Connect with us

Ekonomi

Politisi PDIP: Sangat Mungkin di Kaltara Berdiri Pabrik CPO

Published

on

perkebunan sawit, pungutan ekspor cpo, ekspor cpo, sistem rente sawit, konglomerat sawit, biodiesel, konglomerat biodiesel, industri biodiesel, uu perkebunan, usaha perkebunan sawit, sawit indonesia, nusantaranews, nusantara, nusantara news, nusantaranewsco, subsidi biodiesel, pemilik industri biodiesel, sistem rente, petani sawit, pejabat bpdks, agribisnis kelapa sawit, harga tbs, harga cpo indonesia, harga cpo

Sejumlah truk bermuatan kelapa sawit antre di depan salah satu pabrik pengolahan di Masihi, Asahan, Sumatra Utara. (Foto: Ilustrasi/agribisnis.co.id)

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Pabrik CPO diwacanakan berdiri di Kalimantan Utara (Kaltara) oleh politisi PDIP, Deddy Sitorus. Dia angkat bicara terkait permasalahan tidak stabilnya harga CPO Sawit terutama dari para petani di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Menurutnya, untuk memangkas ketergantungan ekspor CPO seperti saat ini, salah satu solusi yang paling tepat adalah mengupayakan berdirinya Pabrik Pengolahan turunan CPO di Kalimantan Utara.

“Sangat mungkin, kuncinya di infrastruktur dasar seperti jalan dan listrik. Jika itu terbangun, maka investor sudah pasti akan datang sendiri untuk membangun Parik CPO,” ujarnya , Selasa (19/3/2019).

Tak hanya Pabrik CPO, namun pria yang juga menjabat Wakil Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin tersebut meyakini, apabila insfratruktur dasar termasuk pelabuhan tersebut terbangun dengan baik maka Pabrik Pengolahan/Pengalengan Ikan maupun Pabrik Pengolahan Rumput Laut pasti akan berdiri.

“Dalam berinvestasi, para investor itu yang dilihat pertamaka kali selain pertimbangan produksi, juga jalan nya, air dan listriknya. Kalau semua itu terpenuhi, maka tak ada alasan untuk tidak berinvestasi,” imbuhnya.

Dari segi insfratruktur dasar, Deddy mengungkapkan perlunya jalan yang mempunyai akses langsung ke area perkebunan para petani (Jalan Tani). Karena menurutnya, dengan terbangunya jalan tani tersebut, maka semakin memudahkan para petani berkativitas terutama untuk pengangkutan saat panen.

Loading...
jokowi-ma'ruf amin, wilayah luar jawa, kampanye luar jawa, tkn, dedy sitorus, wilayah rajawali, masyarakat luar jawa, nusantaranews, nusantara news

Wakil Direktur TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Dedy Sitorus, Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (3/2/2019). (Foto: Eddy Santri/NUSANTARANEWS.CO)

Sementara untuk menunjang terpenuhinya kebutuhan listrik, Deddy menuturkan saat ini Pemerintah mengupayakanya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan Utara, sekaligus jaringan transmisi sepanjang 200 kilometer (km) guna mendukung rencana pendirian smelter aluminium di wilayah Kalimantan.

Baca Juga:  PTKIN se-Kalimantan Gelar Borneo Undergraduate Academic Forum

Rencananya, pembangunan smelter aluminium dengan kapasitas 500.000 ton per tahun tersebut memerlukan listrik 767 megawatt (MW) dan gas 3.341 MMBTU per hari tersenut, Inalum akan membangun PLTA dengan kapasitas 850-1700 MWBila semua lancar, perusahaan ini akan mulai kontruksi pada 2019 sehingga bisa mendukung produksi smelter pada 2024.

Smelter tersebut terdiri dari pabrik wire rod dengan kapasitas 100.000 ton per tahun, pabrik billet dengan kapasitas 100.00 ton per tahun, serta pabrik alloydengan kapasitas sebesar 300.000 ton per tahun. Untuk smelter Kaltara ini, perusahaan mengalokasikan investasi US$1 miliar atau Rp14 triliun.

“Sungai Kayan, sejauh ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi PLTA dengan kapasitas 6.080 MW. Bahkan, untuk seluruh wilayah Kalimantan Utara termasuk Mentarang, Bahau, Malinau, dan Sembakung terdapat potensi hingga 10.830 MW,” papar Deddy.

Dengan terbangunya PLTA tersebut, menurut Deddy Pemerintah juga akan membuka pintu-pintu industri yang imbasnya adalah semakin terbuka lapangan kerja, yang dengan hal tersebut otomatis perputaran uang di Kalimantan Utara ini semakin meningkat.

“Dan sudah pasti investor akan berdatangan termasuk untuk mendirikan Pabrik CPO di Kaltara ini,” pungkasnya.

Pewarta: Eddy Santri
Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler