Connect with us

Hankam

Puluhan Ribu Pasukan TNI Dikerahkan Ke Monas, Lieus: Seperti Mau Perang Saja

Published

on

latihan bersama, tni ad, saf, tatang sulaiman, latber tni-saf, asembagus situbondo, angkatan darat, angkatan darat singapura, wakasad, prajurit angkatan darat, konflik asia pasifik, latihan militer, latma safkar indopura, ranpur apc, anoa komando, batalyon 3 singapores, panser anoa pindad

Pasukan TNI AD dan Singapores Armed Force (SAF), saat latihan bersama di Lapangan Dodiklatpur Rindam V/Brawijaya Asembagus Situbondo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada Senin 12 November 2018. (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kabar pengerahan puluhan ribu personil TNI dari marinir dan Kostrad ke Monumen Nasional (Monas) sehari menjelang pelaksanaan Reuni Akbar Alumni 212 mendapat tanggapan dari Koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma.

“Wah sudah seperti mau perang saja,” ungkap Lieus Sungkharisma, dikutip dari keterangan persnya, Sabtu (1/12/2018).

Menurut Lieus, reuni akbar alumni 212 yang akan digelar besok, Minggu 2 DesLieus Sungkharismaember 2018, adalah bentuk silaturrahmi umat Islam dan aktivis pro keadilan terhadap penistaan agama yang dilakukan Ahok dua tahun lalu.

“Saya tak melihat ada yang salah dari reuni akbar ini. Tapi mengapa harus ditanggapi dengan sangat berlebihan? Seolah-olah Negara sedang menghadapi serangan besar,” katanya.

Baca Juga:
Polda Metro Jaya Diminta Tak Perlu Panik Sikapi Reuni 212
Setara Institute: Reuni 212 Adalah Gerakan Politik
Hendardi Sesalkan Reuni 212 Catut Agama Islam

Kalau tujuannya untuk menjaga dan mengawal, kata Lieus, dalam aksi 212 dulu aparat TNI dan Polri juga menjaga dan mengawal. Tapi mereka tidak membawa senjata apalagi sampai bawa tank dan panser.

“Sekarang kok malah dengan pakaian seragam beratribut lengkap sambil meneriakkan yel-yel penambah semangat seolah-olah mereka sedang bersiap-siap untuk perang,” katanya.

Ditambahkan Lieus, situasi di Monas saat ini sungguh sangat berbeda dengan ketika aksi 212 berlangsung tahun 2016 lalu. “Kini TNI bukan saja dikerahkan seolah-olah untuk siaga perang, tapi juga terkesan ingin menakut-nakuti atau dibenturkan dengan rakyat,” katanya.

Kondisi ini, menurut dia, dianggap sangat berbahaya bagi demokrasi di Indonesia. “Apa yang terjadi di Monas saat ini adalah cerminan dari sikap rezim yang paranoid,” tegas Lieus.

Pewarta: Romandhon
Editor: Alya Karen

Advertisement
Advertisement

Terpopuler