Connect with us

Berita Utama

Retorika Palsu Media Barat Tentang Krisis di Ghouta Timur

Published

on

Ilustrasi Media Mainstream Barat

NUSANTARANEWS.CO, Suriah – Retorika palsu media barat tentang krisis di Ghouta Timur mulai dipacu mengulangi skenario Allepo. Seperti diketahui, pada bulan Desember 2016, skenario intervensi militer Barat ke Aleppo gagal total ketika Angkatan Darat Suriah dengan cepat berhasil mengalahkan kelompok teroris sehingga warga Aleppo dapat merayakan liburan Natal yang menggembirakan.

Seperti diketahui, ketika pasukan pemerintah Suriah melancarkan operasi militer terhadap teroris di Aleppo Timur, Barat berusaha membendung dengan mengeluarkan Resolusi Aleppo pada 5 Desember 2016 – namun di veto oleh Rusia dan Cina.

Sekali lagi retorika palsu dikumandangkan oleh mesin propaganda Barat yang dipacu dengan kecepatan tinggi berkisah tentang meme Srebrenica – kisah kekejaman pembantaian Bosnia tahun 1995 yang hari ini dinarasikan sedang diulang di Suriah

Propaganda mulai didengungkan bahwa pemerintah Suriah Presiden Bashar al-Asad telah melakukan genosida. Dengan membangkitkan konotasi genosida akan memunculkan legitimasi moral yang akan membenarkan intervensi terbuka skala penuh terhadap Suriah.

Tanpa bukti yang bisa diverifikasi dari lapangan, media barat secara serentak mulai menggambarkan bahwa pihak berwenang Suriah di Ghouta Timur telah menangkap “ratusan pria dan anak laki-laki” persis meme Srebrenica.

Bisa ditebak, dan juga mengikuti skenario Srebrenica, “laki-laki dan anak-anak yang diculik” di Ghouta Timur diduga hilang tidak diketahui rimbanya. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dengan patuh akan mengeluarkan laporan mengerikan tentang ketidakjelasan yang merajalela di mana pemerintah Suriah patut disalahkan.

Laporan PBB dengan dukungan dokumen yang tepat yang disediakan oleh departemen Hak Asasi Manusia yang diputar balikan fakta lapangannya, kali ini  langsung diserukan oleh kepala hegemon PBB, Nikki Haley.

“Penyebaran narasi serupa Srebrenica – diharapkan dapat dibangkitkan dalam beberapa hari mendatang saat pasukan pemerintah Suriah menjalankan misi pembersihan Ghouta Timur dari pendudukan teroris.

Surat kabar London Guardian memuat berita propaganda tersebut yang kemudian disusul oleh rekannya CNN yang mengabarkan bahwa, “Kerusakan yang terjadi di Ghouta Timur oleh pemboman tanpa henti telah memaksa dokter untuk menggunakan obat-obatan kadaluarsa, sementara jumlah korban tewas mencapai 300 dalam tiga hari. Sedikitnya 260 orang tewas dan 500 lainnya cedera di daerah kantong pemberontak antara Senin dan Selasa malam, kata Masyarakat Medis Suriah (SAMS), Suriah.

Guardian mengulangi tuduhannya agar sesuai skenario Ghouta mengabarkan: “Ini bisa menjadi salah satu serangan terburuk dalam sejarah Suriah, bahkan lebih buruk daripada pengepungan di Aleppo … Pemeritah telah secara sistematis menargetkan dan membunuh warga sipil. Oleh tindak kejahatan perang ini, masyarakat internasional harus bertindak untuk menghentikannya,” kata Zaidoun al-Zoabi dari Uni independen dari Medical Care and Relief Organizations.

Presiden Suriah Bashar al-Assad seperti Mladic pada tahun 1995, jelas terlibat dalam kejahatan perang dan bukti yang melibatkan Assad dalam kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan berlimpah. Sejauh ini tidak ada tuduhan yang diajukan, dan dia terus melakukan apapun. ”

Namun, sebuah perspektif yang agak berbeda ditawarkan oleh Vanessa Beeley, seorang jurnalis independen yang telah berada di tanah di Damaskus selama beberapa hari terakhir dan memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam urusan Suriah.

Beeley mempertanyakan apakah kelompok-kelompok teroris itu benar kelaparan? Lalu dari mana mereka menerima pasokan amunisi dan rudal? (Banyu)

Komentar

Advertisement

Terpopuler