Connect with us

Politik

Puluhan Tahun Membangun Bangsa dan Negara, Apa yang Didapat Rakyat Indonesia?

Published

on

angka kemiskinan, orang miskin, penduduk miskin, jumlah penduduk miskin indonesia, badan pusat statistik, garis kemiskinan, natalius pigai, data bps, tingkat kemiskinan, jokowi gagal, kemiskinan turun, orang kaya naik, orang kaya indonesia, kemiskinan, nusantaranews

Ketimpangan antara rakyat miskin dan orang kaya di kota. (Foto: Ilustrasi/IST)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Institut Soekarno Hatta Komunikasi Politik UMJ, M Hatta Taliwang mengatakan peroalan arsitektur di Inonesia pembahasannya hampir sama dengan membahas sistem ketatanegaraan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi arus globalisasi. Lebih jauh sistem tersebut juga kokoh dalam menghadapi segala niat jahat bangsa lain yang ingin mencamplok Indonesia.

“Membahas arsitektur negara ini lebih kurang sama dengan membahas sistem ke(tata)negaraan kita. Membahas bagaimana agar negara kita bisa punya sistem yang kuat, bisa tangguh dalam menghadapi arus globalisasi, bisa kokoh menghadapi segala rencana dan niat jahat bangsa atau sekelompok bangsa yang ingin mencaplok negara kita,” kata Hatta Taliwang, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Ia menegaskan, sistem yang dibangun oleh para pendiri negara Indonesia, pada dasarnya sangat kokoh kalau diamalkan dengan benar. Karena dibangun di atas philosofi dan ideologi perlawanan terhadap penjajahan, perlawanan terhadap eksploitasi bangsa oleh kekuatan imperialisme, kapitalisme, liberalisme. “Lahir dari pertarungan yang mengorban nyawa, darah, keringat dan airmata pejuang dan rakyat,” ujarnya.

Menurut dia, philosofi dan ideologi bangsa dan Negara yang kokoh itu menjadi rapuh oleh semangat amandemen brutal yang dilakukan terhadap UUD45 sejak era Reformasi.

Melihat dampak buruk luar biasa dari hasil amandemen itu, lanjutnya, kini mulai muncul kesadaran dan perlawanan untuk mengembalikan roh, philosofi dan ideologi bangsa kearah yang murni sebagaimana menjadi amanat para pendiri bangsa.

Loading...

“Sebagian besar rakyat tak peduli pada isu ini. Padahal isu ini adalah hulu dari segala masalah bangsa dan Negara,” kata dia.

Lebih lanjut dia menyebut, selama masalah hulu ini tak dibenahi selama itu Indonesia akan tetap dirundung masalah dan duka nestapa. Dan Indonesia, kata dia, akan makin dicengkeram oleh kapitalisme korporasi Barat dan kini nimbrung juga kapitalisme China RRC.

Baca Juga:  Menko Luhut: Peserta Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Sekitar 32 Ribu Orang

“Banyak intelektual mikro berkata yang penting kita benahi manusianya lewat pendidikan. Kita tingkatkan kemampuan wirausaha rakyat, kita perkuat TNI dan Polisi kita, kita berdayakan sumber sumber SDA kita. Dengan itu kita akan melompat menjadi negara kuat dan hebat,” katanya.

“Tentu saja itu benar sebagian. Tidak benar sepenuhnya. Coba lihat, puluhan tahun kita membangun bangsa dan negara ini, apa yang didapat rakyat?,” imbuhnya.

Hatta Taliwang juga menyatakan bahwa, kekayasn 100 juta rakyat biasa sama dengan kekayaan 4 konglomerat. Dulu orang tua konglomerat itu ikut berjuang atau tidak memerdekakan bangsa ini? Seorang Taipan rokok dan Bank menurut Forbes punya ķekayaan 500an trilyun. Apakah ini tujuan kita merdeka?

“Sekian tahun kita membangun bangsa dengan membangun pendidikan beranggaran 20 persen, apa yang kita dapat dengan Pemimpin bangsa kita? Hampir semua berkualitas secara mental dan moral makin menurun, bahkan hobbynya cuma bisa perbesar hutang dan mengobral aset negara satu persatu,” tegasnya.

Ditambahkannya, Denny JA membanggakan Indonesia akan jadi kekuatan dunia nomor sekian (masuk dalam 10 besar) pada tahun 2045.

“Saya tanya kira-kira rakyat pribumi jadi apa saat itu. Dia diam. Karena untuk tahu siapa yang akan jadi raja tahun 2045 tak perlu pakai data ilmiah, cukup lihat siapa pemilik gedung-gedung mewah sekarang di semua kota besar seluruh Indonesia dan cukup lihat siapa yang menguasai lahan-lahan strategis di seluruh pulau besar di Indonesia,” tuturnya.

“Semua kondisi itu terjadi karena kita lalai mengawal apa yang diamanatkan pendiri bangsa kita yang sudah tertuang dalam Pancasila, UUD45. Karena itu jangan terlalu asyik berpikir menyelesaikan masalah dengan pendekatan mikro atau sektoral. Mari kita bedah secara sistemik, philosofi dan ideologis,” tandasnya. (red/nn)

Baca Juga:  Kejurnas Judo Kartika Cup XII, Ajang Prestasi dan Gali Pengalaman

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler