Connect with us

Khazanah

Peusaba: Kembalikan Artefak dan Data Situs Aceh Yang Dihancurkan Belanda

Published

on

Kembalikan artefak dan data situs Aceh yang dihancurkan Belanda.

Peusaba: Kembalikan artefak dan data situs Aceh yang dihancurkan Belanda. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte berjanji akan mengembalikan artefak Indonesia yang disimpan oleh Belanda sejak zaman kolonial, saat bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Jakarta.

NUSANTARANEWS.CO, Aceh – Peusaba: Kembalikan artefak dan data situs Aceh yang dihancurkan Belanda. Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman menuntut Belanda agar segera mengembalikan artefak kesultanan Aceh Darussalam yang telah dirampas semasa perang. Terutama Nisan Emas dari makam Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Tsani, dan Sultanah Safiatuddin.

Mawardi mengaku telah membaca berita tentang rencana pemerintah Belanda yang akan mengembalikan 1.500 artefak berharga milik Indonesia, termasuk berlian 70 Karat milik Kerajaan Banjar terkait dengan penutupan Museum Nusantara di Delft, Belanda.

Menurut Mawardi rampasan Belanda di Kesultanan Aceh Darussalam juga sangat banyak. Selain nisan emas, keranda emas milik Sultan Iskandar Tsani dengan 5 kg emasnya juga belum dikembalikan hingga kini.

Mawardi juga meminta pihak Belanda agar mengembalikan data tentang kawasan Istana Darul Makmur Gampong Pande serta data-data semua situs-situs yang telah dihilangkan agar dapat dipulihkan kembali. “Apapun kejadiannya, faktanya Belandalah yang pertama kali merusak peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam,” tegasnya.

Peusaba juga meminta Belanda mengembalikan peta-peta Kesultanan Aceh yang dirampas dan semua peninggalan penting lainnya, untuk menata kembali kawasan Aceh yang bersejarah. “Belanda harus mematuhi aturan Internasional agar memulihkan kawasan bersejarah yang telah mereka hancurkan dan menata kembali seperti semula,” lanjutnya mengingatkan.

Kami mendapatkan Informasi akurat, sambungnya bahwa beberapa keturunan Belanda memegang jabatan penting di Aceh. Dalam sebuah diskusi Zoom, ada seorang pimpinan bidang pelestarian budaya Aceh yang mengaku dengan bangga sebagai keturunan Nyai Belanda.

Baca Juga:  Indonesia Sudah Berada dalam AFTA, Banjir TKA Dinilai Hal Biasa

Peusaba juga memperoleh informasi valid bahwa banyak keturunan Belanda yang berdiam dan memiliki jabatan dan sering menghalang-halangi penyelamatan situs sejarah. Maka Peusaba meminta Pemerintah Belanda agar menegur anak cucu keturunan Belanda di Aceh untuk mematuhi sistem yang berjalan di Aceh dan tidak menghalangi perlindungan situs sejarah.

Peusaba meminta keturunan Belanda di Aceh agar jangan menghalangi penyelamatan situs sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Seperti orang Aceh yang tidak mengganggu makam Belanda. “Buktinya orang Aceh tidak menggangu makam Kherkhof yang ada dikawasan Taman Medan Khayali tempat Pangeran dan Sultan berlatih kuda,” jelasnya. (ed. Banyu)

Sumber: Mawardi Usman, Ketua Peusaba Aceh

Loading...

Terpopuler