Connect with us

Mancanegara

Rencana Besar AS Di Balik Skenario Invasi Militer Ke Iran

Published

on

Rencana besar AS di balik invasi militer ke Iran

Rencana besar AS di balik invasi militer ke Iran

NUSANTARANEWS.CO – Rencana besar Amerika Serikat (AS) di balik skenario invasi militer ke Iran mulai terbaca. Rencana besar AS memang sangat dinginkan oleh Israel. Negara Yahudi itu, mengharapkan agar AS berperang dengan Iran. Segala upaya tampaknya akan dilakukan oleh Israel untuk memprovokasi Washington – bahkan menyerang Iran dengan operasi militer palsu bila perlu. Namun yang jelas, format kebohongan yang sama seperti yang sudah-sudah yang digunakan terhadap Irak, Libya, Suriah, dan Venezuela, terus dikristalisasi sebagai data intelijen: bahwa indikasi ancaman Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah adalah nyata.

Untuk memperkuat rencana itulah, Washington kemudian mengerahkan baterai rudal Patriot, armada tempur tambahan dan satuan pembom ke wilayah tersebut. Trump tampaknya sedang mementaskan sebuah pertunjukan besar di kawasan regional Timur Tengah bagi dunia internasional.

Sementara itu, surat kabar Israel, Haaretz, mengompori penasehat keamanan nasional AS, John Bolton yang gagal mengidentifikasi ancaman Iran yang “nyata” terhadap pangkalan militer dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. “Tidak terlihat tanda-tanda itu muncul,” tulis surat kabar itu.

Israel memang sangat berkepentingan untuk menghancurkan kekuatan militer Iran karena, Teheran merupakan pendukung utama kekuatan pasukan Hizbullah. Bagi Israel, Hizbullah adalah duri dalam daging. Hizbullah telah beberapa kali menggagalkan upaya Israel mencaplok Lebanon Selatan. Bukan itu saja, Hizbullah bahkan berhasil membuat pasukan Israel yang memiliki peralatan tempur canggih, kocar-kacir dari Lebanon.

Dengan demikian, menghilangkan pendukung kuat Hizbullah telah menjadi prioritas tinggi bagi Israel. Sementara Washington sendiri tampaknya merencakan skema Libya atau Suriah di Iran. Seperti menyusupkan tentara bayaran dan kelompok teroris ke dalam provinsi-provinsi Iran untuk menciptakan destabilisasi. Bahkan lebih jauh dapat disusupkan ke wilayah muslim Rusia untuk mendestabilisasi Federasi Rusia – yang pada gilirannya dapat melemahkan Rusia dari dalam sebagai rival global AS.

Rupanya, target Washington bukan hanya Iran. Tapi lebih jauh lagi adalah Rusia dan Cina. Sekali pukul, tiga lawan terjungkal, pikir ahli strategi di Washington.

Cina memang memiliki kepentingan strategis di kawasan Timur Tengah, terutama terkait minyak Iran. Gangguan terhadap kemanan Iran merupakan ancaman nyata bagi kepentingan nasional dan kelangsungan ekonomi Cina. Tersendatnya pasokan minyak dari Iran secara langsung akan melemahkan roda ekonomi Cina. Ujung-ujungnya akan melemahkan kekuatan militer Cina.

Perang yang direncanakan oleh penasehat keamanan nasional AS, John Bolton tampaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Boleh jadi “Perang Iran” menjadi stimulus bagi pecahnya Perang Dunia III. Benarkah? Yang jelas Bolton dan Netanyahu adalah aktor intelektual di balik skema perang Washington ini. (Agus Setiawan)

Terpopuler