Connect with us

Politik

Pilpres Semakin Keras, Jimly Asshiddiqie Minta Gaya Menyerang Pribadi Dihentikan

Published

on

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie meminta kubu Jokowi dan juga kubu Prabowo Subianto untuk menghentikan gaya menyerang pribadi. (Foto: Romandhon/NUSANTARANEWS.CO)

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie meminta kubu Jokowi dan juga kubu Prabowo Subianto untuk menghentikan gaya menyerang pribadi. (Foto: Romandhon/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mencermati pertarungan Pilpres 2019 yang semakin keras, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie meminta kubu Jokowi dan juga kubu Prabowo Subianto untuk menghentikan gaya menyerang pribadi.

“Kalau capres cawapres yang sendiri saling menyerang, reaktif dan ofensif itu berpengaruh dan ditiru lebih kasar lagi di lapangan,” kata Prof Jimly usia mengisi acara di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Baca juga: Soal Debat Menyerang Pribadi, KPU: Kita Tidak Bisa Prediksi Jawaban Mereka

“Jadi saran saya, udah lah ikutin aja ketentuannya. Kita gak bisa terlalu keras di dalam memperdebatkan ide. Itu aja. Dan jangan menyerang pribadi,” sambungnya.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut, kedua paslon capres-cawapres 01 dan 02 diminta untuk tidak saling menjatuhkan.

Loading...

“Cukup visi misi ide, gak usah bermaksud menjatuhkan saingan,” ujar Jimly

“Sebab kalau kita evaluasi 60 hari ini atau dua bulan ini, kaya makin mengeras (situasinya). Kiri kanan. Hitam putih. Jadi harus dihentikan,” kata dia.

Baca juga: Debat Perdana, Natalius Pigai: Pengetahuan Jokowi Belum Kelasnya Kepala Negara

Dari mana caranya untuk menghentikan itu semua? “Dari pimpinannya,” tegasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya serangan Paslon 01 kian gencar dilakukan oleh capres Joko Widodo (Jokowi). Misalnya pada kesempatan berkunjung di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dihadapan ribuan simpatisannya, Jokowi menuding Prabowo menggunakan propaganda Rusia dan menyemburkan fitnah hoax.

Sebaliknya, saat bersamaan dengan merujuk sejumlah data, kubu oposisi melontarkan kritik atas sejumlah kebocoran uang negara selama pemerintahan petahana.

Baca Juga:  KPK Diminta Mensupervisi dari Polri dan Kejagung Karena Ada Tarik Ulur Kasus Kondensat

Baca juga: Benarkah Kubu Jokowi Mainkan Politik Belah Bambu?

Baca juga: Jokowi Dinilai Memukul Air Terpercik Ke Muka Sendiri

Prabowo dalam studi singkatnya yang kemudian diangkat di dalam buku bertajuk Paradoks Indonesia, merinci setidaknya sebanyak 20 persen atau setara Rp 500 triliun kebocoran uang negara terjadi.

Namun sejumlah pihak menilai kebocoran yang terjadi dinilai jauh lebih besar jika dibandingkan dengan apa yang disampaikan oleh Prabowo Subianto.

Pewarta: Romandhon
Editor: Banyu Asqalani

Loading...

Terpopuler