Connect with us

Gaya Hidup

Problematika Preferensi Konsumsi Mahasiswa Kost

Published

on

Menikmati Kopi Blandongan masa kini/Foto Danu Saputra/via minumkopi

Menikmati Kopi Blandongan masa kini/Foto Danu Saputra/via minumkopi

NUSANTARANEWS.CO – Kehidupan mahasiswa merupakan salah satu topik yang tidak akan berhenti pada satu titik fokus saja, banyak topik yang dapat diangkat mengenai hal tersebut. Kodrat setiap individu untuk mempunyai kehidupan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut juga dapat diamati dari kehidupan mahasiswa. Mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa kunang-kunang dan mahasiswa kura-kura begitu familier sekarang ini. Akronim kehidupan mahasiswa tersebut menggambarkan perbedaan kebiasaan mahasiswa dalam kesehariannya.

Mahasiswa berada pada kisaran usia remaja menuju dewasa. Hal ini membuat orang tua seringkali mempercayakan mahasiswa untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Orang tua tidak lagi seprotektif seperti saat mereka kecil. Realita ini mendorong mahasiswa untuk lebih mandiri dan melakukan banyak hal yang dulu masih menjadi kewenangan orang tua.

Aktivitas ekonomi menjadi salah satu bentuk tanggung jawab yang didelegasikan oleh orang tua. Mahasiswa melakukan aktivitas ekonomi sehari-hari termasuk konsumsi. Konsumsi dapat dipengaruhi oleh faktor pendapatan, lingkungan, dan kebutuhan. Konsumsi mahasiswa sendiri tidak sama satu lain, mahasiswa yang tinggal bersama keluarga mempunyai konsumsi yang berbeda dengan mahasiswa yang tinggal terpisah dengan keluarga atau dikenal sebagai mahasiswa kost.

Pada umumnya, konsumsi mahasiswa berkisar pada bidang perkuliahan, seperti fotokopi, biaya internet, print tugas dan lain sebagainya. Lain halnya dengan mahasiswa kost yang dalam kesehariannya harus mengeluarkan biaya-biaya rutin. Konsumsi rutin mahasiswa kost meliputi makanan, transportasi, kebutuhan rumah tangga dan lain sebagainya. Sedangkan konsumsi yang tidak rutin meliputi setiap pengeluaran yang tidak terduga.

Berangkat dari realita kehidupan mahasiswa kost dengan segudang keperluan, seperti mengeluarkan uang untuk tugas, makan dan minum, transportasi, hiburan dan sebagainya. Kondisi yang seperti ini memaksa para mahasiswa kost harus bisa membagi kebutuhannya dalam skala prioritas. Terlebih mahasiswa belum mempunyai sumber penghasilan sendiri, satu-satunya sumber keuangan adalah uang saku dari orang tua.

Kebutuhan perkuliahan tentunya menjadi prioritas utama seorang mahasiswa. Oleh karena itu, sulit bernegosiasi untuk biaya keperluan perkuliahan, maka pemilihan makan dan minum bisa menjadi salah satu solusi bagi krisis keuangan yang biasanya dialami mahasiswa kost. Sekarang ini, makanan yang ada begitu bervariasi mulai dari bahan, cara pengolahan, rasa dan tingkat harga yang berbeda. Mahasiswa kost dapat menyasar range harga sebagai salah satu pertimbangan dalam memilih makanan yang sesuai dengan budget mereka.

Kegiatan konsumsi mahasiswa lambat laun akan membentuk suatu preferensi. Kotler dalam buku Manajemen Pemasaran mendefinisikan preferensi konsumen sebagai pilihan suka atau tidak suka oleh seseorang terhadap produk (barang atau jasa) yang dikonsumsi. Preferensi seringkali disebut sebagai “selera”. Berkaitan dengan hal ini preferensi konsumsi mahasiswa kost terhadap pemilihan makanan akan digiring oleh faktor-faktor tertentu, seperti harga, rasa, tempat, pengaruh lingkungan dan lain sebagainya.

Mahasiwa mempunyai pilihan dalam menentukan tempat makan. Tempat makan biasanya dapat berupa angkringan, rumah makan, restoran, kafe dan sebagainya. Masing-masing dari tempat makan menyediakan fasilitas yang berbeda dan mempunyai keidentikan dengan kelas pengunjung yang ada.

Tempat-tempat elite seperti restoran atau kafe unggul dalam penataan ruang hal kebersihan. Mulai dari bahan, cara pengolahan, kebersihan tempat, dan cara pengajiannya juga terlihat lebih higienis. Pengunjung restoran atau kafe biasanya merupakan kalangan menengah keatas. Berbeda jika dibandingkan dengan tempat-tempat biasa seperti angkringan atau rumah makan. Rasa makanan yang disajikan mungkin tidak kalah enak, tetapi kebersihan dari makanan tersebut sering diragukan. Pengunjung tempat makan ini biasanya merupakan kalangan menengah kebawah.

Pemilihan tempat makan ini berdasar pada preferensi konsumen. Mahasiswa kost tentu menyasar tempat makan yang sesuai dengan budget mereka. Semakin ketatnya persaingan usaha kuliner membuat para pelaku usaha berlomba untuk menghadirkan makanan yang enak dengan kebersihan yang terjamin dan harga terjangkau berorientasi pada preferensi konsumen atau selera pasar yang berkembang. Apalagi mahasiswa merupakan pangsa pasar yang tiada habisnya.

Lingkungan turut berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Tak hanya pengaruh dari dunia nyata seperti lingkaran pertemanan, media sosial juga membawa pengaruh yang signifikan. Perilaku konsumtif merupakan akibat negatif yang mampu memperparah krisis keuangan mahasiswa kost. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada kontrol diri mahasiswa.

Ada tips dan trik untuk mahasiswa kost dalam memilih menu makanan yang sehat dan harga terjangkau. Mahasiswa dapat melihat budget yang mereka punya. Jika budget pas-pasan mahasiswa dapat membeli bahan makanan mentah lalu diolah sendiri. Hal ini dapat menghemat pengeluaran, karena dengan cara ini bahan makanan dapat digunakan untuk konsumsi selama 1-2 hari dan kebersihan pasti terjamin. Jika mahasiswa merasa malas atau tidak sempat untuk mengolah atau memasak makanan, mereka dapat memilih tempat makan yang bersih dan harga terjangkau. Sebelum menentukan, mahasiswa dapat melihat menu dan harganya di media sosial atau mencari di internet. Teknologi sudah berkembang, sayang jika tidak digunakan. Cara tersebut dapat memberikan perkiraan bagi mahasiswa untuk menu apa yang akan mereka pesan nantinya dan tanpa takut kekurangan budget pastinya.

*Ditulis oleh Amira Khairunnisa, Diva Yunita, dan Suci Indah Ricky Anjaya. Para penulis merupakan mahasiswa aktif Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

____________________________________________

Referensi: Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. PT Prehallindo. Jakarta.

Terpopuler