Connect with us

Politik

Purnawirawan: Bravo Anakku Zaadit, Kibarkan Terus Bendera Perjuangan

Published

on

Mantan Komandan Korps Marinir, Letnan Jenderal Marinir TNI (Purn) Suharto/Foto nusantaranews via theglobal-review

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Letjen Mar (Purn) Suharto mengungkapkan, tatkala menonton Dies Natalis ke-68 Universita Indonesia (UI), di Balairiung, Depok, Jumat (2/2/18) lalu, ia melihat keberanian sekaligus kebenaran yg harus dilihat oleh rakyat Indonesia.

“Saya sangat terharu karena lebih dari 13 th, bahkan sejak Mei 1998 tidak terlihat lagi sikap Heroik Mahasiswa. Zaman SBY Seluruh BEM di-“plesirkan” ke luar negeri agar tidak mengeluarkan “Kartu Kuning” dan sempritan untuk pemerintah. Sempritan Zaadit jauh lebih bernilai dibanding sempritan Polisi,” ungkap Suharto dalam sebuah pernyataan yang dikutip NusantaraNews.co, Minggu (4/2/2018).

Menurut Marinir (Purn) Suharto, Sempritan dan kartu kuning Zaadit sebagai isyarat dari rakyat agar Liberalisme atau ideologi apapun termasuk “komunisme” dengan seragam apapun harus keluar dari Stadion Pancasila.

“Ingatan saya kembali ke Mei 1998, saat itu saya sebagai Komandan Korps Marinir mengambil keputusan untuk mengawal anak-anakku Mahasiswa dalam menyelamatkan rumah kita semua Republik Indonesia. Sayangnya kita belum siap, sehingga masuklah para Komprador mengambil alih, dan mengacak-acak UUD 1945 sebagai aturan main Pancasila sebagai jati diri Bangsa. Anak-anakku Mahasiswa, berdirilah bersama Zaadit, bahu-membahu untuk memperbaiki tatanan yang rusak ini,” tuturnya.

“Di koran Rakyat Merdeka hari ini saya melihat betapa Jokowi tidak menghormati kita semua Bangsa Indonesia, sebagai salah satu simbol negara menerima penghormatan dengan pakaian “sak karepe”. Sementara yang memberi penghormatan berjajar rapi dan bersih seragam rapi. Dia boleh tidak menghormati dirinya, tetapi ada kewajiban dia sebagai Presiden untuk menghormati bangsa dan negara dengan berpakaian laiknya seorang Presiden. Berilah rakyatmu kebanggaan. Republik ini milik bangsa Indonesia bukan seseorang, bukan milik Presiden untuk dibuat sa’ karepe Dewe,” lanjutnya.

“Maaf anak-anakku kalau saya sedikit melambung. Saya hanya ingin memberi ilustrasi betapa banyaknya PR (pekerjaan rumah, -red) yang harus kalian kerjakan kedepannya. Banyak perselingkuhan yang terjadi dengan kekuatan asing yang melahirkan anak-anak haram seperti UUD Th 2002, Liberalisme, belum lagi perselingkuhan Pemerintah (Eksekutif) dengan DPR (Legislatif) yang melahirkan UU yang tidak berpihak kepada rakyat,” sambung dia.

Tidak cukup disitu, Suharto juga berseru kepada para mahasiswa di seluruh Indonesia: “Anak-anakku, berjuanglah untuk keluargamu, bangsamu dan “Kedaulatan Negara”-mu. Tanpa Kedaulatan, negara ini bukan negara . Berjuanglah anak-anakku agar kedepannya kita tidak menjadi “Aborigin” atau “Temasek”. Kami siap untuk mewakafkan sisa-sisa umur kami untuk perjuangkan “Kedaulatan” negara kita.”

“Jangan dicontoh pejabat kita yang berkolaborasi dengan Asing dan Aseng demi remah-remah roti (rotinya dimakan Asing dan Aseng) yang membuat regulasi dan cara-cara Nepotisme. Anak-anakku, tahukah kalian mengapa negara-negara Skandinavia maju? Kata kuncinya cuma satu kata “Kejujuran”. Kibarkan terus bendera perjuangan. Give Example and Be an Example. Selamat berjuang Anak-anakku. Kobarkan semangat pertempuran. Tuhan bersama kalian. Amin,” harapnya penuh doa.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Advertisement

Terpopuler