Connect with us

Budaya / Seni

Puisi Pilihan Abdul Wachid B.S.

Published

on

Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S.

LANGKAH
– Prof Suyitno UNS

seorang lelaki tidak pernah menduga
ia akan sampai pada
ruang dan waktu yang bernama guru
samalah halnya sebutan “tuan guru”

tersebab lelaki itu telah lelaku
terus menerus berjalan sedari rumah ibu
doadoa tak pernah henti menggaharu
hingga apa yang ia tanam berbuah manis madu

setiap ia berjumpa seseorang
setia pula ia menggurukannya
doadoa ibu membentangkan jalan
bahkan ketika ia bisa merasa

inilah rumah terindah
orang datang dan pergi beroleh hikmah
inilah satu pohon istiqamah yang
ia tanam itu, telah berbuah karamah

dan aku memetiknya di jumat yang nubuwah
seperti juga kunikmati buah fatihah
dan kami meneruskan jalan ibu
kuamini langkah tuan, guru

yogyakarta, 6 agustus 2018

PUISI
untuk Prof Herman J. Waluyo

begitu banyak puisi yang ia baca
sampaisampai lupa ia menulisnya
tetapi puisi tiada pernah sangsi
suatu kali nanti ia akan menjumpai

dengan kertas putih seperti saputangan
ia akan menghapus luka penebusan
tetapi puisi tiada pernah henti
suatu hari nanti ia akan membukai

begitu banyak puisi yang ia tuliskan
sampaisampai lupa ia membacanya
dengan kertas putih seperti kenangan
ia kian menghembus kata pelayanan

tetapi puisi tiada pernah mati
suatu hari nanti ia akan menemui
kembalinya seorang lelaki suci
meneruskan kisah dibaca sejati

yogyakarta, 31 juli 2018

RUMAH TANGGA KATA

“kau tidak menjengukku
ketika aku sakit
kau tidak memberiku makan
ketika aku lapar
dan kau selalu menyileti aku
dengan katakata
bagaimana kau akan memasuki
rumah hatiku menyambutmu?”

apakah Tuhan sakit?
apakah Tuhan lapar?
apakah Tuhan gerah hati?

“iya tetanggamu
Tuhan bersama orangorang sakit
tersakiti dan disakiti
Tuhan berada di tengah orangorang lapar
terlaparkan dan dilaparkan
Tuhan di dalam hati orangorang luka
terlukai dan dilukai”

Baca Juga:  Meja Makan Kematian, Puisi Muhammad de Putra

…..

kau juga tidak menjengukku
ketika aku sakit
kau juga tidak memberiku makan
ketika aku sakit
dan kau juga selalu menyileti aku
dengan katakata
ketika aku sakit
bagaimana kau akan memasuki
rumah hatiku menyambutmu?

iya
aku tangga hatimu

“tetapi kamu tidak tahu
apa yang kalbuku ingin tahu
tetapi kamu tidak menyadari
bagaimana telor itu tahutahu matang sendiri
ketika didekatkan ke tungku jantungku?

apakah kau manusia sakit?
apakah kau orang lapar?
apakah kau manusia gerah hati?

tidak, tidak, sayangku …..
katakan, kamu ingin dimasakkan apa
agar kamu cepat sembuh
agar telor matang di jantungku

kau lahap hidupku penuh”

keduanya tidak menduga
oleh kata rasa menjelma bara neraka
oleh kata pula rasa
menderas airmata surga

yogyakarta, 14 oktober 2017

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Buku-buku karya Achid : (1) Buku puisi, Rumah Cahaya (1995). (2) Buku esai, Sastra Melawan Slogan (2000). (3) Buku kajian sastra, Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002). (4) Buku puisi, Ijinkan Aku Mencintaimu (2002). (5) Buku puisi, Tunjammu Kekasih (2003). (6) Buku puisi, Beribu Rindu Kekasihku (2004). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (2005). (9) Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). (10) Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009). (11) Buku puisi, Yang (2011). (12) Buku puisi, Kepayang (2012). (13) Buku puisi, Hyang (2014). (14) Buku Puisi, NUN (2016).

Hp. 0817271450; Website: www.wachid.8m.com; E-mail: [email protected] dan [email protected]; Twitter @abdulwachidbs; Facebook: www.facebook.com/abdulwachidbs

[1] Terinspirasi film “Now You Tell One” yang ditulis oleh Snow Leopard, sutradara Charles R. Bowers, Harold L. Muller, rilis 27-12-1926 di United States of America.

Baca Juga:  Madah Pecinta

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler