Connect with us

Lintas Nusa

Polarisasi pasca Pilpres Menguat, Sek. Rektor UMS: Mahasiswa Pelopor Persatuan

Published

on

Silaturrahmi dan Buka Bersama BEM Soloraya di Aula Sido Luhur UNIBA, Rabu (15/05). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Muchlas J)

Silaturrahmi dan Buka Bersama BEM Soloraya di Aula Sido Luhur UNIBA, Rabu (15/05). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Muchlas J)

NUSANTARANEWS.CO, Surakarta – Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah lama usia. Meski begitu, polarisasi dan perselisihan masyarakat terus terasa hingga kini. Perpecahan dan pertengakran, terutama di media daring, nyaris tak henti-henti. Pemilu kali ini terlihat begitu menguras energi bangsa.

Rektor Universitas Islam Batik Surakarta, Dr. Pramono Hadi, menyinggung bahwa kontestasi Pilpres kali ini menimbulkan efek panjang bagi masyarakat. Terbukti, alih-alih rekonsiliasi yang digaungkan pasca Pilpres, yang terlihat justru menajamnya perselisihan.

“Perpecahan di masyarakat itu justru menciptakan snowball effect yang terasa hingga sekarang. Kita lihat betapa polarisasi itu terus meruncing di kalangan masyarakat dan elite. Tentu ini bahaya,” ungkapnya saat mengisi diskusi pada kegiatan Silaturrahmi dan Buka Bersama BEM Soloraya di Aula Sido Luhur UNIBA, Rabu (15/05/2019).

Disebutkan Pramono, polarisasi yang terus ditampilakn elite tidak sekadar berbahaya pada bangunan demokrasi Pancasila, tetapi juga terhadap harmonisasi masyarakat bawah. Pasalnya, kata dia, perseteruan elite berimbas pada kondisi sosial di akar rumput.

“Karena itu, menurut saya, yang terpenting hari ini adalah usaha kembali merawat persatuan dan kedamain masyarakat. Persatuan bangsa bahkan jauh lebih penting ketimbang kontestasi politik yang sifatnya hanya temporal,” terang alumnus pemberdayaan masyarakat UNS itu.

“Bagi kalangan muda dan mahasiswa, jangan muda terprovokasi dengan isu yang berpotensi memecahbelah. Karena prinsipnya, pasca Pilpres ini, tidak ada lagi o1 dan o2, diganti 03 Pancasila, yakni Persatuan Indonesia,” imbuh dia.

Pelopor Persatuan

Loading...

Sementara itu, Sekretaris Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Anam Sutopo, M. Si, membenarkan bahwa polarisasi dan perselisihan antar masyarakat masih terus terjadi sampai sekarang. Padahal, kata dia, perbedan pandangan dan pilihan adalah sunnatullah yang harus saling dihormati.

“Proses demokrasi di Indonesia membuat semua hal terbelah. Masyarakat terbelah, mahasiswa terbelah, elite dan tokoh agama juga ikut terbelah. Padahal kita tahu perbedaan pandangan dan pilihan mestinya disikapi bijak dengan berusaha tidak saling bergesekan,” terang Anggota Majelis MPI PP Muhammadiyah itu.

Anam Sutopo menjelaskan, kalangan mahasiswa dan pemuda mesti menjadi penggerak sekaligus pelopor persatuan dan keakraban di tengan polarisasi pasca Pilpres. Mahasiswa dengan beragam perannya dipercaya mampu menjadi pelopor rekonsiliasi masyarakat.

“Setelah kontestasi Pemilu usai, mahasiswa mesti ambil peran sebagai pelopor persatuan. Mahasiswa harus mengajak masyarakat, menyerukan kalangan elite, untuk berhenti berselisih. Saatnya kita berdamai dan merawat kemajemukan,” pungkas dia.

Untuk diketahui, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Soloraya selenggarakan kegiatan Musyawarah BEM dan Buka Bersama bertajuk “Ramadhan dan Momentum Persatuan: Merawat Keakraban dalam Kebhinnekaan”. Kegaitan yang dihelat di Aula Sido Luhur UNIBA pada Rabu (15/04) ini diikuti oleh ratusan BEM dari belasan kampus di Soloraya.

Sebelum diskusi, BEM Soloraya menyampaikan Deklarasi Indonesia Damai yang dipimpin oleh Ketua Umum BEM Soloraya, Muhammad Arief Okysa, dan diikuiti oleh seluruh peserta. Poin deklarasi tersebut antara lain (1) Berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan tetap menjaga kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kemudian (2) Berkomitmen untuk terus melawan segala bentuk fitnah, informasi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang bisa meretakkan kehidupan berbangsa; (3 )Bersedia bergerak mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama terlibat menjadikan negara berdaulat, adil, dan makmur, berdasarkan cita-cita pendiri bangsa. (Muchlas Jaelani)

Editor: Achmad S.

Terpopuler