Connect with us

Khazanah

Ragam Pencak Silat Betawi Di Tengah Arus Globalisasi

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – Etnis Betawi terbentuk dari hasil akulturasi beberapa etnis yang pernah mendiami daerah DKI Jakarta. Melalui evolusi yang panjang, proses peleburan beberapa etnis itu terjadi, sehingga melahirkan etnis dan kebudayaan baru, terlepas dari kebudayaan induk yang mempengaruhinya. Salah satu hasil produk akulturasi dan asimilasi itu adalah unsur kebudayaan ilmu bela diri pencak silat Betawi, yang masyarakat setempat menyebutnya Maen Pukulan.

(Baca juga: Tradisi Orang Jawa, Sunda dan Betawi Sambut Ramadan)

Maen Pukulan memiliki kekayaan dan keragaman aliran-aliran, karakter gerak, bentuk jurus, bahkan senjata tradisionalnya. Dalam perkembangannya, Maen Pukulan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan bermasyarakat dan menjadi identias ke-Betawi-an yang bersanding dengan kehidupan beragama, sehingga lahir ungkapan sholat dan silat.

Sholat dan silat merupakan personifikasi sederhana masyarakat Betawi dalam mengaplikasikan ajaran Islam tentang “hablum minnallah dan hablum minannas,” bagaimana menjalin hubungan antara hamba dengan Sang Penciptanya dan memelihara hubungan antar sesama dan makhluk lainnya. Seiring perjalanan waktu yang mengubah pola kehidupan masyarakat dan gencarnya arus globalisasi, Maen Pukulan semakin terpinggirkan. Keberadaannya tidak lagi menjadi bagian penting bagi masyarakat Betawi. Hal ini pula yang menyebabkan degradasi pelestarian beberapa aliran Maen Pukulan satu persatu hilang ditelan zaman.

Ada beberapa aliran dalam Maen Pukulan yang dikenal saat ini. Antara lain, Silat Cingkrik adalah salah satu dari 300 aliran silat Betawi. Tokohnya adalah si Pitung sekalipun klaim ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Kebaradaan silat Cingkrik banyak ditemukan di Rawa Belong, Jakarta Selatan. Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan adalah dua aliran Cinkrik yang masih bertahan hingga kini. Keduanya dinisbatkan pada nama pewarisnya Engkong Goning dan Engkong Sinan.

Karakter teknik bela dirinya adalah mengandalkan takedown atau bantingan. Cingkrik Goning misalnya, memiliki 80 teknik takedown yang bisa dipelajari sampai tamat. Pewaris Cingrik Goning sekarang adalah Tb. Bambang Sudradjat yang melatih di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia.

Cabang kedua adalah, Silat Silau Macan. Silat Betawi yang satu ini berasal dari Condet, Jakarta Timur. Tokohnya yang terkenal adalah Entong Gendut, pahlawan Betawi yang melakukan pemberontakan Villa Nova yang terkenal saat melawan pemerintah Belanda.

Selanjutnya, Silat Sabeni berasal dari daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Anak dari Babe Sabeni bin Chanam (pendiri aliran Sabeni) adalah Babe Ali Sabeni yang juga seniman sambrah, kesenian betawi. Anak dari Babe Ali Sabeni yaitu Zulbachtiar Sabeni (cucu Babe Sabeni bin Chanam) saat ini merupakan pewaris utama ilmu silat aliran Sabeni yang terus dilestarikan hingga kini.

Aliran ini terus berkembangan dan memberi warna pada aliran silat lainnya di Betawi yang juga dikuasai oleh Bapak Syuaeb, atau lebih dikenal dengan nama Bang Aeb. Di Jakarta, selain Bang Zulbachtiar yang merupakan cucu Sabeni yang terus mengajarkan aliran Sabeni di Tenabang, juga dikembangkan oleh banyak pihak termasuk yayasan TIMA (Traditional Indonesian Martial Arts) yang didirikan dan dikembangkan oleh Adhika Aria Wijaya (yang juga penerus dari Bang Aeb), Raditya Raga Wijaya (adik dari Adhika), dan Seniman Wijaya (ayah dari Adhika dan Radi).

Silat Tiga Berantai, berasal dari permainan silat tokoh sejarah Jakarta, Pangeran Jayakarta. Didirikan oleh H. Achmad Bunawar (H. Mamak). Silat ini menggabungkan banyak aliran tradisonal lainnya. Sedangkan Silat Gerak Saka, kata Saka diambila dari bahasa Sunda, ‘Sakadaekna’ yang berarti sekenanya. Aliran yang satu ini memang mengutamakan efektivitas dan kesederhanaan gerak sebagai filosofi pertarungannya. Merupakan pengembangan dari aliran silat tradisional Sunda, Gerak Gulung Budidaya. Dibawa ke Jakarta oleh Raden Widarma (Oom Wid). Kemudian, murid Oom Wid, Muhammad Syafi’i yang akrab Bang Pi’i lantas mendirikan perguruan ini.

(Baca juga: Setu Babakan, Wisata Alternatif Melepas Penat)

Adapun Silat Gerak Rasa Sanalika adalah salah satu aliran silat sunda yang di dirikan oleh sesepuh silat betawi H Nur Ali Akbar (Babe Nunung) aliran silat ini memadukan gerak saka, gerak per dan gerak sepulah dengan pondasi utama tetap pada gerak saka. Disamping itu aliran ini juga memadukan dengan maen pukul betawi. Kemudian ada Silat Paseban yang namanya diambil dari daerah Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. M. Soleh adalah pendiri aliran ini.

Selain itu ada Silat cimacan yang merupakan salah satu silat aliran betawi yang berasal dari banten dan dikembangkan di daerah Karang Tengah Lebak, Lebak Bulus, Jakarta selatan. Guru besar silat Cimacan adalah Drs. Ahmad Ramli Topan dan sampai sekarang masih terus exis. Ciri khas perguruan silat Cimacan adalah jurus-jurus macan. Selanjutnya ada Silat Si Kilat, aliran silat ini sesuai namanya mengandalkan gerakan serang yang sangat cepat oleh tangan.

Silat Kancing 7 Bintang 12 Naga berenang (Kera Sakti / Naga Ngerem )- aliran silat dari Kwitang ini dibawa oleh Si Gondrong Jagoan Kwitang. Kemudian, Silat Si Bunder / Naga Nyebrang, dan saat ini masih dilestarikan oleh Muhammad Nur (Babe Nung). Aliran lainya adalah, Silat Gombel. Aliran silat ini tergolong tertua di Betawi. Silat Gelamak yang diambil dari nama Kong Gelamak tokoh Betawi kelahiran Senayan. Silat Beksi, perguruan ini banyak di daerah Jakarta Selatan (Kp Sawah Petukangan dan Kota Tangerang daerah Kereo Pisangan Ciledug). Nama Beksi konon berasal dari bahasa Cina, Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat, maknanya pertahanan empat penjuru (Achmad)

Terpopuler