Connect with us

Resensi

Review Film Pemenang Oscar 2018, The Shape of Water: Fantasi Cinta di Puncak Perang Dingin

Published

on

Cuplikan salah satu adegan film emenang Oscar 2018: The Shape of Water.

Pernahkah kita digetarkan oleh cinta sedalam itu? Ialah cinta yang kita ikhlas korbankan diri? Ini cinta jenis Romeo dan Juliet yang memilih mati, kemudian kemudian kematiannya menjadi puisi dan abadi.

Renungan itu datang lagi setelah saya membaca berita: Film the Shape of Water akhirnya terpilih sebagai Film Terbaik Piala Oscar 2018. Saya menonton film itu sepuluh hari lalu.

Begitu terkesan saya dengan film ini. Ia tak hanya kisah cinta mendalam di era perang dingin antara Amerika dan Sovyet di tahun enam puluhan. Namun ini kisah fantasi yang membawa saya keluar sejenak dari rutinitas dunia nyata.

Elisa Esposito tak diketahui siapa orang tuanya. Sejak kecil ia ditemukan di tepi sungai. Di lehernya tergores bekas luka. Itu membuatnya tak hanya bisu. Namun ia punya banyak kelebihan dan instink tentang air. Seolah ia berasal dari dunia air, sungai tempat ia ditemukan pertama kali.

Ia hidup sebagai gadis yang terkucil. Tak ada teman sejak lama. Hanya dua orang saja yang bisa memahaminya. Yaitu tetangga seorang gay dan satu rekan sekerja yang selalu membela.

Apa daya dengan keterbatasan, Elisa hanya mendapatkan nafkah sebagai tukang pembersih ruangan. Menjadi beda, tempat ia bekerja ternyata satu kantor sangat rahasia, di Baltimore. Di tempat itu, aneka hal diuji coba, menghadapi perang dingin melawan Uni Sovyet.

Semua serba rutin saja. Sampai suatu ketika Elisa mendengar suara aneh. Sungguhpun bisu, ia bisa mendengar lebih tajam, melihat lebih jauh, dan hati lebih peka.

Rasa ingin tahu, membuatnya menyelinap secara diam diam. Betapa ia kaget. Ternyata kantor itu menyimpan mahluk aneh yang diriset secara sembunyi. Amerika merahasiakannya. Uni Sovyet mengirimkan mata mata bekerja di sana untuk dapatkan informasi tentang mahluk itu.

Mahluk ini sejenis ikan tapi berbentuk manusia. Ia ditemukan di perairan amazon. Amerika perlu meneliti karena oleh penduduk lokal, mahluk ini dianggap sejenis dewa. Adakah pada mahluk ini satu hal yang berguna memperkuat Amerika menghancurkan Sovyet?

Cara pemerintah meneliti kadang dengan menyiksa mahluk ini. Diam diam Elisa sering mendengar suara aneh mahluk yang menderita. Entah mengapa, ada tarikan hati kuat sekali. Elisa ingin menyelamatkan ini mahluk.

Terjadilah kontak pertama Elisa dengannya. Semua komunikasi terjalin tanpa kata. Hanya dengan saling tatap dan gerak tubuh, Elisa dan mahluk ini saling mengerti.

Dimulailah drama. Cintapun tumbuh. Kantor rahasia itu menjadi saksi kisah cinta yang unik, kerja mata mata Uni Sovyet, dan upaya keras Amerika mempelajari mahluk aneh secara rahasia.

Hasil akhir adalah keputusan politik. Pemerintah menyimpulkan. Mahluk itu tiada guna. Ia perlu segera dilenyapkan.

Namun agen Uni Sovyet punya pandangan beda. Ia sempat mengintip Elisa berkomunikasi intens dengan mahluk itu. Kepada pemerintah Sovyet, sang mata mata menyampaikan pesan. Ini mahluk istimewa. Ia punya kemampuan komunikasi dan rasa.

Melalui proses yang amatiran, dibantu oleh 2 teman, Elisa nekad ambil resiko membawa keluar itu mahluk. Ia berniat membawa pulang agar mahluk itu tinggal bersamanya.

Tapi mahluk itu ampibi. Ia bisa di darat. Namun selalu perlu berendam di air. Pun ia butuh bukan air biasa, tapi air yang punya lautan seperti sungai Amazon. Aha! Elisa tak hilang akal. Ia akan ubah bak mandinya (bath tube) menjadi tempat berendam.

Mata mata Uni Sovyet itu akhirnya membantu Elisa. Ia berikan unsur kimia agar Elisa bisa mengubah tempat mandi di rumahnya menjadi sejenis kolam kecil dengan larutan air sungai Amazon. Namun unsur kimia itu punya batas waktu. Jika dilampaui, hilang khasiat itu zat kimia.

Kantor heboh. Mahluk aneh hilang. Aneka teori konspirasi berkembang. Semua menduga ini pasti kerjq besar dan sistematis pihak Sovyet. Motifnya tak lain soal politik.

Tak ada yang menduga. Hilangnya mahluk aneh itu hanya kerja seorang pegawai rendahan. Dan motifnya bukan politik. Tapi sesuatu yang selalu lebih powerfull dari politik: cinta.

Selanjutnya adalah kisah cinta Elisa yang unik dengan mahluk itu di kamar mandi. Pelan pelan terlihat kesaktian itu mahluk. Ia bukan saja bisa menyembuhkan luka. Ia juga mampu membuat Elisa menyerahkan diri utuh seluruh: cinta, juga tubuh. Mereka bersetubuh dengan penghayatan yang sangat dalam.

Sampailah suatu masa. Penyelidikan akhir tuntas. Diketahui Elisa yang ternyata mencuri mahluk aneh. Pimpinan kantor itu, dengan rasa marah, dendam dan malu pada atasan, berniat segala cara. Mahluk aneh dan Elisa harus menderita.

Elisa pun sadar. Mahluk itu tak selamanya bisa tinggal bersama. Badan mahluk itu melemah. Ia butuh hidup di sungai yang sebenarnya.

Betapa berat hati Elsa. Jika bersikeras memaksa mahluk itu tinggal, mahluk itu akan mati karena kamar mandi itu bukan habitatnya. Tapi melepas mahluk itu pada habitat sama dengan berpisah.

Elisapun berkorban kedua kali. Pengorbanan pertama ketika ia mengambil resiko mencuri mahluk itu dari kantor. Pengorbanan kedua ia harus relakan mahluk itu lepas kembali ke sungai. Demi berat hati, Elisa merelakan mahluk itu pergi.

Kembali Elisa terbayang. Setelah hari hari yang penuh cinta, Elisa kembali seperti dulu: sepi. Terisolasi. Sendiri. Betapa sulit melepas yang ia cintai. Sepenuh hati.

Disiapkan sebuah hari. Elisa akan melepas mahluk itu ke sungai. Ialah sungai tempat Elisa pertama kali ditemukan ketika ia masih kecil.

Beberapa menit sebelum mahluk itu dilepas, agen Amerika datang menyergap. Elisa dan mahluk itu tertembak.

Di sinilah kesaktian mahluk nampak. Ia bisa menyembuhkan diri. Ia bisa membunuh penembak yang perkasa. Ia bawa serta Elisa yang mati suri, tenggelam bersamanya ke dalam sungai.

Kesaktian mahluk nampak lagi. Bekas luka di leher Elisa disentuhnya. Elisapun hidup lagi dan memakai nafas insang, nafas seekor ikan.

Ujar kawan Elisa, seperti kisah dongeng HC Anderson. Akhirnya Elisa hidup bahagia bersama kekasihnya di sungai. Di sungai tempat Elisa pertama kali ditemukan, Elisa dan mahluk itu berpelukan. Live happily ever after.

Yang pekat dalam film itu, bukan kisah fantasi. Terasa fantasi itu hanya penekanan, dan aksen tentang cinta yang mendalam. Dengan fantasi, kedalaman cinta terasa lebih unik, lebih beda.

Di dunia virtual seperti sekarang, hubungan antar pribadi semakin permukaan, dangkal dan self-center. Hadirnya kisah cinta yang penuh fantasi, penuh pengorbanan dan dalam, terasa seperti segarnya es buah bagi dahaga.

Selesai membaca berita, film The Shape of Water akhirnya menang Oscar 2018, kembali saya bertanya. Bisakah kita sampai pada cinta sedalam itu?

Penulis: Denny JA

Komentar

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Continue Reading
Advertisement

Terpopuler