Connect with us

Mancanegara

Posisi Amerika, Pakar Timur Tengah UI: Dari Mediator menjadi Provokator

Published

on

Polisi Keamanan Israel Menjaga Masjid Al Aqsa/Foto via monitor/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Yarusalem yang dicetuskan secara sepihak sebagai Ibu Kota Israel menjadi perbincangan panas dunia. Pakar Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Abdul Mutaali menilai pernyataan Trump secara langsung mempertegas posisi Amerika hari ini.

“Dulu kita hanya menerka ‘skandal perselingkuhan’ Tel Aviv dan Washington. Hari ini, perselingkuhan itu sudah berani mengumumkan jatidirinya,” jelas Mutaali dalam keterangannya, Jumat (8/12/2017).

Sebagaimana diketahui, Amerika melalui presidennya, Donald Trump 6 Desember 2017 pukul 1 siang waktu Amerika sudah menandatangani dokumen Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel. Dimana Trump juga menginstruksikan pemindahan Kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerussalam.

“Kali ini, Amerika bukan lagi mediator tapi provokator. Selamat tinggal perjanjian Camp David hingga Washington. Inilah presiden jaman now. Tidak menghargai sejarah dan kemanusiaan,” ujar Mutaali.

Trump, kata dia, mungkin mendapat bisikan dari arwahnya Balfour, Perdana Menteri Inggris yang bermimpi agar suatu saat nanti Israel punya negara pada November 1917, sejarah catat sebagai Balfour Declaration.

“Trump mendapat bisikan Balfour entah dari mana, mungkin juga dari menantunya, suami tercinta Ivanka Trump, Sang Yahudi -kita hanya menerka- yang pasti Yerussalam sudah menjadi Ibu Kota Israel versi Amerika sejak Rabu kemarin. Balfour yang bermimpi, Trump yang merealisasi, Trump Declaration 2017,” ungkapnya.

“Selamat datang rakyat Palestina. Kalian mendapat lembaran perjuangan baru yang nyaris tak bertepi. Perjuangan kalian seperti para Nabi, tak henti dari intervensi. HAM hanya slogan yang fasih di forum seminar yang hambar di negeri para Nabi. Selamat datang HAMAS dan Fattah. Rekonsiliasi kalian disambut Trump dengan hilangnya Yerussalam dari tanah kalian,” imbuhnya.

Baca Juga:  Trump Jadi Presiden AS, Eva Sundari: Ekonomi Kita Akan Melemah

https://youtu.be/HFFfaOXjoUA

Mutaali juga mengatakan bahwa, Trump Declaration 2017 ini, dikecam Turki, Rusia, China, Yordania, dan Iran. Sangat disayangkan negara sebesar Amerika tidak sebesar penghormatannya kepada kemanusiaan dan peradaban. Kasihan Palestina, banyak saudaranya, apalagi tetangga kawasannya, jangankan untuk membantu konflik internalpun butuh bantuan Amerika.

“Barangkali Indonesia, yang dinanti oleh Palestina. Negeri ini dewasa, kaya, dan bijak dalam menyikapi keragaman. Presiden pertama bangsa ini, Soekarno pernah berjanji: “selama Rakyat Palestina belum mendapat kemerdekaannya, selama itu pula bangsa Indonesia berjuang bersama Rakyat Palestina”. Kalau Trump merealisasikan janji Balfour, lalu siapakah yang akan merealisasikan janji Soekarno?,” tandasnya.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler