Connect with us

Mancanegara

Reklamasi di LCS Memicu Perlombaan Persenjataan di Asia

Published

on

Tentara patroli Angkatan Darat China (PLA) Angkatan Laut di Pulau Woody, di Kepulauan Paracel, yang dikenal di China sebagai Kepulauan Xisha, 29 Januari 2016. (Foto: Reuters/ Stringer/File Photo)

NUSANTARANEWS.CO – Presiden China Xi Jinping berjanji untuk membangun tentara kelas dunia pada tahun 2050 mendatang sebagai bagian dari upaya negara komunis itu memperluas perannya di luar negeri dan negara-negara di luar China. Namun, tantangan terbesar China adalah bukti nyata di lapangan untuk keterlibatan mereka di kancah keamanan global. Para analis militer mengatakan, ambisi militer Beijing untuk menjadikan tentara kelas dunia bukanlah usaha yang mudah.

Dewasa ini, memperkuat militer telah menjadi ciri utama dalam menghadapi persaingan global, terutama di ranah geopolitik internasional. Dan China sendiri dalam kurun waktu 30 tahun terakhir telah berupaya keras terus meningkatkan anggaran militer dan pertahannya dengan pembelian dan pembangunan jet tempur, kapal perang dan persenjataan hi-tech. Anggaran militernya pun terus bertambah pesat meski terhitung tiga kali lipat lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat.

“Kita harus berusaha untuk mengubah sepenuhnya angkatan bersenjata rakyat menjadi militer kelas dunia pada pertengahan abad ke-21,” kata Xi. Dan salah satu upaya China memperkuat militernya adalah dengan cara kendali tentara harus di bawah kontrol Partai Komunis China.

Seorang analis militer dari Nanyang Technological University Singapura menyebutkan, kongres Partai Komunis China baru-baru ini telah memprioritaskan ambisi China untuk menunjukkan kekuatan militer kepada negara-negara di dunia, yang tak lain adalah sebuah keinginan untuk menjadi kuat secara militer dan ekonomi. Menurut James Char, China sadar, di abad ke-19, mereka telah mengalami banyak kekalahan di setiap perperangan sehingga memicu mereka untuk bangkit menjadi kekuatan yang layak diperhitungkan di masa-masa mendatang.

Ni Lexiong dari Universitas Ilmu Politik dan Hukum Shanghai menyebutkan, China selalu ingin terlihat lebih dari negara lain di dunia dan bermimpi tentang tentara yang kuat dan tangguh. “Bukan untuk menggertak negara lain, tapi untuk membela diri,” kata dia seperti dikutip kantor berita AFP.

Baca Juga:  Luar Biasa! Dekan FMP Unhan Beri Kuliah Umum di Rumania National Defence University

Sejauh ini, di abad 21, China menang kerap kali memamerkan kekuatan militernya, terutama di kawasan. Bahkan secara agresif tentaranya beroperasi di Laut China Selatan tanpa peduli ada sengketa yang membuat situasi menegang. Bagi China, Laut China Selatan adalah milik mereka sepenuhnya karena pintu masuk untuk kepentingan bisnis dan perdagangan di jalur laut.

Sebetulnya, pengerahan kekuatan besar-besaran tentara China lebih pada soal kepentingan geopolitik daripada pertahanan kedaulatan negara. Ekspansi ekonomi dan perdagangan China yang menembus batas dunia melalui program one belt, one road telah memaksa militernya mengerahkan kekuatan tentara ke segala penjuru untuk kepentingan pengamanan.

Tentara China bahkan beberapa kali tercatat pernah bertikai dengan tentara negara lain di sejumlah perbatasan. Ambil contoh misalnya pertikaian tentara China dan India di perbatasan Himalaya, di Sikkim. Kemudian tentara China juga berhadap-hadapan dengan tentara Jepang di Kepulauan Senkaku yang diklaim Beijing dan dirubah namanya dengan bahasa Mandarin menjadi Kelulauan Diaoyu. Di kawasan ini, patroli maritim Angkatan Laut China membuat Jepang gerah dan marah.

Belum lagi klaim China atas kedaulatan di hampir seluruh Laut China Selatan yang memantik perselisihan dengan Vietnam, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Bahkan, China dengan gagahnya telah merebut kembali pulau-pulau yang dikontrolnya di laut untuk memperkuat klaimnya serta menempatkan pesawat militer dan sistem rudal di pulau-pulau tersebut. Beberapa tahun terakhir, sikap agresif China telah memantik ketegangan dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk Indonesia di Kepulauan Natuna yang diklaim sebagai laut tradisionalnya.

Sebuah pernyataan otoritas pertahanan Jepang baru-baru ini merilis laporan mengenai kegiatan China di kawasan yang menyebabkan resistensi di kawasan, terutama masalah keamanan, “untuk kawasan yang mencakup Jepang dan masyarakat internasional,” kata laporan tersebut.

Baca Juga:  Laut China Selatan Jadi Bahasan Luhut Pandjaitan Dengan Menlu Australia

Selanjutnya para analis juga menyebutkan bahwa tak dapat disangkal lagi, sikap agresif China di kawasan telah memicu perlombaan senjata di Asia. “Perlombaan senjata di Asia memang dilatarbelakangi beberapa hal. Tapi aksi membangun dan reklamasi oleh militer China di Laut China Selatan merupakan faktor utama,” ujar Juliette Genevaz, peneliti China di Institut Penelitian Strategis Sekolah Militer yang berbasis di Prancis.

Sekadar informasi, menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, pengeluaran militer China pada 2016 diperkirakan mencapai $ 215 miliar dan menempatkannya di urutan pertama di Asia, jauh di atas India ($ 56 miliar), Jepang ($ 46 miliar) dan Korea Selatan ($ 37 miliar).

Namun, China sejauh ini belum pernah berpartisipasi dalam konflik sejak perang perbatasan selama sebulan dengan Vietnam pada tahun 1979 silam yang menewaskan puluhan ribu orang. Kemudian pertempuran pada tahun 1988 di Hanoi, di atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang menewaskan 64 orang. Tetapi, China justru sudah sibuk meningkatkan aktivitas militernya di luar negeri.

Tahun ini, Beijing membuka pangkalan militer asing pertamanya di Djibouti. Sejak 2008, angkatan lautnya telah berpartisipasi dalam operasi anti-pembajakan di lepas pantai Somalia dan Teluk Aden. Negara ini merupakan kontributor terbesar operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di antara anggota tetap dewan keamanan, dengan sekitar 2.500 tentara dan ahli militer yang telah dikerahkan.

Pembangunan kekuatan militer China memang telah menjadi fenomena besar di abad 21 ini. Tentu hal tersebut tak terlepas dari ambisi China yang ingin menjadi imperium dunia baru menyongsong globalisasi gelombang ketiga yang tampaknya akan segera bergulir. Stabilitas perekonomian dan perdagangan China di abad 21, di tengah ketidakpastian situasi global memang telah membuat orang terperangah. Dan kesempatan baik itu dimanfaatkan China untuk memperkuat segala bidang kehidupannya, terutama militernya.

Baca Juga:  DPR Minta China Hormati Penetapan Nama Laut Natuna Utara

Namun, China diingatkan mesti berhati-hati. “Kita bisa berharap Beijing akan melakukan diplomasi yang kurang koersif dalam waktu dekat sampai menengah. Militer China akan terus beroperasi lebih jauh dari pantai China, dan mungkin juga membangun lebih banyak basis luar negeri,” kata Char.

Char mengatakan, ke depan China akan terus membela klaim teritorialnya secara agresif. Namun, mereka harus hati-hati ketika bertindak di luar negeri dan harus memikirkan ulang andai mau terlibat misi di luar negeri seperti yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat di sejumlah negara, terutama di Timur Tengah. (ed)

Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews

Loading...

Terpopuler