Connect with us

Featured

Refleksi Akhir Tahun, Dramaturgi Senjata Ilegal dan Memoar Kebohongan

Published

on

Senjata yang diimpor PT. Mustika Duta Mas untuk Korps Brimob Polri tertahan di Gedung UNEX Area Kargo Bandara Soekarno-Hatta. Senjata api jenis 4x46mm SAGL ini diantar langsung oleh Pesawat Charter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Dalam catatan refleksi akhir tahun 2017 kali ini, ada hal menarik terkait drama yang disuguhkan di era pemerintahan Jokowi. Masih segar dari ingatan, bagaimana pernyataan Jenderal Gatot Nurmantyo yang meradang terkait adanya intitusi di luar militer yang akan mengimpor ribuan senjata ilegal sukses gaduhkan publik tanah air kala itu.

Lantaran pernyataannya itu, Gatot yang masih menjabat sebagai Panglima TNI mendapat sorotan tajam. Bahkan Gatot dituding mengigau dan sedang membuat drama. Namun semuanya bungkam, setelah kebenaran terkuak.

Tepat pada Sabtu dinihari, 29 September 2017, pesawat kargo dari Ukraina dengan nomor penerbangan UKL4024 bermuatan 5,2 ton tiba di bandar udara Soekarno Hatta (Bandara Soetta). Ratusan peti berisi 280 pucuk peluncur granat 40×46 milimeter Standar Alone Grenade (SAGL) dan 5.932 butir granat 40×46 milimeter REFJ langsung mendapat penjagaan ketat di Gudang Unex oleh personil Bais dan Tentara AL serta AU.

Tibanya senjata-senjata menguatkan asumsi publik terkait pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmatyo tentang rencana institusi di luar militer yang akan membeli 5.000 senjata ilegal. Panglima tak menyebutkan secara jelas, institusi di luar militer mana yang akan mengimpor senjata ilegal tersebut.

Namun berbagai dugaan terarah pada Polri. Meski Polri sempat membantah dan mengatakan senjata yang impor bukan senjata berat, nyatanya justru jadi blunder bagi Polisi.

Loading...

Alih-alih ingin mematahkan soal impor senjata, Menteri Polhukam pun justru memberikan keterangan yang jauh lebih paradoks dengan menyebut pemesan senjata itu adalah dari Badan Intelijen Negara, yang mengorder sebanyak 500 pucuk senjata non militer dari PT Pindad. Situasi semakin runyam.

Namun sanggahan-sanggahan sia-sia menyusul sehari setelah ratusan senjata berat pesanan Polri dari Bulgaria tiba di Bandara Soetta. Sekitar pukul 20.00 WIB, Kadiv Humas Polri bersama Kepala Korp Brimob Polri, yakni Setyo Wasisto dan Murad Ismail menggelar konferensi pers.

Baca Juga:  4 Bulan Jadi Panglima, Marsekal Hadi Sudah Rotasi 145 Perwira TNI

Polri akhirnya mangku jika senjata-senjata yang tertahan di Gudang Unex Bandara Soetta adalah milik mereka. Polri juga mengaku bahwa pengadaan senjata jenis SAGL ini sudah sesuai prosedur. Tapi disanggah pihak Bais. Lantaran tak mengantongi izin, senjata-senjata itupun ditahan di Bandara Soetta selama berhari-hari.

Pembelian senjata jenis SAGL menuai banyak pertanyaan publik. Untuk apa Polisi memesan senjata berat milik militer? Dalam tupoksinya Polisi hanya diperbolehkan memiliki kaliber senapan di bawah 5,57 milimeter, sementara senjata-senjata berat yang tertahan di Gudang Unex adalah jenis senjata yang diperuntukan bagi militer.

Situasi kian diperburuk, ketika hasil giat pengecekan yang dilakukan 20 orang dari institusi Polri, TNI dan Bea-Cukai pada 2 Oktober 2017, ditemukan bahwa pengadaan ratusan senjata berat tersebut ternyata tak memiliki izin impor dari Kementrian Pertahanan dan Bais.

Pengecekan senjata juga diumumkan oleh Polri. Mula-mula melalui akun Instagram resmi Devisi Hubungan Masyarakat Polri, @devisihumaspolri. Berdasarkan pengecekan, menurut akun Instagram Devisi Humas Polri menyebut senjata dan amunisi sudah sesuai dengan dokumen impor. Sontak kepada media jubir Polri, Irjen Setyo Wasisto membenarkan informasi yang diunggah akun itu. Namun belakangan, unggahan tersebut dihapus.

Sesuai hasil penandatangan berita acara oleh empat pihak; Bais, Brimob, Be-Cukai dan PT Mustika Dutamas selaku pengimpor senjata menyebut jumlah senjata dan amunisi sesuai dengan dokumen. Tetapi untuk jenis amunisi tak sesuai dengan klaim Polri sebelumnya yang mengatakan peluru tersebut untuk melumpuhkan bukan mematikan.

Sementara sesuai hasil pengecekan hulu granat tersebut tajam yang merupakan ciri peluru untuk para kombatan perang. Peluru yang memiliki daya jangkau lebih dari 400 meter ini memiliki enam ulir. Ini menunjukkan bahwa dalam waktu kurang 14 detik setelah dilontarkan, peluru akan meledak meski tak mengenai target. Lagi-lagi satu kebohongan publik kembali terkuak.

Baca Juga:  (FOTO) Prosesi Pengukuhan Panglima TNI Sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir di Malang

Kode ‘HEFJ’ menunjukkan bahwa peluru ini memiliki ledakan dahsyat. Dalam selongsong peluru tertulis jelas HEFJ yang merupakan kependekan dari High Explosive Fragmentation Jump, yang artinya granat tersebut berdaya ledak tinggi dengan pecahan amunisi bertebaran. Granat diisi butiran logam, yang akan menyebar ke segala arah tatkala meledak. Sementara Polri terus ngotot berdalih bahwa senjata-senjata miliknya yang diimpor itu hanyalah senjata kejut. Sekalipun ujung-ujungnya Polri merivi pernyataannya. (*)

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler