Connect with us

Hankam

Potensi Ancaman Bagi Pemerintahan Jokowi-JK

Published

on

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Istimewa)

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Dalam rentang waktu 2014-2015 lalu, tekanan politik etnisitas Cina Indonesia (ECI) menguat. Wujud tekannya adalah pelarian modal nasional keluar negeri. Bagi banyak kalangan mengatakan aksi ECI ini sangat berat apa lagi dengan adanya aksi pialang. Hal itu mengakibatkan juga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD hingga mencapai Rp 15.095 per USD.

Namun saat itu Pemerintahan Jokowi-JK selamat karena ‘aksi pialang berhasil di-lobby’. Kali ini ancaman serupa kembali datang. Jika tekanan itu berlanjut hingga bulan Agustus 2018, pertanyaan yang harus dijawab akankah kembali selamat sebagaimana tahun 2015 silam?

Kewaspadaan atas tekanan politik etnisitas ECI dan aksi pialang sebagai bagian instrumen perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina perlu ditingkatkan. Dari perspektif politik etnisitas tampaknya Pemerintahan Jokowi-JK akan terbebani hingga ke tingkat terberat.

Ini sesuai temuan riil ekonomi Indonesia. Pertama, nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap USD. Data dari kurs.dollar.web.id pada 28 September 2015 nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat adalah beli Rp 14.655 per USD dan jual Rp 15.095 per USD. Sedangkan data dari www.seputarforex.com nilai tukar tanggal 27 September 2015 adalah beli Rp 14.535 per USD dan jual Rp 14.835 per USD. Terakhir menurut harian umum Kompas, Kamis, tanggal 15 Oktober 2015 beli (BI) Rp 13.489,00 per USD dan jual (BI) Rp 13.625,00 per USD.

Kedua, sepuluh orang terkaya di Indonesia. Warga ECI menempati posisi 10 orang terkaya di Indonesia. Berdasarkan data majalah Forbes November 2013, R. Budi Hartono dan Michael Hartono menduduki posisi teratas dengan kekayaan sebesar USD 15 miliar setara dengan Rp 165 triliun dengan kurs Rp 11.000.

Baca Juga:  Moeldoko CS Tuding SBY-AHY Serang Pemerintahan Jokowi, William Wandik: Mereka Gerombolan Orang Putus Asa

Dua besaudara ini berasal dari Djarum Group, perusahaan yang diwarisi dari orangtua mereka. Posisi kedua, ditempati oleh Eka Tjipta Widjaja dengan kekayaan sebesar USD 7 miliar setara dengan Rp 77 triliun pada kurs Rp 11.000. Posisi ketiga, ditempati oleh Anthony Salim dari Salim Group dengan kekayaan sebesar USD 6,3 miliar setara dengan Rp 69,3 triliun pada kurs Rp 11.000.

Posisi keempat, Susilo Wonowidjojo dari Gudang Garam dengan kekayaan sebesar USD 5,3 miliar setara dengan Rp 58,3 miliar pada kurs Rp 11.00. Posisi kelima, Chairul Tanjung dari CT Corp yang juga membawahi Trans Corp memiliki kekayaan sebesar USD 4 milar setara dengan Rp 44 triliun pada kurs Rp 11.00.

Posisi keenam, Sri Prakash Lohia dengan kekayaan sebesar USD 3,7 miliar yang setara dengan Rp 40,7 triliun pada kurs Rp 11.00. Posisi ketujuh, ditempati oleh Boenjamin Setiawan memiliki kekayaan sebesar USD 3 miliar setara dengan Rp 33 triliun pada kurs Rp 11.00. Posisi kedelapan ditempati oleh Peter Sondach dengan kekayaan sebesar USD 2,7 setara dengan Rp 29,7 triliun pada kurs Rp 11.00.

Posisi kesembilan ditempati oleh Mochtar Riady dengan kekayaan sebesar USD 2,5 miliar setara dengan 27,5 triliun pada kurs Rp 11.00. Sedangkan posisi kesepuluh ditempati oleh Sukanto Tanoto dengan kekayaan sebesar USD 2,3 setara dengan 28,3 triliun pada kurs Rp 11.00.

Ketiga, pelarian modal keluar negeri oleh warga kelompok ECI. Lembaga konsultan McKinsey & Company memproyeksi, bahwa dana orang kaya Indonesia yang diparkir di luar negeri dalam bentuk deposito mencapai sekitar US$ 250 miliar atau senilai Rp 2.500 triliun (kurs 1 dolar AS = Rp 10.000) pada 2016. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 200 miliar diparkir di Singapura. Hanya sekitar US$ 50 miliar yang parkir di luar Singapura.

Baca Juga:  Ke Mana Pahlawan Itu?

Dana ini kalau bisa masuk ke Indonesia dapat mendorong pasar keuangan di Indonesia kata Gullaume dalam diskusi financial deepening Mandiri Institute dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Jumat (19/12). Diketahui pula bahwa antara tahun 1998-2000, modal dalam negeri yang larikan ke luar negeri oleh warga kelompok etnis Cina Indonesia sebesar lebih kurang USD 200 miliar. Sementara cadangan devisa Indonesia menurut data yang dikeluarkan Bloomberg, cadangan devisa Indonesia di awal tahun 2015 ini berada di urutan ke 16 dengan total USD 115,53 miliar.

Keempat, investor cina cenderung menyesatkan pemerintah RI. Indikasinya adalah proposal pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung dengan kecepatan 320 km/jam. Proposal proyek itu diajukan oleh Jepang yang dikawal oleh Izumi Hiroto penasehat PM Jepang dan Cina dikawal oleh Xie Feng Duta Besar RRC di Jakarta.

Perbandingan Proposal pembangunan kereta api cepat Jepang-Cina adalah Jepang Shinkansen tanpak kecelakaan selama 50 tahun sedangkan Cina Railway High Speed (CRH) 2011 kecelakaan tabrakan mengakibatkan 35 orang tewas dan 192 orang lainnya luka-luka. Jepang pembiayaan Pemerintah RI 15 % sedangkan Cina tanpa pembiayaan Pemerintah RI. Total investasi Jepang Rp 60 triliun sedangkan Cina Rp 74 triliun dan sama-sama di luar biaya pembebasan lahan. Feasibily study Jepang diselesaikan 16 bulan sedangkan Cina diselesaikan 3 (tiga) bulan. Kemudian Menteri BUMN Rini Soemarno mendukung proposal Cina.

Oleh: M.D. La Ode, Penulis adalah Ahli Politik Etnisitas

Terpopuler