Connect with us

Politik

Reuni 212 Secara Politis Dinilai Justru Nikkan Elektabilitas Jokowi

Published

on

natalius pigai, netral, pilpres 2019, kritikus indonesia, oposisi netral, independen, nusantaranews, nusantara news

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Pemilu 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Solahuddin Uno dan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Reuni 212 atau Reuni Alumni 212 yang kedua beberapa waktu lalu dinilai justru memberikan keuntungan bagi pasangan calon presiden (capres) – calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Secara politis ternyata pasca reuni 212 elektabilotas Presiden Jokowi malah naik. Selisih elektabilitas Jokowi dengan Prabowo 23.6 persen. Jokowi 54.2 persen dan Prabowo 30.6 persen,” kata Pengamat Politik Rustam Ibrahim melalui keterangan resminya, Kamis (20/12/2018).

Baca Juga:

Kendati demikian, laporan Antara yang memuat hasil survei LSI Denny J. A. menunjukkan reuni 212 pada hari Minggu (2/12/2018) lalu tidak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan elektabilitas paslon presiden maupun wakil presiden.

Seperti yang dinyatakan peneliti LSI Denny J. A. Adjie Alfaraby, bahwa pasca reuni 212, elektabilitas kedua capres tidak banyak berubah dan cenderung stagnan. Dimana sebelum Reuni 212, survei LSI Denny J. A. November 2018 menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 53,2 persen dan elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 31,2 persen.

Sementara pasca reuni 212, kata Adjie, survei pada Desember 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin sebesar 54,2 persen dan elektabilitas Prabowo- Sandiaga 30,6 persen. “Ada lima alasan mengapa Reuni 212 tidak banyak mengubah elektabilitas kedua capres dan tidak punya efek elektoral yang signifikan,” ujarnya.

Pertama, kata dia, mayoritas pemilih yang suka dengan reuni 212 sudah memiliki sikap yang sulit dipengaruhi Habib Rizieq Shihab, terutama terkait dengan NKRI bersyariah dan seruan ganti presiden.

Ia menyebutkan 83,2 persen pemilih yang suka dengan reuni 212 menyatakan pro dengan konsep NKRI berdasarkan Pancasila dan hanya 12,8 persen yang setuju dengan NKRI bersyariah. Sebesar 43,6 persen dari mereka yang menyatakan memilih Jokowi/Ma’ruf dan 40,7 persen yang akan memilih Prabowo-Sandiaga.

Kedua, di pemilih yang berafiliasi dengan FPI mengalami peningkatan terhadap pasangan Prabowo-Sandiaga. Sementara itu, lanjutnya, pemilih yang berafiliasi dengan PA 212 dukungan terhadap Prabowo-Sandiaga pada bulan November 2018 sebesar 70,4 persen dan meningkat 82,6 persen.

Alasan ketiga, kepuasan terhadap kinerja Jokowi secara umum masih tinggi, survei Denny J. A. bulan November 2018 72,1 persen. Sebelum reuni 212 kepuasan terhadap kinerja Jokowi 69,4 persen. Keempat, Ma’ruf Amin menjadi jangkar Jokowi untuk pemilih muslim, yaitu terhadap isu-isu identitas yang berpotensi menggerus elektabilitas.

Simak:

Adjie menyebutkan, 65,8 persen pemilih menyatakan simbol Islam tidak bisa untuk menggerus dukungan Islam kepada Jokowi karena cawapresnya adalah pemimpin lama. “Hanya 17,4 persen publik menyatakan bahwa simbol Islam bisa menggerus dukungan pemilih terhadap Jokowi,” katanya.

Alasan kelima, lanjut Adjie, pemilih menilai Jokowi bukan musuh bersama umat Islam sehingga gerakan Reuni 212 tidak bisa untuk menjadikan Jokowi sebagai musuh bersama.

Ia mengatakan bahwa sebanyak 74,6 persen pemilih menyatakan reuni 212 tidak bisa menjadikan Jokowi sebagai musuh bersama pemilih muslim dan hanya 14,5 persen yang menyatakan reuni 212 bisa menjadikan Jokowi bisa sebagai musuh bersama pemilih muslim.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Terpopuler