali oleh kaum penjajah dengan segala cara, termasuk pertempuran senjata. Kaum santri merasa sangat bertanggung jawab keberlanjutan eksistensi negara yang baru sajalahir ini. Dalam bidang idiologi negara, kaum santri juga “mengalah”, berkompromi dengan kelompok lain menjadikan pancasila sebagai idiologi dan dasar negara, bukan Islam. Pengorbanan besar tersebut demi keutuhan dan keharmonisan bangsa dan Negara. Kaum santri juga terlibat langsung dalam memepertahankan ideology Pancasila, saat ada gangguan dari kaum komunis yang notabene berfaham atheis. Secara politik,kenegaraan kaum santri juga sangat perperan menjaga keberlangsungan eksistensi Indonesia hingga sekarang.

Peranan kaum santri hingga usia Indonesia memasuki tahun ke tujuh puluh dua ini sangat besar dalam segala hal. Kaum santri yang pada era penjajahan menjadi bagian oposisi dan termarjinalkan, berubah drastis saat setelah merdeka. Panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bangsa dan negerinya, menjadikan semangat kaum santri untuk berusaha masuk ke seluruh sendi kehidupan.

Berbagai sector kehidupan lambat laun termasuki dan terwarnai oleh kaum santri. Banyak kaum santri saat ini telah menjadi subjek bahkan pemimpin di lingkup pemerintahan, dunia pendidikan, dunia ekonomi, professional, dunia politik dan social budaya serta lainya.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa tugas dan peran santri dalam mengawal bangsa Indonesia telah pada titik ideal. Tanggung jawab yang diemban santri diera kontemporer masih sangat berat. Problem kebangsaan Indonesia saat ini masih sangat kompleks dan sulit di banyak sektor, seperti; perekonomian yang rapuh, kesejahteraan tidak merata, ancaman disintegrasi, rendahnya sumberdaya manusia, ketidak setabilan politik, lemahnya keadilan, kerusakan lingkungan hidup, konflik sosial, benturan budaya, dan gangguan keamanan. Ditambah lagi dengan ancaman global seperti terorisme, radikalisme, neoliberalism, neo-kolonialisme, narkoba, dan kejahatan syber transnasional.

Walhasil, momentum perayaan hari santri di setiap tahun mestilah disadari sebagai momentum meneguhkan semangat jihad kebangsaan, bukan sekedar eforia kegembiraan atas pengakuan politik dari penguasa masa kini akan eksistensi peran santri dimasa lampau. Labih dari itu, kaum santri mustilah senantiasa menguatkan Iman dan Ilmu agar dapat beramal shalih bagi negerinya, karna sungguh kaum santrilah pemilik sah nusantara. Selamat Hari Santri 2017.

Wallahu a’lam bishawab

Penulis: Achmad Nasrudin, (Pendiidk Madrasah di Lampung, Sedang Tugas Belajar di PPS Univ. Wahid Hasyim Semarang)

Komentar