Connect with us

Politik

Propaganda ‘Firehouse of The Falsehood’ Dinilai Ancam Pemilu 2019

Published

on

Suasana batin menjelang dan sesudah Pemilu. Dok. Istimewa/Kompasiana

Suasana batin menjelang dan sesudah Pemilu. Dok. Istimewa/Kompasiana

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Gajah Mada Analitika, Herman Dirgantara menyebut teknik propaganda ‘Firehouse of The Falsehood‘ sebagai strategi kampanye kotor.

“Teknik propaganda ‘Firehouse of The Falsehood’ itu sebetulnya merupakan teknik strategi perang non-konvensional atau kotor. Sehingga tepat jika kasus drama ratna sarumpaet tidak berhenti pada satu orang saja. Perlu ditelusuri.” ujar Herman dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (7/10/2018).

Baca Juga:

Wakil Sekjend Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) ini pun menambahkan, teknik propaganda itu memiliki dua tujuan utama yakni menciptakan persepsi publik yang merugikan lawan politik dan menciptakan narasi kebohongan yang ‘continue’ sehingga menimbulkan simpati publik bagi yang menggunakan teknik tersebut.

“Jadi ada tujuan utama yang ingin dicapai. Pertama, menciptakan persepsi publik yang merugikan lawan politik. Kedua, di sisi lain pihak yang menggunakan agar mendapat simpati. Narasinya melalui kebohongan bersifat ‘continue’ yang menciptakan sudut pandang. Kalau memang terindikasi, saya katakan pemilu 2019 kita berada dalam ancaman serius,” tegas Herman.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, membantah pihaknya memakai teknik itu. Bantahan tersebut menyusul adanya tudingan dari kubu Jokowi-Ma’ruf yang memprediksi kubu Prabowo-Sandi sengaja menggunakan teknik ‘Firehouse of The Falsehood‘.

Simak:

“Sama sekali enggak ada. Kita orang yang murni-murni saja, dan enggak biasa berbohong. Itu bisa diselidiki,” kata Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10/2018) lalu.

Fadli mengatakan, pihaknya hanya memakai konsultan-konsultan politik dalam negeri. Dia menegaskan kubunya tidak memakai konsultan politik dari Rusia dan semacamnya. “Enggak ada. Setahu saya enggak ada. Kita pakai lokal-lokal saja,” ujarnya menambahkan.

Fadli pun mengaku pihaknya yang paling dirugikan dalam kontroversi kebohongan Ratna ini.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.

Advertisement

Terpopuler