Connect with us

Hankam

Polres Ponorogo: Kelompok Radikal Hendak Gantikan Pancasila dan UUD 1945 dengan Hukum Islam

Published

on

wakapolres ponorogo, polres ponorogo, kompol suharsono, pmii ponorogo, ipnu ponorogo, dandim ponorogo, insuri ponorogo, hukum islam, radikalisme, terorisme, kelompok radikal, dialog ponorogo, nusantaranews

Dialog interaktif bertajuk Pemuda Indonesia di Tengah Tantangan Radikalisme dan Terorisme yang digelar PC PMII dan IPNU Ponorogo di Kampus Institute Sunan Giri (Insuri) Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (27/7/2018). (Foto: Erwan Dwi Wahyunanto)

NUSANTARANEWS.CO, Ponorogo – Wakapolres Ponorogo Kompol Suharsono mengatakan radikalisme merupakan paham yang merasa benar di hadapan Tuhan sehingga pandangan agama lain dianggap sesat. Dan kelompok tersebut hendak menggantikan Pancasila dan UUD 1945 dengan hukum Islam.

“Bahkan agama Islam yang tidak sesuai dengan pahamnya harus dilawan dan dianggap sesat, sehingga dalam memperjuangkan akidahnya boleh membunuh degan cara apapun selain itu mereka juga bertujuan mendirikan negara Islam,” katanya saat dialog interaktif bertajuk Pemuda Indonesia di Tengah Tantangan Radikalisme dan Terorisme yang digelar PC PMII dan IPNU Ponorogo di Kampus Institute Sunan Giri (Insuri) Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (27/7/2018).

“Menurut mereka di Indonesia para pelaku radikalisme dan terorisme berkeinginan untuk mengganti Pancasila dan UUD’ 45 dengan hukum Islam yang mereka anut,” tambahnya.

Sementara itu, anggota PMII dan IPNU/IPPNU diminta agar menjadi pelopor pelaksanaan empar konsesus kebangsaan yakni Pancasilam UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Sebab, dengan dimilikinya imunitas bangsa tersebut, Indonesia akan lebih kuat dalam rangka menghadapi kemajuan dan perkembangan jaman.

“Dengan dimilikinya imunitas bangsa ini, bangsa Indonesia akan lebih kuat dalam rangka menghadapi kemajuan perkembangan jaman di wilayah regional maupun internasional,” kata Mayor Inf M Yusup.

Menurut Kasdim 0802 Ponorogo ini, radikalisme dan terorisme harus ditangkal dari akar rumput. Dirinya mengajukan gagasan untuk melaksanakan kepanjangan dari kata Warok yakni waspada terhadap radikalisme, rekatkan silaturahmi, toleransi dan kerjasama masyarakat, optimalkan Siskamling.

Baca Juga:  Trump Tidak Akan Membuat Korut Tergesa-gesa Soal Denuklirisasi

“Dan juga aturan wajib lapor bagi pendatang baru dan ketahui, kuasai dan laporkan informasi atau kejadian menonjol kepada Babinsa dan Bhabinkamtibmas,” terangnya.

Kemudian, Purwo, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo dalam dialog tersebut menuturkan bahwa paham radikal telah menyerang generasi terpelajar melalui organisasi pelajar yang terintegrasi kepada kelompok-kelompok radikal. Dia mengingatkan pentingnya pendidikan karakter yang tidak hanya dilakukan di lingkungan pendidikan formal, tetapi juga harus adanya partisipasi aktif dari keluarga serta lingkungan.

“Demi terhindarnya kelompok pelajar dari paham radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Ratusan pelajar dan kade PMII dan IPNU menghadiri dialog interaktif ini. Ketua panitia, Ichwan Nur Hakim mengatakan bahwa PMII dan IPNU Ponorogo siap berada di garda terdepan untuk membentengi generasi muda dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Pewarta: Erwan Dwi Wahyunanto
Editor: M Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler