Connect with us

Mancanegara

Plan for a New American Century dan Penaklukan Bolivia

Published

on

Plan for a New American Century dan Penaklukan Bolivia

Plan for a New American Century dan Penaklukan Bolivia

NUSANTARANEWS.COPlan for a New American Century dan penaklukan Bolivia. Revolusi Warna, tampaknya telah melanda Amerika Selatan menerpa Kolombia, Honduras, Argentina, Paraguay, Ekuador, Chili, Brazil, dan Uruguay yang kemungkinan tidak lama lagi menyusul atau takluk. Revolusi Warna bukanlah suatu kejadian abrakadabra yang tiba-tiba muncul seperti sulapan. Di balik itu, ada sebuah proses panjang selama bertahun-tahun untuk mempersiapkan benihnya hingga waktunya panen.

Demikian pula kudeta terhadap Presiden Evo Morales telah dipersiapkan selama bertahun-tahun. Sudah dimulai jauh sebelum Morales terpilih untuk pertama kalinya. Washington telah menyadari potensi perlawanan rakyat Bolivia ketika menggulingkan dua presiden pilihan Washington, pada tahun 2003 dan 2005. Dengan sabar Amerika Serikat (AS) lalu mempersiapkan rencana jangka panjang untuk menguasai Bolivia. Morales diberi waktu satu dekade untuk menjadi Presiden Bolivia. Lalu disingkirkan. Luar biasa AS!

Ketika waktunya tiba, AS tidak peduli dengan kemenangan Evo Morales yang terpilih secara demokratis. Dengan kata lain, setiap pemilihan Presiden di Amerika Latin yang tidak memenangkan kandidat pilihan Washington maka oleh media Barat akan dilaporkan sebagai pemilu curang dan tidak sah.

Bahkan AS telah membeli komandan-komandan militer Bolivia yang korup untuk menggulingkan Morales. AS menguasai militer di hampir seluruh Amerika Selatan, Ini memang gaya AS sejak dulu. Jadi wajar saja bila Washington dapat dengan mudah campur tangan di seluruh pemerintahan Amerika Latin.

Di Amerika Latin semua terbiasa dibeli. Mungkin hanya tersisa Kuba, Venezuela, dan Nicaguara yang tetap menentang hegemoni AS di kawasan regional. Kegigihan AS ini tidak telepas dari PNAC (Plan for a New American Century) sebuah rencana besar yang dibuat setelah berakhirnya Perang Dunia II – dan terus diperbaiki dan diperbaharui. Dulu dikenal dengan istilah “PAX Americana” – kini disebut PNAC yang semakin kuat dayanya dan semakin rakus makannya.

Baca Juga:  Masyarakat Madiun Bersholawat bersama Habib Syech

Kudeta terhadap Presiden Morales bukan hanya karena Washington tidak suka dengan pemerintahan “sosialis” di “halaman belakang”-nya. Tetapi lebih karena nafsu besar AS yang terangsang melihat kekayaan sumber daya alam Bolivia begitu besar. Minyak, gas, mineral, dan terutama cadangan lithiumnya yang sangat besar: “Terbesar kedua di dunia.”

Seperti diketahui, kebutuhan lithium diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat dalam satu dekade mendatang untuk baterai kendaraan listrik di masa depan. Mengikuti Gerakan Hijau yang semakin pesat perkembangannya yang mendesak meninggalkan penggunaan bahan bakar hidrokarbon.

AS tidak peduli dengan satu dekade keberhasilan Morales yang luar biasa dalam dalam mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, memberantas buta huruf sehingga mendapat penghargaan UNESCO, indeks kesehatan yang meningkat, pertumbuhan ekonomi yang kuat sehingga terlepas dari jeratan hutang IMF, upah minimum, tunjangan pensiun, perumahan yang terjangkau.

Sesuai dengan pembukaan UUD 1945, Presiden Morales selama satu dekade lebih telah berusaha sekuat tenaga untuk “memajukan kesejahteraan umum”. Dan berhasil.

Namun Washington yang telah mempersiapkan diri lama, menggunakan momen pemilu 2019 untuk memukul balik Presiden Morales. AS bahkan membuat film tentang kecurangan pemilu di Bolivia “Our Brand is Crisis” film dokumenter produksi Amerika tahun 2005 – yang dibuat oleh James Carville asisten Presiden Clinton.

Diluar pembelian pejabat-pejabat strategis Bolivia, CIA juga menggunakan tangan “sah” Organisasi Negara-negara Amerika (OAS). Duta Besar AS tanpa tedeng aling-aling menawarkan 60% anggaran operasional OAS menjelang persiapan kudeta.

Menariknya, beberapa hari menjelang pemilihan 20 Oktober, Capres Carlos Mesa tiba-tiba mendapat kenaikan elektabilitas hingga hampir 20% – sesuatu yang tidak mungkin dalam situasi normal. Hasil pemilihan Mesa mendapat 37% dan Morales 47%. Sebelum penghitungan berakhir Uni Eropa mengeluh bahwa telah terjadi penyimpangan pemilu. Padahal penyimpangan pemilu sesungguhnya adalah saat terjadi peningkatan drastis terhadap elektabilitas Mesa dari 22% menjadi 37%.

Baca Juga:  Militer AS Menjalankan Operasi Penyelundupan Minyak di Suriah

Ketika Morales menyatakan kembali memenangi pemilu 2019, kerusuhan langsung meletus di seluruh negeri, terutama Santa Cruz yang kaya minyak – wilayah kaum oligarki dan elit kulit putih Bolivia. Aksi protes berlangsung selama tiga minggu sampai pada 10 November, Morales ditekan untuk mundur oleh Panglima Militer Tertinggi Bolivia yang didukung oleh OAS.

Sementara gerakan fasis kulit putih semakin ganas menyerang penduduk pribumi. Dikabarkan telah lebih dari 20 orang tewas selama aksi kekerasan berlangsung.

Presiden Morales, wakil presiden Alvaro Linera dan sebagian besar kabinetnya yang terancam kemudian meminta suaka politik ke Meksiko. Demikian pula dengan Presiden Senat, Adriana Salvatierra, yang seharusnya menjadi Presiden sementara Bolivia menurut Konstitusi, dipaksa mundur. Begitu pula Victor Borda, pemimpin Kamar, dan Rubén Medinaceli, Wakil Presiden Pertama Senat. Mereka semua dipaksa mengundurkan diri. Sekitar 20 pejabat tinggi Pemerintah Morales berlindung di Kedutaan Besar Meksiko di La Paz, sebelum mereka terbang ke Meksiko.

Meski Morales telah mengasingkan diri di Meksiko, jutaan pendukungnya bersama Gerakan Menuju Sosialisme (MAS) terus melakukan demonstrasi damai menuntut pengembalian Presiden Morales. Tetap saja aksi damai itu mendapat serangan kekerasan secara brutal dari pasukan militer dan polisi yang telah dilatih oleh AS.

Masih ada harapan. Sejarah membuktikan bahwa rakyat Bolivia adalah pejuang tangguh dalam membela hak-hak mereka. Tahun 2003 dan 2005 rakyat Bolivia telah menggulingkan dua Presiden antek asing berturut-turut dan kemudian memilih Morales sebagai presiden melalui pemilihan umum yang demokratis dan disaksikan dunia internasional pada 2006. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler