Connect with us

Rubrika

PP Pagar Nusa: Kalimat Thayyibah Harusnya Jadi Alat Pemersatu

Published

on

Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa akan menggelar Kongres III. Foto: Dok. SINDOnews

Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa akan menggelar Kongres III. Foto: Dok. SINDOnews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen menilai, polemik menyusul insiden pembakaran atribut bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kebetulan memuat kalimat tauhid oleh teman-teman Banser, di Garut, pada Senin (22/10/2018), harus menjadi bahan pelajaran buat semua.

“Terutama, bahwa kalimat tauhid tidak sepatutnya digunakan jadi alat pemecah belah bangsa. Salah satu kalimat thayyibah tersebut justru seharusnya jadi alat pemersatu,” kata Muchammad Nabil dalam keterangan resmi, yang dikutip nusantaranews.co, Rabu (24/10/2018).

“Karena selain sebaik-baik dzikir, kalimat tauhid secara subtansi juga berisi pengakuan kita bersama atas ke-ESA-an Allah,” imbuhnya.

Baca Juga:

Menurut Muchamad Nabil, yang dibakar oleh teman-teman Banser adalah atribut HTI bukan kalimat tauhid.

Loading...

Dia menegaskan bahwa, Banser seperti Pagar Nusa dan semua keluarga besar NU selama ini diajari memisahkan mana yang haq dan mana yang batil dalam memepertahankan NKRI.

“Bendera HTI adalah batil sedang kalimat tauhid adalah haq. Penghormatan terhadap yang haq tidak pernah berkurang sedikitpun, tetapi penindakan kepada yang batil (bendera HTI) adalah bagian pelaksanaan cinta tanah air dan bangsa,” jelas Nabil.

Sebagaimana lazim diketahui bersama, lanjutnya, ormas tersebut dilarang karena telah secara terang-benderang memiliki agenda politik bertentangan dengan konstitusi yang ada di negeri ini.

“Karena itu, kami berharap, polemik soal ini segera dihentikan. Sebab, sekali lagi perlu kami tegaskan, kalimat tauhid tidak sepatutnya digunakan untuk memecah-belah bangsa,” tandasnya.

Baca Juga:  Insiden Penyerangan Terhadap Wiranto Tersebar di Media Sosial

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler