Posko Menangkan Pancasila: 70% Tanah Dikuasai Korporasi Perkebunan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kordinator Posko Menangkan Pancasila Kota Makassar Zainal Mappatoba menuturkan sekarang ini ada dua hal yang menjadi ancaman bangsa Indonesia. Pertama, polarisasi karena maraknya penggunaan isu SARA dan mengumbar kebencian dalam suksesi politik.

“Ini tentu hal buruk bagi Persatuan Nasional dan Kebhinekaan kita, khususnya menghadapi momentum pilkada tahun ini dan pemilu 2019,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (24/3/2018).

Pesoalan kedua, kata Zainal, kesenjangan ekonomi yang semakin menjadi-jadi.

Baca juga: Kekayaan 4 Orang Indonesia Setara Dengan 100 Juta Penduduk

Dia menjelaskan, jika melihat data yang dikeluarkan Oxfam, 1 % penduduk Indonesia, menguasai hampir 50% aset dan kekayaan nasional. Menurut Oxfam, 4 orang super kaya Indonesia, setara dengan gabungan kekayaan 40% atau 100 juta penduduk miskin di negeri ini.

Sedangkan menurut data Credit Suisse tahun 2017, 1% orang terkaya menguasai 49,3% kekayaan nasional. Begitu juga penguasaan tanah, dalam rilisnya KPA menyampaikan, 71% tanah dikuasai korporasi perkebunan, ini belum termasuk penguasaan tanah sektor pertambangan.

Baca juga: Hari Tani Nasional, SPMN: Semangat Ciptakan Redistiribusi Lahan Tinggal Angan-angan

“Kesejahteraan dan kebahagiaan hanya menjadi milik segelintir orang, sementara mayoritas lainnya terus bergelut dengan berbagai macam kesulitan hidup,” ucapnya.

Liberalisasi di lapangan ekonomi dan politik membuat bangsa ini makin menjauh dari semangat musyawarah dan gotong royong,” tambah Zainal.

Dia menuturkan, dominasi modal asing dan oligarki, membuat bangsa ini makin jauh dari cita-cita mandiri dan berkeadilan sosial.

Baca juga: Ketimpangan Dinilai Ancaman Nyata Bagi Kesatuan dan Persatuan Bangsa

Berdasar hal tersebut, kami dari Posko Menangkan Pancasila (PMP) Kota Makassar akan menggelar Parade dan jalan santai menangkan Pancasila Minggu, 25 Maret 2018 di Benteng Fort Roterdam menuju anjungan Pantai Losari,” pungkasnya. (red)

Baca Juga:  Ketimpangan Ekonomi Diperlebar oleh Terkonsentrasinya Modal di Pusat

Pewarta: Alya Karen
Editor: Eriec Dieda