(Ilustrasi) Kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Muara Karang, Jakarta (Ilustrasi). Foto: Dok. Antara/Muhammad Adimaja.
(Ilustrasi) Kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Muara Karang, Jakarta (Ilustrasi). Foto: Dok. Antara/Muhammad Adimaja.

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Rencana Jokowi menopang produksi listrik dengan bahan batu bara menempatkan ribuan penduduk Indonesia diambang resiko kematian dini. Pemerintah meyakini, batu bara adalah komoditi paling efektif demi mewujudkan ketahanan energi.

Pun DPR menyetujui pemerintah meratifikasi Konvensi Minimata September lalu. Namun hal itu belum menimbulkan kegaduhan. Indonesia berjanji mengurangi penggunaan senyawa merkuri pada industri. Hasilnya tambang emas rakyat adalah yang paling dibidik, padahal sumber terbesar pencemaran merkuri ada pada batu bara.

Namun, pemerintahan Joko Widodo tetap akan memaksakan berlanjutnya mega proyek listrik yang berkapasitas lebih dari 30.000 megawatt (MW) dengan mengandalkan 57 persen energi batu bara.

Pada 2015 lalu, Universitas Harvard merilis studi tentang bagaimana produksi listrik dengan batu bara menyumbangkan polusi merkuri terbesar di Indonesia. Ilmuwan mencatat polusi partikel halus dari pembangkit listrik batu bara menyebabkan 7,100 kematian dini. Angka tersebut diprediksi akan berlipat ganda menjadi 28.000 kematian prematur per tahun jika rencana pemerintah terwujud.

Kerugian tersebut belum ditambah dengan ongkos kesehatan akibat polusi yang ditaksir akan mencapai Rp 351 trilliun per tahun.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaikan mengatakan, Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan. “Tetap membangun energi batu bara dan membiarkan nyawa ribuan penduduk Indonesia berakhir dini, atau beralih dan melakukan ekpansi agresif untuk mewujudkan energi terbarukan yang aman dan bersih,” ungkapnya.

Pemerintah berdalih, proyek pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi hanya bisa diwujudkan dalam waktu cepat dengan dengan mengandalkan energi murah.

Indonesia setiap tahun memproduksi hampir 460 juta ton batu bara dengan cadangan sebesar 28,4 miliar ton. Jumlah yang dibutuhkan pemerintah untuk mewujudkan proyek listrik raksasa itu ditaksir berkisar di angka 166 juta ton, atau sekitar 36 persen dari kapasitas produksi tahunan.

Namun PLN mengisyaratkan keterjangkauan batu bara hanya ilusi belaka. Direktur PLN Sofyan Basyir mengakui saat ini 80 persen produksi batu bara di Indonesia dikuasai swasta dan diekspor ke luar negeri. “Kalau batu bara Indonesia diekspor, harganya jadi mahal,” ucapnya.

Meski Bank Dunia dan Badan Moneter Internasional memprediksi harga komoditi batu bara akan stagnan di kisaran USD 60 per ton hingga 2030 mendatang, namun ongkos kesehatan dan lingkungan diyakini akan berlipat ganda. “Pada akhirnya biaya ini harus ditanggung masyarakat dan negara,” kata Manajer Kampanye Urban dan Energi WALHI, Dwi Sawung.

BERKACA

Batu bara adalah jenis sumber energi paling murah saat ini. Produksinya yang padat karya dan menyediakan banyak lapangan kerja membuat batu bara sering dilirik negara-negara berkembang dan bahkan industri maju. Selama lebih dari satu abad Cina menggerakkan roda produksinya dengan mengandalkan batu bara. Energi dan tenaga kerja yang murah adalah kunci keberhasilan negeri tirai bambu itu.

Kini India berniat mengambil jalan serupa. Lebih dari 300 juta penduduk India hidup tanpa akses listrik dan 840 juta orang masih menggunakan bahan bakar organik untuk memasak semisal kayu bakar atau kotoran sapi yang telah dikeringkan. Pertumbuhan ekonomi juga cendrung terhambat oleh minimnya infrastruktur energi dan transportasi. Saat ini perekonomian India cuma tumbuh 5 persen per tahun.

India tercatat sebagai negara pengimpor batu bara terbesar kedua di dunia setelah Cina. Oktober lalu, pemerintah memublikasikan peta energi berbasis batu bara paling agresif di dunia. Sebanyak 600 pembangkit listrik berbasis batu bara dengan kapasitas 300 Gigawatt akan dibangun. Hingga tahun 2020 mendatang, India ingin menggenjot kapasitas produksi batu bara menjadi satu milyar ton per tahun

Sebab itu pemerintah India menggenjot konsumsi batu bara untuk memproduksi energi. Tahun 2012 silam sekitar 45 persen kebutuhan energi dan 75 persen produksi listrik mengandalkan batu bara. Diyakini selama 25 tahun ke depan permintaan energi India akan meningkat sebanyak 4 persen setiap tahun. International Energy Agency memperkirakan konsumsi energi India akan menyamai Eropa tahun 2040.

India masih mengandalkan batu bara seperti Cina 10 tahun silam. Pasalnya dengan harga energi terbarukan yang masih tinggi, New Delhi tidak punya pilihan selain membakar batu bara untuk menjamin pasokan energi buat penduduk. Namun cepat atau lambat, polusi yang disebabkan konsumsi batu bara akan mulai menggerogoti kemakmuran, dan hingga saat itu India sudah harus menyiapkan sumber energi alternatif

Saat ini pun India telah kewalahan menghadapi polusi udara. Misalnya awal November 2014, New Delhi mencatat kualitas udara terburuk dalam sejarah. Catatan serupa bisa ditemukan di Chandrapur, sebuah kawasan industri berbasis batu bara. Studi WHO 2014 silam menyebut hingga 627.000 kematian prematur di India disebabkan oleh penyakit pernafasan akibat polusi udara.

Sejak 2005 silam pemerintah Cina mulai melirik energi terbarukan sebagai motor ekonomi. Tahun lalu saja Beijing mengucurkan dana investasi senilai 103 milyar Dollar AS ke sektor energi terbarukan. Saat ini produksi energi hijau di Cina mampu menutupi sekitar 23 persen kebutuhan energi nasional. Tidak ada negara lain yang lebih agresif untuk menggenjot produksi energi hijau ketimbang Cina. (Deutsche Welle/BBC/Katadata/NusantaraNews)

Penulis: Richard Andika
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar