KhazanahLintas Nusa

Ragam Tradisi Masyarakat Kalimatan, Madura, dan Lombok Jelang Puasa

NUSANTARANEWS.CO – Pembaca nusantaranews yang budiman, setelah kami menyajikan ragam tradisi menyambut bulan Ramadan di pulau Sumatra, Rabu (25/5) kemarin, sekarang kami suguhkan bermacam-macam tradisi yang dilestarikan di masyarakat Kalimantan, Madura, Lombok, Makasar, Mamuju dan Mandar jelang Puasa Ramadhan.

Kebahagiaan bersama yang senantiasa ditunggu-tunggu dalam kalangan muslim setiap tahun adalah bulan Ramadan. Ialah bulan penuh hikmah yang senantiasa disambut dengan kegembiraan pula. Penyambutan bulan Ramadan di berbagai daerah di Indonesia sudah menjadi tradisi dengan nama dan bentuknya masing-masing serta tujuan yang tidak jauh berbeda.

1. Tradisi Tungkalan

Tradisi Tungkalan digelar untuk menyambut gembira datangnya bulan Ramadan oleh masyarakat Dusun Manggu, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.  Tujuan tradisi ini dilakukan supaya diberi keselamatan yang Maha Kuasa selama Ramadan.

Tatacara Tungkalan dimulai sore hari dimana warga mulai melumuri campuran tepung beras, kunyit, dan rempah-rempah lainnya ke seluruh badan. Setelah itu, badan yang sudah dilumuri tersebut ditempel daun juang-juang. Tradisi ini dilakukan menjelang menunaikan sholat terawih.

2. Tradisi Pegghengan dan Topa’

Tradisi Pegghengan dan Topa’ atau katopa’ sangoh sebenarnya merupakan tradisi masyarakat perantau dari Madura di Kalimantan Barat yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini bagian dari ritual selametan/selamatan bagi masyarakat Madura yang tetap dilaksanakan di tanah rantau. Meggeng yang berarti menahan, atau lebih tepatnya menahan hawa nafsu memiliki tujuan untuk mempersiapkan diri menyambut bulan puasa.

Baca Juga:  Dr Tarmizi Ninoersy, S.Pd.I, M.Ed Terpilih Sebagai Ketua Komite MIN 11 Banda Aceh

Secara simbolik ritual pegghengan menandakan bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus mempersiapkan diri menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan dan minum, aktivitas seksual dan hawa nafsu lain selama berpuasa.

3. Tradisi Bebersinan

Bebersinan merupakan tradisi menyambut bulan suci Ramadan yang dilakukan oleh masyarakat Lombok. Tradisi Bebersinan atau yang biasa di sebut Penampahan menjadi kemeriahan tersediri bagi masyarakat Lombok.

4. Tradisi Megengan atau Apem

Sebagian masyarakat Surabaya menjalankan tradisi Megengan, yaitu makan kue apem saat menyambut kedatangan Ramadhan. Konon, kosa kata apem berasal dari kosa kata bahasa Arab ‘Afwan’ yang berarti maaf. Kue apem dijadikan simbol dan momentum meminta maaf kepada sanak saudara sebelum memasuki bulan Ramadhan. Acara makan apem bersama ini biasanya dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan tahlilan.

5. Tradisi Perlon Unggahan

Di Banyumas, Jawa Tengah masyarakatnya memiliki tradisi sambut Ramadhan yang disebut Perlon Unggahan. Tradisi dilakukan dengan cara makan besar bersama-sama. Makanan khas yang disajikan adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan oleh belasan pria dewasa, saking banyaknya kambing dan sapi yang mereka sembelih.

Baca Juga:  Kukuhkan Anggota Paskibraka, Bupati Sumenep Optimis Dorong Kemajuan Indonesia

6. Tradisi Ter-ater

Di kabupaten Sumenep, Madura, ada tradisi menyambut bulan puasa yang disebut debgab Ter-ater. Tradisi adalah sebuah kebiasaan masyarakat Sumenep dengan saling mengantarkan makanan kepada sesama kerabat dan tetangga dekat. Jenis makanan yang diantarkan tak harus mewah. Bisa berupa sepiring nasi putih dan opor ayam, atau nasi yang ditumpangi ketan hitam. Pengantar makanan dan penerima, biasanya saling meminta maaf setelah terjadi serah terima makanan.

7. Tradisi Ziarah

Di Sulawesi Barat ada tradisi berziarah ke makam Syekh Abdul Mannan, yang terletak di lingkungan Salabose, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Majene untuk menyambut bulan Ramadan. Syekh Abdul Mannan merupakan ulama penyebar Islam di Sulawesi Barat (Sulbar). Peziarah tidak hanya datang dari Majene dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Sulbar, seperti Polewali, Mamuju, bahkan warga Sulbar yang merantau ke luar daerah.

Selain itu, tradisi mudik atau pulang kampung menjelang Ramadhan untuk melakukan ibadah puasa pertama dengan keluarga, ternyata juga biasa dilakukan masyarakat Sulawesi Barat dan menjadi tradisi turun temurun.  Di Polewali Mandar, yang bermukim berbagai macam suku, yakni etnis, Bugis, Toraja,

Baca Juga:  Kandungan Migas Baru Ditemukan di Madura, Abdul Halim: Bisa Tumbuhkan Ekonomi Lokal

Makassar, dan Mandar dan banyak lagi daerah lainnya, menjelang satu Ramadhan mereka rata-rata pulang ke kampung masing-masing. Di Kabupaten Polman, Kabupaten

Majene, dan Ibu Kota Provinsi Mamuju, sebagian pejabat pulang kampung. Begitu juga dengan para pegawai dari daerah lain juga pulang kampung menjelang awal ramadhan.

8. Tradisi Suro’baca

Masyarakat Makassar memiliki tradisi Suro’baca menjelang bulan Ramadan. Tradisi itu merupakan tradisi turun-temurun di kalangan suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel). Acara ritualnya biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan H-1 menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini biasanya diselenggarakan baik per rumah tangga ataupun berkelompok. Aneka masakan pun disediakan dalam ritual ini seperti ayam gagape’ (mirip opor ayam), ikan bandeng bakar, lawa’ (urap) dari pisang batu, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan ekonomi. (MRH)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 50