Provokasi AS-NATO dan Kesabaran Rusia

Provokasi AS-NATO dan Kesabaran Rusia
Provokasi AS-NATO dan Kesabaran Rusia/Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin/Independent.ie

NUSANTARANEWS.CO – Coba perhatikan ketika militer Ukraina dan kelompok teroris yang dikenal dengan Batalyon Azov melakukan pemboman dan pembunuhan terhadap rakyat Donbass sejak delapan tahun lalu yang mengakibat lebih lebih dari 15.000 ribu korban sipil dan kehancuran daerah pemukiman, dunia Barat diam saja.

Betapa Tidak bila Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan Uni Eropa sebagai pendekar demokrasi dan HAM dunia ternyata terlibat dalam menyokong kelompok teroris ala Zionis Israel di Ukraina – melatih, mempersenjatai dan mendanai pasukan teroris untuk melawan militer Rusia.

Pasukan AS-NATO jelas tidak berada di medan pertempuran tapi tentara proksi dari preman bayarannya terlibat aktif dalam pembantaian rakyat Dombas.

Modus proxy war yang didanai AS-Barat di Ukraina setali tiga uang dengan yang mereka luncurkan di Suriah pada 2011. Bila kudeta di Ukraina pada 2014 melalui “Revolusi Warna” berhasil – kudeta di Suriah dengan menunggangi “Arab Spring” gagal total karena milier Rusia turun tangan berperan aktif membantu Suriah sejak 2015 – atas permintaan resmi Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sekedar mengingatkan bahwa Rusia (Uni Soviet) tidak pernah menginvasi Afghanistan pada tahun 1979. Tapi Soviet diundang secara resmi oleh pemerintah Afghanistan yang diakui oleh PBB untuk membantu membangun infrastruktur, jalan, listrik, perawatan medis, telekomunikasi, dan pendidikan.

Tidak mengherankan ketika pasukan Soviet meninggalkan Afghanistan pada tahun 1989 –pemerintahan berfungsi dengan baik, militer yang lebih baik, termasuk ekonomi yang menjamin kelangsungan hidup rakyat Afghanistan.

Ya, Republik Demokratik Afghanistan (DRA) berhasil bertahan meskipun Uni Soviet runtuh pada tahun 1991. Baru setelah hilangnya dukungan Soviet – pasukan proxy yang didanai AS-Barat berhasil meruntuhkan pemerintahan Kabul pada April 1992.

Kembali ke Ukraina, kekhawatiran Rusia akan meluasnya invasi kelompok teroris sejenis Al-Qaeda dan ISIS ke wilayahnya kini menjadi kenyataan dengan munculnya kelompok neo-Nazi yang modus operandinya persis tentara Zionis Israel ketika mengusir warga Arab Palestina.

Ya, dunia sudah gila! Ketika AS-NATO dan Barat atas nama Demokrasi dan HAM dengan seenaknya menghancurkan sebuah negara, menggulingkan pemerintahan yang sah dan demokratis serta membunuh jutaan manusia tanpa pandang bulu malah dibenarkan?! Lihat Vietnam, Korea, Yugoslavia, Lebanon, Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan, Grenada, Guatemala, El Salvador, Nicaragua, Panama… dst.

Apakah di muka bumi ini sudah tidak ada orang yang memiliki akal sehat lagi. Bayangkan Zionis Israel selama hampir satu abad membantai bangsa Arab Palestina dibela matian-matian. Arab Saudi yang hampir setiap hari membambardir negeri Yaman dibiarkan bahkan mendapat pasokan senjata secara rutin dari AS dan Barat.

Kuba dan Venezuela yang tidak mau tunduk kepada hegemoni AS dan Barat dikucilkan dan diberi sanksi. Demikian pula dengan Iran dan Korea Utara, termasuk Rusia dan Cina.

Janji Presiden Bush senior kepada Gorbachev pada tahun 1990 bahwa NATO tidak akan bergerak lebih dekat ke perbatasan Rusia telah dilanggar.

Ketika NATO mencaplok tiga belas negara yang dulu disebut ‘Blok Timur’ – Rusia diam saja. Dengan kesabarannya Rusia telah menoleransi perilaku NATO yang agresif selama dua dekade terakhir tanpa mengeluh – sampai kelangsungan hidupnya kini terancam.

Betapa tidak bila dalam hampir satu dekade AS-NATO, Inggris, dan Kanada mempersenjatai, melatih dan mendanai kelompok-kelompok teroris ala Zionis Israel yang tergabung dalam militer Ukraina melancarkan perang genosida terhadap populasi berbahasa Rusia di wilayah Donbass. Garis merah telah dilanggar. Padamkan api sebelum membesar. Operasi khsusus pun dilancarkan Rusia atas permintaan Republik Rakyat Donetsk dan Lugans. (Agus Setiawan)