Connect with us

Lintas Nusa

Rektor Unnes Bicara Soal Tantangan Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Masa Depan

Published

on

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum, berbagai ilmu tentang 'Kepemimpinan Bertumbuh''di hadapan para pimpinan lembaga, pimpinan fakultas dan pimpinan universitas di UMK, Selasa (13/2/2018). (Foto: Rosidi)

NUSANTARANEWS.CO, Kudus – Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Fathur Rokhman menyampaikan kuliah umum terkait tantangan kepemimpinan perguruan tinggi di masa mendatang di Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (13/2/2018).

Mengangkat tema Kepemimpinan Bertumbuh untuk Memimpin Perguruan Tinggi di Era Perubahan, Prof Fathur berbagai hal meliputi tantangan perguruan tinggi para era disrupsi, mengenal pemimpin, menumbuhkan benih kepemimpinan, memperkuat pohon kepemimpinan, merangkai jejaring pohon kepemimpinan, menghadapi terpaan badai, dan menumbuhkan benih baru kepemimpinan.

”Di era disrupsi, universitas dibangun bukan dengan kekuatan, melainkan kepercayaan dan kecepatan bergerak menggapai visi besar,” ujar rektor Unnes tersebut.

Ia mengumpamakan kepemimpinan harus bertumbuh seperti pohon. ”Menumbuhkan benih kepemimpinan, antara lain mesti dilandasi dengan kemanusiaan, pemahaman kepemimpinan sebagai sumber kebaikan, dan bahwa menjadi pemimpin harus murah hati serta (suka) berbagi,” paparnya.

Selanjutnya, memperkuat pohon kepemimpinan. Pohon kepemimpinan, terang Prof Fathur, tumbuh menguat dengan intelektualitas, integritas dan kerja keras. ”Pemimpin itu menemukan dan memahami aturan organisasinya serta tidak pernah berhenti belajar,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana merangkai jejaring pohon kepemimpinan? ”Harus membangun komunikasi yang tulus dengan menjadi pendengar yang baik dan membangun komunikasi yang baik. Keterbukaan adalah kesempatan emas mengakselerasi laju organisasi untuk mencapai visi lebih cepat,” tuturnya.

Ditambahkannya, terpaan badai dalam kepemimpinan seringkali muncul. Dan di posisi ada terpaan badai dalam sebuah kepemimpinan, maka seorang pemimpin tidak boleh menyerah. ”Pemimpin dapat gagal, tetapi tidak boleh menyerah,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Prof Fathur menguraikan mengenai menumbuhkan benih baru kepemimpinan. ”Kepemimpinan bertumbuh menyiapkan dan membesarkan pemimpin baru, dan bisa menjaga tradisi dengan menampilkan karakter kepemimpinan inovatif,” tuturnya. (rosidi/red)

Editor: Eriec Dieda

Advertisement
Advertisement

Terpopuler