Connect with us

Berita Utama

Presiden Assad: Operasi di Ghouta Timur Merupakan Kelanjutan Dari Perang Melawan Terorisme

Published

on

Presiden Bashar Assad dan Presdien Vladimir Putin

NUSANTARANEWS.CO, Suriah – Presiden Assad mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa operasi di Ghouta Timur merupakan kelanjutan dari perang melawan terorisme. Sementara itu, kelompok anti-pemerintah Suriah menolak tuntutan Rusia untuk melepaskan Ghouta Timur yang berada di pinggiran kota Damaskus.

Seperti diketahui, sejak pemerintah Suriah melancarkan operasi pembersihan pada tanggal 25 Februari, pasukan Suriah berhasil membersihkan kantong-kantong teroris utama dukungan Amerika Serikat (AS) di Gouta Timur.

Selama sembilan hari pertempuran, sepertiga Ghouta Timur berhasil direbut kembali secara sistematis oleh pasukan pemerintah dengan dukungan kekuatan udara Rusia. Sebuah capaian yang cukup mengesankan, di mana pasukan pemerintah berhasil mengalahkan teroris dan membelah Ghouta Timur menjadi dua bagian – sebuah strategi yang sama ketika membebaskan Aleppo Timur pada tahun 2016.

Keberhasilan pemerintah Suriah tersebut, telah membuat Gedung putih panik. AS mengecam operasi pembersihan teroris tersebut sebagai sebuah “pembantaian sipil” oleh Presiden Assad yang didukung oleh Rusia dan Iran, terhadap warga sipil di Ghouta Timur.

Presiden Trump meminta Rusia untuk menghentikan pemboman di Ghouta Timur, dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah Suriah atas memburuknya kondisi hak asasi manusia di wilayah tersebut yang disebabkan oleh ofensif militer pemerintahan Assad. Trump juga menuduh pasukan pemerintah menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil, termasuk pemblokiran bantuan kemanusiaan.

Padahal fakta dilapangan, meskipun resolusi Dewan Keamanan PBB 2401 telah dikeluarkan pada tanggal 24 Februari untuk menjamin keamanan bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis orang-orang yang terluka – kelompok teroris di Ghouta Timur terus mengintensifkan serangan terhadap Damaskus dan koridor kemanusiaan Muhayam-Al-Wafedin.

Bahkan para teroris dukungan AS tersebut telah membunuh warga sipil dengan brutal sekaligus menjadikan mereka sebagai tameng manusia.

Dari pusat rekonsiliasi Rusia di Suriah, Jenderal Yuri Zolotukhin mengatakan bahwa para teroris telah memberlakukan jam malam di Ghouta Timur dan  mengancam untuk menghukum siapa pun yang melanggarnya. Tindakan teroris ini dilakukan untuk mencegah warga Ghouta Timur melarikan diri menuju koridor kemanusian yang dikuasai pemerintah.

Pada hari Minggu, Presiden Assad mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan: “Kami akan terus memerangi terorisme. Operasi Ghouta merupakan kelanjutan dari perang melawan terorisme.”

Assad juga menegaskan bahwa masa depan politik Suriah harus diputuskan oleh orang-orang Suriah sendiri, bebas dari campur tangan asing.

“Sebelum menjalankan operasi di Ghouta, Kami sejak hari pertama sudah memberantas terorisme di setiap tempat. Kami sudah mulai di Aleppo, Homs dan Deir Ezzor. Operasi di Ghouta merupakan kelanjutan dari pemberantasan terorisme di berbagai tempat,” tambahnya.

Sementara itu, media mainstream Barat terus melancarkan “serangan udara” dengan bom-bom disinformasi yang memberitakan bahwa Ghouta Timur dikepung oleh “pasukan rezim Suriah” yang bersekutu dengan Rusia.

Sebagai informasi, sejak enam tahun lalu Ghouta Timur telah dikuasai oleh kelompok-kelompok teroris dukungan aliansi AS, Israel dan Arab Saudi seperti: Jaysh al Islam, Ahrar al Sham, dan Al Nusra Front. Dan Al-Nusra adalah kelompok teroris yang berada dalam daftar teroris internasional. Namun secara rahasia, CIA, M16, DGSE Prancis dan negara Teluk telah mensponsori gerakan mereka di Timur Tengah.

Pasukan pemerintah tampaknya dalam waktu singkat akan segera membersihkan Ghouta Timur dari pendudukan kelompok-kelompok teroris. Pertanyaannya apakah pasukan AS akan melakukan intervensi untuk mencegah pembebasan Ghouta Timur dengan alasan kemanusiaan palsunya?

Sebagai catatan, situasi yang sama juga sebelumnya menimpa kota Aleppo di Suriah. Namun setelah pasukan Suriah dan Rusia berhasil membebaskan kota tersebut pada akhir tahun 2016 – kehidupan warga Aleppo kembali pulih dan normal. Dan anehnya tidak ada media mainstream barat yang memberitakan situasi damai dan pluralis tersebut. (Agus Setiawan)

Komentar

Advertisement

Terpopuler